Hal itu mendorong industri pusat data untuk bertumbuh seiring kenaikan jumlah penyedia pusat data, tingginya permintaan terhadap pusat data lokal, dan investasi dari penyedia cloud berskala besar. Inisiasi pemerintah juga mempercepat pertumbuhan infrastruktur digital dan konektivitas yang lebih tinggi di Indonesia.
Semua itu berkontribusi pada meledaknya permintaan inovasi solusi pusat data yang membutuhkan efisiensi energi yang dapat diandalkan dan tanpa gangguan. Berangkat dari hal itu, ABB, perusahaan teknologi listrik dan automasi, siap melayani pelanggan industri dan utilitas, termasuk pusat data, melalui optimasi performa.
Upaya itu sekaligus memperkecil dampak lingkungan melalui solusi efisiensi energi. Adapun meningkatnya permintaan pasar akan internet dan media sosial, yang diestimasikan 29 juta pengguna, serta meledaknya sector e-commerce yang diperkirakan tumbuh 37 persen, penyedia pusat data tentunya sangat membutuhkan solusi bagi optimalisasi sistem tata udaranya.
| Baca: OJK Dorong Penguatan Pertahanan 3 Lapis di Industri Jasa Keuangan |
"(Sistem tata udara itu) dalam bentuk efisiensi energi dan proteksi daya," kata Vice President, Head of Local Business Area, Motion, ABB Indonesia Chen Kang Tan, dalam keterangan tertulisnya, Senin, 26 September 2022.
Ia menambahkan sistem tata kelola udara menjalankan fungsi yang sangat esensial bagi penyedia pusat data. "Karena berperan dalam mengendalikan udara, temperatur, dan kelembaban yang dibutuhkan dalam operasional server komputer untuk memberi daya pada internet," jelasnya.
Adapun saat ini pangsa pasar pusat data Indonesia cukup menjanjikan atau sebesar USD1,7 miliar dan diproyeksikan mencapai USD2,4 miliar pada 2027. Ditambah lagi, selama pandemi covid-19, adopsi cloud meningkat tajam di berbagai sektor industri, edukasi, dan layanan kesehatan termasuk badan usaha, kantor pemerintah, dan lembaga.
"ABB berupaya mempenetrasi industri pusat data dengan solusi tata udara," tukasnya.
Dirinya menjelaskan peralatan listrik termasuk yang terdapat pada pusat data mampu bekerja lebih baik dan efisien jika suplai daya listriknya bersih dan tanpa gangguan. Sementara jaringan daya listrik sangat rentan dipengaruhi oleh gangguan elektromagnet yang berkesinambungan maupun transien.
"Gangguan berkesinambungan yang paling umum terjadi dalam jaringan daya listrik adalah harmonisa. Harmonisa adalah polusi elektromagnetik yang kerap terjadi pada jaringan daya listrik, yang jika dibiarkan akan berujung pada distorsi pada gelombang tegangan," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News