"Hal ini mendesak negara-negara untuk menghindari fragmentasi ekonomi yang disebabkan oleh ketegangan geopolitik serta mendorong untuk mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan produktivitas," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, Senin, 10 April 2023.
IMF melihat ekonomi dunia berkembang sekitar tiga persen selama lima tahun ke depan. Musabab utamanya, karena adanya kenaikan tingkat suku bunga yang memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi.
Ini merupakan pertumbuhan jangka menengah yang terendah sejak 1990, bahkan kurang dari rata-rata lima tahun terakhir sebesar 3,8 persen dan dalam dua dekade terakhir.
Untuk 2023, pertumbuhan ekonomi kemungkinan akan berada di bawah tiga persen, sejalan dengan proyeksi IMF yang hanya berkisar 2,9 persen.
Ekonomi negara maju melambat
IMF juga mengatakan, pertumbuhan ekonomi pada 90 persen ekonomi negara maju akan melambat tahun ini, karena kebijakan moneter yang lebih ketat membebani permintaan dan memperlambat aktivitas ekonomi di Amerika dan Eropa.
"Penjelasan lebih detail akan disampaikan oleh IMF pada 11 April 2023. Sejauh ini kami setuju dengan yang disampaikan oleh IMF, karena perlambatan ekonomi global juga merupakan salah satu yang kami sampaikan sejak awal tahun ini," kata Nico.
Invasi antara Rusia terhadap Ukraina telah memperburuk krisis inflasi global dan mendorong krisis pangan di seluruh dunia. Ekonomi dunia secara keseluruhan saat ini terlihat tidak mampu menopang negara lain yang mengalami perlemahan.
Untuk negara-negara di kawasan Asia, beberapa negara emerging market seperti India dan Tiongkok akan memberikan kontribusi setengah dari ekspansi global. Namun negara-negara berpenghasilan rendah akan kembali mengalami penurunan karena melemahnya permintaan ekspor yang mereka miliki.
Sehingga pertumbuhan pendapatan per kapita mereka tetap di bawah ekonomi negara berkembang. Meski pertumbuhan ekonomi terlihat suram, inflasi yang tinggi mendorong Bank Sentral juga menaikkan tingkat suku bunga.
| Baca juga: Mendag Zulkifli Hasan Minta Indonesia Ciptakan Peluang Usaha di Pasar Domestik dan Global |
Seimbangkan inflasi dan sistem keuangan
Selama gejolak stabilitas keuangan terbatas, langkah ini akan memberikan ketenangan bagi pasar. Pasalnya, jika sistem perbankan tidak stabil, para pembuat kebijakan akan menghadapi situasi dan kondisi yang lebih rumit, karena mereka harus memilih antara inflasi dan stabilitas sistem keuangan.
"Saat ini situasi dan kondisinya menurut kami masih dengan inflasi yang tinggi, kenaikan tingkat suku bunga, krisis pangan dan energi, dan perlambatan ekonomi global. Semua ini akan membuat pemulihan ekonomi menjadi sesuatu yang sulit dipahami," kata Nico.
Hal tersebut telah merugikan semua negara, khususnya yang paling rentan. Ketegangan antara Amerika dan Tiongkok juga berisiko merusak tatanan ekonomi global, sehingga investasi asing dan modal lainnya disalurkan kepada blok negara yang lain yang lebih selaras.
Interupsi perdagangan teknologi makin memperparah
Fragmentasi perdagangan jangka panjang, pembatasan migrasi, termasuk aliran modal dan kerja sama internasional dapat memangkas pertumbuhan ekonomi global hingga tujuh persen.
Belum lagi apabila ada interupsi terhadap perdagangan teknologi, dapat menyebabkan kerugian sebesar 12 persen dari pertumbuhan ekonomi di beberapa negara.
"IMF meminta negara negara untuk bersikap pragmatis dalam memperkuat rantai pasokan global. IMF juga meminta keringanan utang kepada negara negara yang tertekan," kata Nico.
*Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id*
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
Viral! 18 Kampus ternama memberikan beasiswa full sampai lulus untuk S1 dan S2 di Beasiswa OSC. Info lebih lengkap klik : osc.medcom.id