Pemaparan Kinerja Perseroan Public Expose PT Merck Tbk 2026. Foto: Medcom / Wisa Irena Br SItepu
Pemaparan Kinerja Perseroan Public Expose PT Merck Tbk 2026. Foto: Medcom / Wisa Irena Br SItepu

80% Bahan Baku Merck Masih Impor, Ini Strategi Hadapi Geopolitik dan Lemahnya Rupiah

Annisa ayu artanti • 08 Oktober 2026 18:18
Ringkasnya gini..
  • Sekitar 80 persen bahan baku produk biopharma Merck masih berasal dari impor, terutama dari Perancis, Swiitzerland, dan Jerman.
  • Bahan baku produk P&G juga sekitar 75-80 persen berasal dari impor, terutama dari China, sehingga dinamika geopolitik menjadi perhatian perusahaan.
  • Merck mengelola risiko nilai tukar melalui hedging di level grup, transaksi intercompany dalam rupiah, serta natural hedging dari aktivitas ekspor.
Jakarta: Bisnis farmasi tidak hanya bergantung pada permintaan obat, tetapi juga pada rantai pasok bahan baku yang sebagian besar masih berasal dari luar negeri.

Kondisi tersebut juga dihadapi oleh PT Merck Tbk yang mengungkapkan sekitar 80 persen bahan baku untuk produk biopharma berasal dari impor dari beberap negara.

“Untuk produk-produk biopharma, mungkin 80 persen itu harus diimpor, utamanya dari Perancis, kemudian juga dari Switzerland untuk Cardio dan Jerman untuk produk-produk yang lainnya,” ujar Direktur PT Merck Tbk, Arryo Aritrixso Wachjuwidajat, dalam Pemaparan Kinerja Perseroan Public Expose PT Merck Tbk 2026 pada Kamis, 8 Oktober 2028.

Arryo juga menambahkan untuk produk yang berkaitan dengan bisnis P&G untuk produk multivitamin, sekitar 75-80 persen bahan baku masih diimpor dari China.

“Untuk produk-produk P&G, yang kebanyakan adalah mungkin vitamin sekitar 75-80 persen itu juga diimpor dari China,” tambahnya.
   

Geopolitik Jadi Perhatian karena Bahan Baku Tak Sepenuhnya Lokal


Dengan tingginya ketergantungan terhadap impor, kondisi geopolitik global menjadi salah satu faktor yang harus terus dipantau PT Merck Tbk. Aryo mengatakan situasi geopolitik saat ini membuat perusahaan perlu menyiapkan strategi agar ketersediaan barang, terutama bahan baku, tetap terjaga.

“Kondisi geopolitik ini benar-benar sangat berubah, karena hampir 45 atau 50 persen raw material bukan BKP, dan hampir semuanya melalui Selat Hormuz. Jadi kita harus punya strategi dan taktik yang benar-benar luas,” jelas Arryo.

Dalam kondisi seperti itu, Direktur Keuangan PT Merck Tbk, Bambang Nurcahyo, mengatakan perusahaan tidak hanya melihat harga bahan baku, tetapi juga bagaimana barang tersebut bisa diperoleh dan dikirim ke Indonesia.

Bambang menyebut salah satu alternatif yang dilakukan adalah melakukan pemesanan lebih awal, yang memungkinkan perusahaan memiliki waktu lebih panjang untuk mengantisipasi perubahan biaya maupun hambatan dalam proses pengiriman.

“Kita lakukan pemesanan dari awal, sehingga kalau pun ada perbedaan ongkos kirim atau transportasi, jadi beberapa alternatif kita telusuri,” jelas Bambang.
   

Tantangan Ketika Rupiah Melemah


Selain geopolitik, nilai tukar rupiah menjadi faktor lain yang berkaitan langsung dengan bahan baku impor, karena ketika perusahaan membeli bahan baku menggunakan valuta asing, pelemahan rupiah dapat meningkatkan nilai rupiah yang harus dikeluarkan untuk memperoleh barang dengan harga yang sama dalam mata uang asing.

Namun, Bambang mengatakan tidak seluruh eksposur tersebut langsung menjadi beban perusahaan di Indonesia. Untuk bahan baku yang diperoleh dari kantor pusat atau perusahaan dalam satu grup, transaksi dilakukan menggunakan rupiah. Dengan mekanisme tersebut, harga pembelian relatif lebih tetap sehingga risiko perubahan nilai tukar dapat ditekan.

“Untuk raw material yang berasal dari kantor pusat kami tersebut itu kami membayarnya dalam mata uang rupiah sehingga kita punya katakanlah harga yang fix,” ujar Bambang.

Artinya, meskipun bahan baku secara fisik berasal dari luar negeri, transaksi intercompany tersebut tidak seluruhnya membuat Merck terekspos langsung terhadap perubahan kurs.

Selain itu, Merck juga memiliki mekanisme lindung nilai atau hedging untuk mengelola risiko valuta asing. Namun, strategi tersebut tidak dilakukan secara mandiri oleh Merck.

“Hedging buat Merck itu dilakukan oleh grup treasury kami, jadi kami di level country tidak melakukan hedging secara mandiri karena kondisinya dilakukan secara grup secara total,” jelas Bambang. (Wisa Irena Br Sitepu)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan