Asian Development Bank. Foto: AFP.
Asian Development Bank. Foto: AFP.

Janji Asian Development Bank untuk Atasi Krisis Sri Lanka, Apa Tuh?

Arif Wicaksono • 27 September 2022 21:24
Tokyo: Asian Development Bank (ADB) siap memberikan dukungan keuangan lebih lanjut kepada Sri Lanka saat negara Samudra Hindia itu memerangi krisis ekonomi terburuknya dalam lebih dari tujuh dekade.
 
baca juga: Wow! Inflasi Sri Lanka Melonjak 70,2% di Agustus

Pernyataan itu muncul setelah pakta ADB bulan ini untuk pinjaman darurat sebesar USD200 juta untuk memastikan akses ke makanan dan melindungi mata pencaharian setelah berbulan-bulan kekurangan barang-barang penting utama yang memicu protes yang memaksa presiden keluar.
 
"Sebagai mitra utama jangka panjang, ADB siap memberikan dukungan lebih lanjut," ujar Presiden ADB Masatsugu Asakawa dikutip dari Channel News Asia, Selasa, 27 September 2022.
 
Ekonomi Sri Lanka telah berkontraksi dan menderita inflasi yang sangat tinggi yang sangat mempengaruhi standar hidup. Angka tahunan melebihi 70 persen pada bulan Agustus.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Jadi kami bekerja sama dengan pemerintah dalam mendukung negara di masa yang penuh tantangan ini," tambahnya.
 
Asakawa yakin Kolombo sedang bekerja untuk menyelesaikan kesepakatan tingkat staf dengan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk pinjaman sekitar USD2,9 miliar, dengan mencari jaminan pembiayaan dari kreditur, di antara langkah-langkah lainnya.
 
"Setelah program IMF selesai, kami akan mempertimbangkan untuk bergabung dengan yang lain, dengan menyediakan sumber daya keuangan tambahan untuk bergabung dengan paket penyelamatan lain untuk Sri Lanka," kata Asakawa.
 
Asakawa menunjuk pada risiko arus keluar modal yang tiba-tiba dari Asia dan prospek depresiasi mata uang yang sangat tajam yang berlanjut untuk beberapa waktu, karena bank sentral AS memperketat kebijakan moneter secara agresif.
 
Namun, Asia telah menjadi lebih tahan terhadap gejolak keuangan, dengan neraca transaksi berjalan yang lebih baik dan akumulasi cadangan devisa yang cukup, daripada selama krisis keuangan Asia pada akhir 1990-an.
 
"Namun pergerakan modal portofolio sangat cepat dan fluktuatif, Selalu merupakan hal yang baik untuk sangat waspada terhadap pergerakan modal yang lebih luas ini," tambahnya.
 
“Saya juga berusaha meningkatkan kerja sama keuangan regional kita, termasuk ASEAN+3,” katanya, merujuk pada pengelompokan Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan dengan negara-negara Asia Tenggara," jelas dia.
 
(SAW)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif