Berbagai gejolak yang datang akibat fenomena global kerap menganggu perjalanan rupiah untuk bergerak lebih stabil tahun ini. Sebut saja usai terjadinya referendum Inggris Raya untuk keluar dari Uni Eropa (Brexit), rupiah terkapar di level Rp13.300-an per USD.
Bank Indonesia (BI) meyakini jika pelemahan rupiah akibat Brexit tak akan berlangsung lama. Selain karena Brexit telah diantisipasi, bank sentral juga menilai jika perdagangan Indonesia dengan Inggris tidak terlalu besar.
baca : Mengenal 10 Pahlawan di Uang Rupiah Baru
"Brexit, kami melihatnya undercontrol dan manageable, karena perdagangan Indonesia-Inggris jumlahnya kecil. Yang harus pantau lebih lanjut apakah ada second round impact dari Brexit," kata Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara, diberitakan Minggu (11/12/2016).
Dirinya menambahkan, dampak daripada Brexit tak akan separah krisis global di 2008 lalu. Pasalnya, gejolak yang ditimbulkan dari Brexit hanya bersifat sementara sehingga tak akan menganggu perekonomian global.
"Gejolak keuangan sempat terasa di Asia, tapi itu sifatnya temporer. Karena menurut kami berbeda antara supreme mortgage dengan Brexit," jelas Mirza.
Usai Brexit, volatilitas rupiah cenderung lebih stabil. Namun jelang akhir tahun, badai eksternal kembali menghantui rupiah.Ini dibuktikan usai terpilihnya Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggalahkan rivalnya yakni Hillary Clinton.
baca : Merekam Sejarah dan Kedaulatan Rupiah di Indonesia
Gubernur BI Agus Martowardojo mengakui, sejak Trump menjadi presiden terpilih negara adi daya pada 9 November 2016 hingga 16 November 2016, rupiah telah mengalami depresiasi sebesar 2,3 persen.
"Sejak 8 November sampai 16 November memang rupiah terdepresiasi. Depresiasi rupiah sebesar 2,3 persen," kata Agus di kantor BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis 17 November.
Usai kemenangan Trump, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) sempat menyentuh level Rp13.838 per USD. Padahal pada pembukaan perdagangan paginya, rupiah berada di posisi Rp13.394 per USD. Meskipun demikian, rupiah secara year to date (ytd) masih mengalami apresiasi.
"Kita lihat bahwa betul sejak 8 November sampai sekarang ada kondisi depresiasi, tapi secara year to date kita masih ada apresiasi. BI hadir di pasar dan kita juga respons dengan kita meyakinkan bahwa terjadi stabilitas pasar keuangan," tegas Agus.
Meskipun telah berhasil melalui kedua hantaman tadi, rupiah masih akan dihadapkan pada tekanan seiring bakal dinaikannya tingkat suku bunga oleh The Fed. Tetapi dengan prediksi yang lebih dini, pelaku pasar dinilai sudah price in dengan kemungkinan kenaikan Fed Fund Rate (FFR).
"Sepertinya ketidakpastian ini sudah menjadi pasti. Desember ini suku bunga akan naik menjadi 0,5 persen. The second rate, the third rate akan terjadi secara gradual," pungkas Mirza.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News