Ilustrasi Biodiesel. Foto: Dokumen Kementerian ESDM
Ilustrasi Biodiesel. Foto: Dokumen Kementerian ESDM

Pahami Istilah B20, B30, B35, dan B40 'Si Energi Bersih'

Annisa ayu artanti • 06 Januari 2023 13:22
Jakarta: Pemerintah terus menggalakkan penggunaan energi bersih, salah satunya penggunaan biodiesel dalam campuran Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar. Namun apakah kalian sudah mengetahui apa itu istilah biodiesel dan bioenergi?
 
Melansir berbagai sumber, Biodiesel termasuk dalam green fuel atau bahan bakar bersih dan ramah lingkungan. Di Indonesia, badan usaha milik negara PT Pertamina (Persero) sebenarnya telah menjualnya dengan nama dagang biosolar, yang mengandung biodiesel 30 persen.
 
Namun, pemerintah berencana untuk terus meningkatkan persentase campuran bahan bakar nabati berbasis minyak kelapa sawit, yaitu Fatty Acid Methyl Esters (FAME) untuk meningkatkan penyediaan energi bersih dan mengurangi impor solar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pemerintah mulai menerapkan secara bertahap, B20, B30, B35, dan B40 secara bertahap. Per 1 Februari 2023, implementasi B35 pun mulai diberlakukan.
 
Baca juga: Bahan Bakar Nabati B35 Mulai Digunakan 1 Februari 

Lantas, apa perbedaan antara B20, B30, B35, dan B40?
 
B20 adalah program Pemerintah yang mewajibkan pencampuran 20 persen biodiesel dengan 80 persen bahan bakar minyak jenis solar, yang menghasilkan produk biosolar B20.
 
Program ini mulai diberlakukan sejak Januari 2016 sesuai Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 12 tahun 2015 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Menteri ESDM nomor 32 tahun 2008 tentang Penyediaan, Pemanfaatan dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain.
 
B30 adalah program Pemerintah yang mewajibkan pencampuran 30 persen biodiesel dengan 70 persen bahan bakar minyak jenis solar, yang menghasilkan produk biosolar B30.
 
Program ini diberlakukan mulai Januari 2020 sesuai Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 12 tahun 2015 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Menteri ESDM nomor 32 tahun 2008 tentang Penyediaan, Pemanfaatan dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan B.
 
Sementara, B35 program pemerintah yang mewajibkan pencampuran 35 persen biodiesel dengan 65 persen bahan bakar minyak jenis solar, yang menghasilkan produk biosolar B35.
 
Melalui Surat Edaran Nomor 10.E/EK.05/DJE/2022 bahan bakar nabat B35 akan mulai diimplementasikan pada 1 Februari 2023.
 
Sedangkan, B40 merupakan program pemerintah yang mewajibkan pencampuran 40 persen biodiesel dengan 60 persen bahan bakar minyak jenis solar, yang menghasilkan produk biosolar B40.
 
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arfin tasrif mengatakan Indonesia merupakannegara pionier yang memanfaatkan biodiesel. Oleh karena itu, pencampuran biodiesel tidak akan berhenti di 30 persen tapi terus ditingkatkan hingga 40 persen.
 
Program B40 masih dalam serangkaian pengujian untuk mengetahui kualitas.
 
Tujuan Implementasi Program Mandatori BBN sebagai berikut:
  1. Memenuhi komitmen Pemerintah untuk mengurangi emisi GRK sebesar 29 persen dari BAU pada 2030.
  2. Meningkatkan ketahanan dan kemandirian energi.
  3. Stabilisasi harga CPO.
  4. Meningkatkan nilai tambah melalui hilirisasi industri kelapa sawit.
  5. Memenuhi target 23 persen kontribusi EBT dalam total energi mix pada 2025.
  6. Mengurangi konsumsi dan impor BBM.
  7. Mengurangi emisi GRK (Gas Rumah Kaca).
  8. Memperbaiki defisit neraca perdagangan.
 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id.
 
 
(ANN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif