Ilustrasi. Foto: Dokumentasi Gojek.
Ilustrasi. Foto: Dokumentasi Gojek.

Daya Beli Masih Lemah, Kenaikan Tarif Ojol Dikhawatirkan Bikin Orderan Sepi

Husen Miftahudin • 19 Agustus 2022 14:39
Jakarta: Kebijakan mengenai tarif transportasi online yang akan dinaikkan pada akhir bulan ini terus menuai protes. Sejumlah pengemudi ojek online (ojol) menilai kenaikan tarif yang akan diberlakukan pada 29 Agustus nanti, dipastikan akan semakin mempersulit mereka mendapat penumpang.
 
Meski ada nada optimistis dengan kenaikan tarif, tetapi sejumlah pengemudi ojek online lebih khawatir kebijakan tersebut justru akan kontradiktif dan berimbas negatif ke pengemudi karena konsumen akan berpikir ulang jika ingin menggunakan jasa ojek online.
 
Asep Hermawan (38), salah satu driver ojek online, menilai kenaikan bisa berdampak pada penurunan jumlah pelanggan, yang pada akhirnya malah mengurangi pendapatan harian.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kondisi saat ini mencari penumpang saja sulit, apalagi dinaikkan. Mencari penumpang saja kadang kita merasa diatur. Mestinya kebijakan pemerintah tidak aneh-aneh, normal saja lah," kata Asep yang sudah bekerja sebagai ojek online selama lima tahun, dalam keterangan tertulis, Jumat, 19 Agustus 2022.
 
Pria asal Kuningan, Jawa Barat, itu mengaku tak bisa berbuat banyak bila memang pemerintah menaikan tarif ojol. Hanya saja, dia meminta jaminan agar penumpang tidak pindah ke transportasi lain.
 
"Bisa tidak pemerintah menjamin? Kalau naik dampaknya ini lho, bisa-bisa semakin berkurang, sekarang saja semakin susah," keluh Asep, yang bercerita ia terkena PHK di salah satu pabrik hingga akhirnya bekerja sebagai ojek online.
 
Pengemudi ojek online lainnya, Winarto (40) mengatakan, berdasarkan pengalamannya pada 2020 ketika terjadi kenaikan tarif, orderan langsung menurun drastis. Penghasilannya juga kena imbas lantaran jarang mendapat order.
 
Ia khawatir, dengan kenaikan tarif di tengah kenaikan harga-harga akan membuat konsumen makin jarang menggunakan layanan ojek online. Sekarang, jika tarif bakal naik lagi di saat kondisi ekonomi masih banyak kenaikan harga-harga, maka dipastikan permintaan konsumen juga akan semakin turun.  
 
"Kita lihat pada 2020 kemarin, naiknya tarif itu berdampak banget, kondisi sekarang lagi begini ya, masak mau naik lagi," tegasnya.
 
Belum lagi, kata dia, kenaikan ini menjadi pertimbangan bagi para penumpang yang dinilai akan memperhitungkan kembali biaya yang harus mereka bayar, baik untuk biaya pesanan perjalanan maupun biaya pesanan makanan.
 
"Kenaikan, memang itu baik buat pendapatan kami juga, tapi ya kalau dihitung naik atau tidak kan kita kembali kepada penumpang atau pemesan (makanan). Pendapatan ujungnya sama saja, tapi tidak ada jaminan juga akan naik," cetus dia.
 
Baca juga: Miris! Kenaikan Tarif Ojol Tak Selalu Diikuti Kesejahteraan Driver

 
Winarto berharap, seharusnya diciptakan mekanisme yang bisa mendongkrak permintaan dari konsumen. Kenaikan tarif, jangan sampai kemudian membuat orderan sepi. Sehingga, kenaikan tarif yang ide awalnya bagus untuk driver, tapi di lapangan kondisi sebaliknya, orderan semakin sepi.
 
"Kenaikan tarif, seharusnya meningkatkan pengguna, bukan malah sebaliknya malah sepi orderan. Pemerintah harus menjamin itu dulu yah, biar clear," tegas Winarto.  
 
Kenaikan tarif ojol diatur melalui Keputusan Menteri (KM) Perhubungan Nomor KP 564 Tahun 2022 tentang Pedoman Perhitungan Biaya Jasa Penggunaan Sepeda Motor yang Digunakan untuk Kepentingan Masyarakat yang Dilakukan dengan Aplikasi. Keputusan ini terbit pada 4 Agustus 2022.
 
Penerbitan regulasi in menggantikan KM Nomor KP 348 Tahun 2019 dan akan menjadi pedoman sementara bagi penetapan tarif atas dan tarif bawah ojol
 
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif