Direktur Kepatuhan, SDM dan Manajemen Risiko Askrindo, R. Mahelan Prabantarikso, mengatakan pertumbuhan tersebut menunjukkan momentum bisnis perusahaan tetap terjaga di tengah dinamika industri asuransi.
“Kami memastikan bahwa pertumbuhan yang dicapai bukan hanya cepat, tetapi juga berkualitas. Fokus kami adalah menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan disiplin risiko,” ujar Mahelan.
Selain premi, laba perusahaan juga tercatat meningkat sebesar 77 persen secara tahunan pada kuartal I-2026.
Askrindo perkuat manajemen risiko
Menurut Mahelan, kinerja perusahaan didukung penguatan tata kelola, efisiensi operasional, serta peningkatan kualitas underwriting.Askrindo juga terus memperkuat manajemen risiko secara menyeluruh, mulai dari proses underwriting hingga pengelolaan klaim dan recovery.
Perusahaan mengoptimalkan pemanfaatan data dan teknologi dalam proses bisnis untuk menjaga kualitas portofolio tetap sehat dan berkelanjutan.
“Kami membangun pendekatan mitigasi risiko secara end-to-end, dengan mengoptimalkan pemanfaatan data dan teknologi dalam underwriting,” jelasnya.
Perkuat dukungan pembiayaan UMKM
Penerima manfaat KUR Seno Sudono. Foto: Askrindo
Dalam mendukung sektor produktif, Askrindo terus memperkuat peran pada program Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Sejak 2007 hingga triwulan I-2026, akumulasi nilai pertanggungan KUR yang dijamin Askrindo mencapai Rp810,3 triliun dengan lebih dari 36,8 juta debitur UMKM.
Menurut perusahaan, capaian tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses pembiayaan sekaligus mendukung inklusi keuangan nasional.
Salah satu penerima manfaat program tersebut adalah pelaku usaha mebel asal Semarang, Seno Sudono. Mantan atlet balap sepeda nasional yang pernah mengikuti Kejuaraan Balap Sepeda Tim Indonesia di Switzerland pada Agustus 1978 itu kini mengembangkan usaha mebel berbahan kayu jati.
Seno mengaku usaha mebel mengalami tantangan berat setelah pandemi Covid-19 karena permintaan pasar sempat menurun.
“Yang susah sekarang order sedikit. Yang pesan biasanya orang-orang yang memang senang kayu jati,” ujarnya.
Dalam sebulan, omzet usahanya saat ini berkisar Rp30 juta, meski angka tersebut bisa meningkat jika mendapatkan proyek besar seperti pengerjaan pintu rumah, kitchen set, hingga interior masjid.
Menurut Seno, produk berbahan kayu jati masih memiliki pasar tersendiri, terutama untuk konsumen kelas menengah atas dan proyek bangunan premium.
Ia juga mengaku tetap mempertahankan para pekerjanya meski kondisi usaha sempat melambat setelah pandemi.
“Pokoknya kita itu intinya tidak memberhentikan karyawan,” katanya.
Saat ini usaha mebel miliknya mempekerjakan delapan orang pekerja dan menerima berbagai pesanan, mulai dari furnitur rumah hingga proyek masjid.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News