Presiden Joko Widodo. Foto: dok MI/Panca Syurkani.
Presiden Joko Widodo. Foto: dok MI/Panca Syurkani.

Jadi yang Terbesar di Dunia, Berapa Cadangan Nikel Indonesia?

Ade Hapsari Lestarini • 11 Januari 2021 10:42
Jakarta: Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia. Hal ini membuat pemerintah pun fokus untuk mengembangkan industri hilir komoditas bijih nikel.
 
Lalu, berapa sebenarnya cadangan nikel Indonesia?
 
Jokowi menuturkan sebanyak 25 persen cadangan nikel di dunia, ada di Indonesia, jumlahnya kurang lebih 21 juta ton. "Indonesia mengontrol hampir 30 persen produksi nikel di dunia," kata Jokowi, dikutip dari Antara, Senin, 11 Januari 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Direktur Utama MIND ID Orias Petrus Moedak pada 13 Oktober 2020 lalu sempat mengatakan hal yang sama terkait posisi cadangan nikel yang dimiliki Indonesia.
 
Pascaakuisisi saham PT Vale Indonesia oleh Mining Industry Indonesia (MIND ID) atau Inalum, holding tambang BUMN itu menjadi pemegang cadangan nikel terbesar di Indonesia. Portofolio kepemilikan cadangan nikel di holding pun bertambah.
 
Orias merinci di PT Aneka Tambang (Antam), cadangan nikel yang ada sebesar 736,7 ribu ton di tambang Kolaka. Sedangkan di Tambang Maluku Utara ada 2,7 juta ton. Kemudian di tambang GAG ada 768,8 ribu ton.
 
Sementara di Konawe Utara ada 276,6 ribu ton, di Pomalaa milik Vale ada cadangan sebesar 2,8 juta ton serta di Sorowako ada 1,8 juta ton.
 
 
 

Manfaat nikel

Oleh karena itu, Indonesia juga perlu mengolah bijih nikel menjadi baterai litium yang dapat digunakan untuk ponsel dan mobil listrik.
 
Penciptaan sektor-sektor ekonomi baru dari rantai hulu ke hilir industri bijih nikel itu diyakini Presiden Jokowi akan menimbulkan banyak lapangan kerja.
 
Jika berhasil menjadi produsen baterai litium, kata dia, maka Indonesia akan menjadi pemain penting dalam rantai industri mobil listrik dunia.
 
Menurut Orias, dengan potensi penguasaan cadangan maka amat penting bagi holding untuk melakukan hilirisasi dan tidak hanya menambang kemudian langsung diekspor dalam bentuk mentah. Sebab dengan hilirisasi, holding akan mampu menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi.
 
"Selama ini industri hilir kita di nikel belum sampai pada hasil akhir. Padahal ini diharapkan banyak alternatif. Jadi, daripada kita juga harus impor lagi, harus ada pengembangan hasil akhir dari nikel ini," jelas Orias, beberapa waktu lalu.
 
(AHL)
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif