Bitcoin. Foto: Unsplash.
Bitcoin. Foto: Unsplash.

Bitcoin Melonjak di Tengah Harapan Damai Perang Timur Tengah

Arif Wicaksono • 08 April 2026 18:21
Jakarta: Pasar global bergerak dalam dua arah yang kontras pagi ini.  Di satu sisi, Bitcoin melonjak agresif menembus level psikologis baru. 
 
Di sisi lain, harga minyak justru tergelincir tajam, mencerminkan perubahan sentimen yang sangat cepat di tengah ketegangan geopolitik.
 
Baca juga:  Masih Rapuh, BTC Hanya Naik Tipis

Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin mencatat kenaikan lebih dari 4% dan sempat menyentuh level US$72.760 sebelum stabil di kisaran US$71.685. 
 
Lonjakan ini tidak hanya mengangkat harga, tetapi juga memperkuat dominasi Bitcoin di pasar kripto ke level 59,25%. Total kapitalisasi pasar kripto pun ikut terdorong naik mendekati US$2,42 triliun.

Namun yang menarik, reli ini terjadi justru ketika dunia berada di ambang eskalasi konflik besar di Timur Tengah.
 
Pergerakan ekstrem ini dipicu oleh laporan media internasional menyebutkan adanya sinyal positif dari jalur diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran. 
 
Ini muncul di detik-detik terakhir sebelum tenggat ultimatum dari Presiden AS berakhir sebuah momen yang sebelumnya dibayangi retorika keras dan ancaman eskalasi militer besar.
 
Sinyal de-eskalasi ini langsung mengubah arah pasar secara drastis.
 
Aset berisiko seperti kripto melonjak karena investor mulai melihat peluang stabilitas, sementara minyak, yang sebelumnya terdorong oleh premi risiko perang, justru terkoreksi tajam hingga ke level US$91 per barel.
 
Dengan kata lain, pasar sedang melakukan repricing cepat terhadap kemungkinan terburuk yang tidak jadi terjadi.

“Smart Money” Masuk Saat Ketidakpastian Memuncak

Di balik lonjakan Bitcoin, ada satu faktor penting: pergerakan investor institusional.
Perusahaan Micro Strategy kembali menunjukkan keyakinannya terhadap Bitcoin dengan membeli hampir 5.000 BTC senilai sekitar US$330 juta. 
 
Dengan aksi ini, total kepemilikan mereka kini mendekati 767 ribu BTC, sebuah angka yang semakin mempertegas posisi mereka sebagai salah satu pemegang Bitcoin terbesar di dunia.
Tidak hanya itu, arus dana ke ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat juga menunjukkan lonjakan signifikan. 
 
Dalam satu hari, dana masuk (net inflow) mencapai US$471 juta, tertinggi dalam lebih dari sebulan terakhir dan termasuk salah satu yang terbesar sepanjang tahun ini.
 
Fenomena ini memperlihatkan pola klasik ketika ketidakpastian tinggi, investor ritel cenderung menunggu, sementara investor besar justru mulai masuk.

Rotasi Cepat

Penurunan tajam harga minyak juga menjadi sinyal penting. Selama beberapa hari terakhir, harga minyak sempat melonjak karena kekhawatiran gangguan pasokan global, terutama jika Selat Hormuz benar-benar ditutup. Namun begitu peluang konflik mereda, premi risiko tersebut langsung menguap.
 
Ini menciptakan rotasi cepat dari aset berbasis komoditas energi ke aset digital. Dalam konteks ini, Bitcoin kembali memainkan peran uniknya: bukan sekadar “emas digital”, tetapi juga aset spekulatif yang sangat sensitif terhadap perubahan likuiditas dan sentimen global.
 
Namun perlu dicatat: reli ini masih sangat bergantung pada perkembangan geopolitik. Jika negosiasi benar-benar menghasilkan kesepakatan konkret, tren bullish bisa berlanjut. Sebaliknya, jika situasi kembali memanas, volatilitas ekstrem hampir pasti akan kembali terjadi.
Apa yang terjadi hari ini menegaskan satu hal: pasar tidak menunggu kepastian, melainkan bergerak berdasarkan ekspektasi.
 
Bitcoin naik bukan karena perang selesai, tetapi karena kemungkinan perang besar mulai mengecil. Sebaliknya, minyak turun bukan karena suplai bertambah, tetapi karena risiko gangguan mulai mereda.
 
Di era seperti sekarang, harga bukan lagi sekadar refleksi kondisi saat ini, melainkan cerminan dari apa yang diyakini akan terjadi selanjutnya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan