Menara BNI. Foto: Dokumen BNI
Menara BNI. Foto: Dokumen BNI

Kredit Tumbuh 20%, BNI Cetak Laba Rp5,6 Triliun di Awal 2026

Annisa ayu artanti • 29 April 2026 15:19
Ringkasnya gini..
  • BNI raup laba bersih Rp5,6 triliun di kuartal I 2026 berkat pertumbuhan kredit 20,1% dan kenaikan dana murah (CASA) yang signifikan.
  • Melalui inisiatif BRAVE, BNI memperkuat jaringan operasional hingga ke tingkat cabang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Jakarta: Di tengah dinamika ekonomi global yang penuh kejutan, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI justru berhasil tancap gas di awal tahun 2026. 
 
Tak tanggung-tanggung, bank berlogo angka 46 ini sukses membukukan laba bersih hingga Rp5,6 triliun sepanjang kuartal I-2026 
 
“BNI terus menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta disiplin dalam pengelolaan risiko di tengah dinamika global yang penuh tantangan,” ujar Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan dalam keterangan resmi dilansir Antara, Rabu, 29 April 

CASA meningkat, dongkrak performa BNI

Menurut data BNI, pertumbuhan dana murah (CASA) mencapai 26,6 persen secara tahunan (YoY) menjadi Rp731,6 triliun pada Maret 2026 yang ditopang oleh pertumbuhan giro sebesar 39,7 persen (YoY) dan tabungan tumbuh 10,4 persen (YoY), yang memperkuat Dana Pihak Ketiga (DPK).

Dengan pertumbuhan CASA, penyaluran kredit BNI bertumbuh 20,1 persen (YoY) menjadi Rp919,3 triliun pada Maret 2026. Penyaluran kredit ini tumbuh seimbang di sisi perbankan bisnis dan ritel untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
 
Dengan pendanaan dan kredit itu, pertumbuhan pendapatan bunga bersih (NII) BNI tercatat sebesar 12,1 persen (YoY), sedangkan pendapatan non-bunga tumbuh 12,6 persen.
 
Putrama mengatakan capaian di kuartal I-2026 ini mencerminkan ketahanan model bisnis perseroan yang dibangun melalui penguatan fundamental, produktivitas, dan transformasi berkelanjutan.
 
Baca juga: Jangan Sampai Kena! Ini Tips dari BNI Agar Nasabah Terhindar dari Penipuan Online

Ia menjelaskan BNI juga memperkuat pondasi permodalan di tengah ketidakpastian global, dengan menerbitkan instrumen Additional Tier-1 (AT1) sebesar USD700 juta atau setara Rp11,9 triliun pada April 2026.
 
"Permodalan ini semakin meningkatkan kapasitas BNI dalam mengantisipasi potensi risiko sekaligus membuka ruang ekspansi bisnis secara berkelanjutan dan sehat di masa yang akan datang," kata Putrama.
 
Saat ini, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) BNI membaik menjadi 1,9 persen, Loan at Risk berada di level 8,6 persen atau sudah lebih baik dari level sebelum pandemi, serta biaya kredit di level 1,1 persen sesuai dengan panduan.
 
Adapun rasio kredit terhadap pembiayaan atau Loan to Deposit Ratio (LDR) BNI sebesar 83,5 persen serta rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) di level 18,5 persen, jauh di atas ketentuan regulator.

Transformasi 'BRAVE' hingga ke ujung negeri

BNI, kata Putrama, juga menjalankan transformasi bisnis yang difokuskan pada wilayah, area, dan cabang, melalui inisiatif BRAVE (Branch, Region, Area, Value, Empowerment).
 
Dengan semangat “empowerment”, transformasi ini bertujuan untuk meningkatkan kapabilitas jaringan BNI hingga ke unit operasional terkecil, yaitu memberdayakan kantor cabang dan kantor cabang pembantu.
 
Di samping itu, kata dia, BNI menegaskan perannya sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
 
Sejalan dengan prioritas pemerintah dan Asta Cita, kata Putrama, kontribusi tersebut difokuskan pada sektor pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, penguatan ekonomi desa, serta sektor riil.
 
Peran ini diwujudkan melalui pembiayaan yang terarah, penguatan layanan keuangan, dan optimalisasi digitalisasi agar program pembangunan berjalan efektif dan berdampak luas.

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan