Pemaparan Kinerja Perseroan Public Expose PT Merck Tbk 2026. Foto: Medcom / Wisa Irena Br SItepu
Pemaparan Kinerja Perseroan Public Expose PT Merck Tbk 2026. Foto: Medcom / Wisa Irena Br SItepu

Kontrak P&G Segera Berakhir, Merck Mulai Bidik Ekspor ke Pasar Asia

Annisa ayu artanti • 08 Oktober 2026 14:17
Ringkasnya gini..
  • Merck menyiapkan ekspor obat resep ke Filipina dan sejumlah negara Asia untuk mengantisipasi berakhirnya kontrak dengan P&G.
  • Volume produksi dari kontrak P&G selama ini mencapai hampir 80 persen aktivitas produksi di Site Pasar Rebo.
Jakarta: PT Merck Tbk mulai menyiapkan strategi baru menjelang berakhirnya kontrak manufaktur dengan Procter & Gamble (P&G). Salah satu langkah yang disiapkan yakni memperluas ekspor obat resep ke Filipina dan sejumlah pasar Asia lainnya.

Langkah tersebut menjadi penting karena produk P&G selama ini menyumbang porsi besar terhadap aktivitas produksi di Merck Site Pasar Rebo. Dalam Pemaparan Kinerja Perseroan Public Expose PT Merck Tbk 2026, Direktur PT Merck Tbk, Arryo Aritrixso Wachjuwidajat, menyebut kontribusi volume produk P&G di lokasi tersebut mencapai hampir 80 persen.

“Kontribusi volume produk P&B di site Pasar Rebo ini hampir 80 persen, artinya sebagian besar 80 persen dari pekerjaan kita selama ini memproduksi produk-produk P&B,” ujar Arryo.

Kontrak Manufacturing Supply Agreement (MSA) dengan P&G sendiri akan berakhir pada 31 Desember 2027. Sebelumnya, Merck telah mencatatkan beban penurunan nilai aset atau impairment Pabrik Pasar Rebo sebesar Rp87 miliar pada September 2026 akibat perubahan prospek volume produksi, utilisasi kapasitas, dan arus kas masa depan.

Untuk mengisi peluang yang terbuka setelah kontrak berakhir, Merck mulai mengembangkan pasar ekspor untuk produk obat resep. Salah satu pasar yang sudah mulai dijajaki adalah Filipina.

Arryo menyebut ekspor ke Filipina masih berada dalam tahap awal sehingga volumenya belum besar. Namun, langkah tersebut dinilai sebagai bagian dari upaya membuka pasar baru di kawasan Asia.

“Untuk produk-produk ekspor di pasar yang baru memang belum sebesar volume-volume P&B yang hilang,” katanya.

Arryo juga menambahkan terdapat forecasting untuk tiga tahun ke depan dan berharap ekspansi tersebut dapat menjadi pintu masuk menuju negara-negara Asia lainnya. 

Selain itu, Corporate Secretary PT Merck Tbk, Melisa Sandrianti, mengatakan bahwa Marck juga menyiapkan perluasan ekspor yang lebih spesifik untuk produk ethical, atau obat-obatan resep.

“Untuk perluasan ekspor, ekspornya akan spesifik untuk produk-produk yang memang ethical, yang obat-obatan resep,” ujar Melisa.

Dengan demikian, Filipina bukan hanya menjadi tujuan ekspor awal, tetapi juga bagian dari strategi Merck untuk membangun pasar baru di Asia dalam beberapa tahun ke depan.
   

Tak Cuma Ekspor, Merck Siapkan Produk Baru


Selain ekspansi pasar, Merck juga menyiapkan produk baru untuk memperkuat bisnis obat resep. Dalam tiga tahun terakhir, perseroan telah meluncurkan dua produk baru. Pertama pada 2023, Merck meluncurkan obat untuk terapi multiple sclerosis, dan pada 2024, perseroan meluncurkan obat baru untuk terapi kanker kandung kemih.

“Kami sudah meluncurkan dua produk baru dalam tiga tahun terakhir. Tahun 2023 waktu itu ada obat untuk terapi multiple sclerosis, kemudian 2024 juga ada obat baru untuk kanker kandung kemih,” ujar manajemen.

Merck juga menyebut tengah mempersiapkan satu obat untuk masuk proses registrasi, yakni obat untuk kanker paru.

Di tingkat global, Merck juga mengikuti perkembangan portofolio produk baru melalui aksi korporasi perusahaan induknya di Jerman. Manajemen menyebut Merck global melakukan akuisisi terhadap SpringWorks Therapeutics, perusahaan yang memiliki fokus pada portofolio penyakit langka.

Strategi tersebut didukung oleh kinerja bisnis obat resep Merck yang masih tumbuh. 

“Pertumbuhan Merck saat ini, berdasarkan data yang ada, kita tumbuh 7,7 persen. Ini lebih tinggi dari total market farmasi yang adalah 6,2 persen,” ujar Melisa.

Merck juga menyebut sejumlah area terapi utamanya masih berada di posisi teratas di pasar, termasuk terapi tiroid, cardiovascular, diabetes, multiple sclerosis, serta onkologi.

Posisi tersebut menjadi salah satu alasan perusahaan tetap percaya diri untuk mempertahankan kinerja bisnis obat resep meskipun harus menghadapi perubahan besar pada volume produksi setelah kontrak P&G berakhir. (Wisa Irena Br Sitepu)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan