Presiden Direktur Sampoerna Vassilis Gkatzelis. foto: Sampoerna.
Presiden Direktur Sampoerna Vassilis Gkatzelis. foto: Sampoerna.

Ekspansi Bisnis Sampoerna Kembangkan Produk Tembakau Alternatif Bebas Asap

Arif Wicaksono • 01 Desember 2022 16:49
Jakarta: Sains dan teknologi memiliki potensi untuk memberikan dampak positif bagi lingkungan serta masyarakat. Terdapat banyak contoh produk maupun jasa inovatif yang menawarkan alternatif yang lebih baik bagi kehidupan sehari-hari sebagai hasil dari perkembangan ilmu pengetahuan.
 
Sejalan dengan itu, produk tembakau alternatif bebas asap perlu berbasis bukti ilmiah sehingga dapat menjadi alternatif yang lebih baik kepada perokok dewasa. Philip Morris International (PMI), perusahaan induk PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) menyadari betul hal tersebut sehingga sains dan teknologi selalu menjadi tulang punggung dalam setiap tahapan inovasinya.
 
baca juga: Pemerintah Diminta Mengubah Cara Mengendalikan Tembakau

Presiden Direktur Sampoerna Vassilis Gkatzelis menuturkan komitmen inovasi berbasis bukti itu terwujud dalam pengembangan produk tembakau alternatif bebas asap yang melibatkan ilmuwan dan engineers sejak tahap awal.
 
"Kami melibatkan lebih dari 900 peneliti, engineers, dan aktor perubahan untuk mewujudkannya," tutur Vassilis dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 1 Desember 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Proses pengembangan tersebut mengerucut pada produk tembakau alternatif bebas asap. PMI secara total menginvestasikan lebih dari USD9 miliar untuk melakukan riset sebelum mengomersialisasikannya.
 
Lewat serangkaian proses riset, PMI menemukan meskipun nikotin tidak bebas risiko, tetapi senyawa alami yang dikandung tembakau ini bukan merupakan penyebab utama penyakit terkait merokok.
 
Oleh karena itu, penghantaran nikotin dapat dilakukan dengan cara lain yang tidak melibatkan proses pembakaran seperti halnya rokok. Ketiadaan proses pembakaran dapat mengurangi 90-95 persen paparan zat berbahaya dan berpotensi berbahaya ketimbang rokok.
 
PMI, dalam proses pengembangan, juga melakukan riset pengguna sehingga para perokok dewasa tertarik beralih dan mendapatkan kepuasan yang sama seperti ketika mengonsumsi rokok sehingga produk benar-benar dapat diterima. Hasil riset dan inovasi itu salah satunya adalah IQOS.
 
"Dengan perangkat ini, tembakau dipanaskan, bukan dibakar," terangnya.
 
Dia menjelaskan pemanasan dengan perangkat IQOS berlangsung hingga mencapai suhu 350 celsius.
 
"Lewat proses ini, tidak ada asap, api, maupun abu yang dihasilkan," jelas dia.
 
Inovasi itu berbuah hasil yang baik. Pada 2020, Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat, mengizinkan pemasaran IQOS sebagai produk tembakau dengan risiko yang dimodifikasi (Modified Risk Tobacco Product/MRTP) dengan informasi pengurangan paparan.
 
"Kami menyetor dokumen lebih dari seribu halaman berisi data klinis, nonklinis, riset konsumen, dan kimia untuk mendapatkannya," terang Vassilis.
 
Komersialisasi IQOS yang dimulai dari peluncuran awal pada 2014 di Italia dimulai setelah riset dilakukan secara menyeluruh. Kini, IQOS telah dipasarkan di 70 pasar di seluruh dunia. Indonesia juga menjadi fasilitas produksi batang tembakau untuk IQOS dengan merek HEETS di Karawang, Jawa Barat, sejak November tahun ini.
 
IQOS yang ada saat ini bukan akhir inovasi Sampoerna. Vassilis mengatakan Sampoerna akan terus berkomitmen untuk memajukan sains dan teknologi untuk memberikan produk tembakau alternatif bebas asap yang lebih baik.
 
"Bahkan jika itu mendisrupsi bisnis kami sendiri," tegas dia.
 
 Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id.
 
(SAW)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif