Pada penutupan perdagangan Jumat, emas (XAU/USD) bergerak di area USD4.507 per troy ounce, naik sekitar 0,65 persen dan mencatatkan kenaikan mingguan hampir 4 persen. Performa solid ini mencerminkan respons pasar terhadap kombinasi ketidakpastian global dan sinyal ekonomi Amerika Serikat yang belum sepenuhnya konsisten.
Menurut analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, dari sisi teknikal emas masih berada dalam struktur tren naik yang kokoh. Pola candlestick yang terbentuk serta posisi indikator Moving Average yang tetap berada di zona positif menunjukkan bahwa tekanan beli masih mendominasi pergerakan harga.
Meski harga emas telah menembus wilayah tertinggi sepanjang masa, Andy menilai momentum bullish belum sepenuhnya mereda. Selama harga mampu bertahan di atas area support jangka pendek, potensi kelanjutan tren naik masih terbuka lebar.
Dalam proyeksi jangka pendek, emas berpeluang menguji level psikologis US$4.600, yang menjadi target penting bagi kelanjutan reli. Namun demikian, ia juga mengingatkan bahwa kenaikan tajam dalam waktu singkat meningkatkan risiko koreksi. Apabila terjadi pelemahan, area US$4.536 dipandang sebagai zona penyangga terdekat yang berpotensi meredam tekanan jual.
Dari sisi fundamental, penguatan emas mendapat sokongan kuat dari meningkatnya permintaan aset aman di tengah eskalasi ketegangan geopolitik.
Pada sesi Asia, Senin (12/1), harga emas sempat mencetak rekor baru di sekitar US$4.555 per troy ounce. Sentimen risiko global meningkat setelah muncul laporan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump mempertimbangkan langkah militer terhadap Iran, menyusul rangkaian protes berdarah yang terjadi di negara tersebut.
Ketegangan global juga meluas ke kawasan lain. Inggris dan Jerman dilaporkan tengah mendiskusikan penguatan kehadiran militer di Greenland sebagai respons atas dinamika keamanan Arktik.
Situasi ini diperumit oleh kabar penangkapan mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan AS, yang semakin menambah kompleksitas geopolitik global. Kondisi tersebut mendorong investor kembali melirik emas sebagai instrumen lindung nilai.
Selain faktor geopolitik, arah kebijakan moneter AS tetap menjadi katalis utama pergerakan harga emas. Data ketenagakerjaan AS terbaru menunjukkan gambaran yang tidak sepenuhnya solid.
Pertumbuhan Nonfarm Payrolls pada Desember tercatat sekitar 50.000, lebih rendah dari ekspektasi pasar, meski tingkat pengangguran justru turun ke 4,4 persen. Data ini menimbulkan persepsi bahwa pasar tenaga kerja masih bertahan, namun laju ekonomi mulai kehilangan momentum.
Situasi tersebut memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan moneternya tahun ini. Ekspektasi penurunan suku bunga berpotensi menekan imbal hasil riil, sehingga meningkatkan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang bergerak relatif datar di kisaran 4,17 persen turut menciptakan ruang bagi emas untuk bertahan di level tinggi. Dengan latar belakang ini, Andy Nugraha menilai bias bullish emas masih terjaga dalam jangka pendek hingga menengah.
Meski demikian, pasar tetap perlu mencermati rilis data inflasi AS, khususnya Indeks Harga Konsumen (CPI), yang akan menjadi penentu arah kebijakan The Fed ke depan. Selama tekanan inflasi tidak kembali melonjak, emas diperkirakan masih berada dalam jalur penguatan, dengan volatilitas yang tetap tinggi seiring tarik-menarik antara sentimen risiko global dan ekspektasi kebijakan moneter.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News