Pada perdagangan Rabu, 21 Januari 2026, waktu Amerika Utara, emas sempat terkoreksi dari rekor tertinggi terbarunya di kisaran USD4.888 per troy ons, namun tetap mampu ditutup menguat sekitar 0,25% di area USD4.772.
Penguatan ini terjadi di tengah respons pasar terhadap pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menegaskan bahwa penggunaan kekuatan militer dalam isu Greenland bukan menjadi pilihan.
Pernyataan tersebut memang menurunkan eskalasi ketegangan untuk sementara waktu dan memicu aksi ambil untung jangka pendek.
Namun, emas terbukti masih diminati sebagai aset lindung nilai, mencerminkan kehati-hatian investor terhadap risiko global yang belum sepenuhnya mereda.
Dari sisi teknikal, analis Dupoin Futures Andy Nugraha menilai struktur pergerakan harga emas masih sangat konstruktif.
Sinyal dari pola candlestick serta indikator Moving Average menunjukkan tren naik XAU/USD tetap terjaga. Selama harga bergerak di atas area rata-rata pergerakan utama, dominasi buyer dinilai belum terganggu meskipun terjadi koreksi ringan dari puncak harga.
Andy menambahkan, selama emas mampu bertahan di atas zona support krusial, bias pasar masih mengarah ke kelanjutan penguatan.
Dalam skenario bullish, emas berpeluang kembali menguji area psikologis USD4.900. Sebaliknya, jika momentum melemah, koreksi teknikal dapat membawa harga mendekati area USD4.756 sebagai support terdekat.
Sementara itu, dari sisi fundamental, pergerakan emas juga dipengaruhi perkembangan terbaru kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Pada perdagangan Asia Kamis, harga emas sempat memangkas sebagian kenaikannya dan bergerak di sekitar USD4.790, setelah Trump menarik kembali ancaman tarif terhadap Eropa dan mengumumkan adanya kerangka kesepakatan terkait Greenland.
Bloomberg melaporkan Amerika Serikat dan NATO telah menyusun kerangka kerja jangka panjang mengenai wilayah tersebut.
Langkah ini memunculkan harapan solusi diplomatik dan sempat mengurangi tekanan geopolitik di pasar keuangan, sehingga daya tarik emas sebagai aset safe-haven sedikit melemah dalam jangka pendek.
Meski demikian, pelaku pasar belum sepenuhnya yakin. Detail kesepakatan yang dimaksud belum diungkap, sementara sejumlah pejabat Eropa mengingatkan agar pelaku pasar tidak terburu-buru bersikap optimistis.
Menteri Keuangan Jerman, Lars Klingbeil, menilai potensi friksi antara AS dan Uni Eropa masih terbuka, sebuah kondisi yang dapat kembali menghidupkan permintaan terhadap emas.
Selain isu geopolitik, perhatian investor kini tertuju pada agenda data ekonomi Amerika Serikat, mulai dari rilis final Produk Domestik Bruto kuartal ketiga, klaim pengangguran mingguan, hingga data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE).
Data yang lebih lemah dari ekspektasi berpotensi menekan dolar AS dan memberikan ruang penguatan lanjutan bagi emas. Dari sisi kebijakan moneter, survei Reuters menunjukkan Federal Reserve diperkirakan akan menahan suku bunga pada pertemuan akhir Januari.
Namun, pelaku pasar masih memperhitungkan peluang setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga ke depan. Isu independensi bank sentral AS, seiring meningkatnya tekanan politik terhadap Ketua The Fed Jerome Powell, turut menambah lapisan ketidakpastian di pasar.
Dengan latar teknikal yang masih mendukung dan fundamental global yang sarat risiko, Andy Nugraha menilai emas masih memiliki ruang untuk mempertahankan tren naiknya.
Selama ketidakpastian geopolitik dan tekanan terhadap dolar AS belum benar-benar mereda, emas diperkirakan tetap menjadi aset pilihan investor untuk menjaga stabilitas nilai portofolio.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News