Emas Dunia. Foto: Unsplash.
Emas Dunia. Foto: Unsplash.

Deretan Faktor yang Mendorong Harga Emas Dunia Tembus USD5.000 per Ons

Arif Wicaksono • 28 Januari 2026 10:15
Jakarta: Harga emas memasuki fase historis. Untuk pertama kalinya, harga emas global menembus level USD5.000 per troy ons, setara sekitar Rp84,9 juta, sementara di dalam negeri harga emas batangan melonjak hingga menembus Rp3.000.000 per gram. 
 
Lonjakan tajam ini bukan terjadi tanpa sebab sejumlah faktor struktural dan sentimen global saling bertemu dalam waktu bersamaan.
 
Baca juga: Emas Bertahan Kuat Meski Sentimen Geopolitik Sedikit Mendingin

Menurut Joseph Cavatoni, Senior Markets Strategist & Head of Public Policy (Americas) dari World Gold Council, kenaikan ini mencerminkan perubahan besar dalam cara investor memandang emas sebagai aset strategis.
 
Salah satu pendorong terkuat datang dari reposisi portofolio investor global. Investor yang selama ini memiliki alokasi emas relatif kecil kini mulai meninjau ulang asumsi mereka seiring meningkatnya kebutuhan akan aset lindung nilai.

“Investor yang sebelumnya underweight terhadap emas kini kembali masuk. Realokasi ini terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan oleh banyak model valuasi tradisional,” ujar Cavatoni. 
 
Pergeseran alokasi tersebut mendorong permintaan emas melonjak dalam waktu singkat,
menekan pasokan dan mengerek harga.
 
Faktor kedua adalah ketidakpastian geopolitik yang berlarut-larut dengan dinamika kebijakan global yang semakin sulit diprediksi. Kondisi ini memperkuat peran emas sebagai aset defensif di tengah kekhawatiran pasar terhadap stabilitas ekonomi dan politik global.
 
Dalam 30 hari terakhir saja, harga emas tercatat melonjak lebih dari USD500. Lonjakan ini mencerminkan betapa cepatnya sentimen pasar berubah ketika risiko global meningkat, meski disertai volatilitas jangka pendek yang lebih tinggi.
 
Kenaikan harga emas juga didorong oleh kebutuhan diversifikasi dan ketahanan portofolio. Di tengah ketidakpastian arah suku bunga, kebijakan fiskal yang agresif, serta risiko ekonomi global, emas kembali dipandang sebagai jangkar stabilitas.
 
Cavatoni menilai reli ini bukan sekadar spekulasi berlebihan, melainkan refleksi dari adaptasi pasar terhadap era harga emas yang lebih tinggi dalam jangka panjang.

Faktor yang Bisa Menahan Laju Kenaikan

Meski demikian, terdapat sejumlah faktor yang berpotensi menahan momentum emas ke depan. Di antaranya adalah membaiknya sentimen risiko global, penguatan pertumbuhan ekonomi tanpa ketegangan geopolitik, kenaikan suku bunga, atau penguatan dolar AS yang berkelanjutan.
 
“Jika kepastian jalur pertumbuhan meningkat dan kepercayaan terhadap koordinasi kebijakan pulih, urgensi terhadap aset defensif seperti emas bisa berkurang,” jelas Cavatoni. Namun, hingga saat ini, belum terlihat sinyal kuat ke arah tersebut.
 
Jika kondisi ketidakpastian tinggi, kebijakan yang disruptif, serta kebutuhan diversifikasi tetap bertahan, emas diperkirakan akan bertahan di atas level tertinggi sebelumnya dan terus menguji rekor baru hingga 2026.
 
Namun, laju kenaikan menjadi kunci fundamental harga emas. Kenaikan bertahap dinilai lebih berkelanjutan dibanding lonjakan terlalu cepat. Koreksi jangka pendek atau fase konsolidasi justru dipandang sehat dan dapat memperkuat fondasi harga emas pada level yang lebih tinggi dalam jangka panjang. 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan