Emas spot (XAU/USD) bergerak fluktuatif dalam beberapa sesi terakhir. Pada perdagangan Jumat (16/1), harga emas terkoreksi lebih dari 0,7% seiring investor merealisasikan keuntungan setelah reli dua pekan berturut-turut.
Tekanan jual juga datang dari rilis data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja lebih solid dari perkiraan. Data tersebut memicu perubahan ekspektasi pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve.
Pasar swap dan kontrak berjangka mulai mengurangi proyeksi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. Ekspektasi penurunan suku bunga yang sebelumnya diperkirakan bisa terjadi lebih cepat kini bergeser, mencerminkan pandangan bahwa The Fed akan tetap berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneternya.
Meski demikian, tekanan terhadap emas dinilai masih terbatas. Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, menilai dari sisi teknikal, struktur pergerakan harga justru memperlihatkan penguatan tren bullish. Posisi harga yang masih bertahan di atas indikator Moving Average utama menandakan dominasi minat beli masih cukup kuat di pasar.
Secara teknikal, Andy memperkirakan emas berpeluang melanjutkan kenaikan jika mampu menjaga momentum positif pada perdagangan hari ini. Target kenaikan terdekat diproyeksikan berada di area 4.750 dolar AS per troy ounce.
Sebaliknya, jika terjadi koreksi lanjutan, area 4.565 dolar AS dipandang sebagai level penopang penting yang perlu diperhatikan pelaku pasar.
Memasuki awal pekan, sentimen positif kembali mengangkat harga emas. Pada sesi Asia, Senin (19/1), XAU/USD melonjak dan menyentuh rekor tertinggi baru di kisaran 4.675 dolar AS per troy ounce. Lonjakan ini dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana pengenaan tarif terhadap sejumlah negara Eropa.
Trump berencana memberlakukan tarif sebesar 10% terhadap produk dari delapan negara Eropa, termasuk Denmark, Jerman, Prancis, hingga Inggris, mulai 1 Februari.
Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran akan potensi aksi balasan dari Uni Eropa, yang pada akhirnya mendorong investor kembali memburu aset lindung nilai seperti emas. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa para duta besar Uni Eropa telah mulai menyusun respons diplomatik sembari menyiapkan langkah antisipatif jika tarif tersebut benar-benar diterapkan.
Namun demikian, ruang penguatan emas tidak sepenuhnya tanpa hambatan. Dari sisi moneter, membaiknya indikator ekonomi AS, khususnya di sektor ketenagakerjaan, masih menjadi faktor penekan. Kontrak berjangka dana Fed kini memperkirakan pemangkasan suku bunga baru akan terjadi pada pertengahan hingga paruh kedua tahun ini.
Kondisi tersebut berpotensi menopang penguatan dolar AS serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah, yang secara historis kurang bersahabat bagi harga emas.
Secara keseluruhan, Andy menilai pergerakan emas ke depan masih akan diwarnai volatilitas tinggi. Ketegangan geopolitik berpotensi menjaga minat terhadap emas tetap kuat, namun dinamika kebijakan moneter AS dan pergerakan dolar akan menjadi faktor penentu apakah reli emas dapat berlanjut secara berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News