FITNESS & HEALTH
Gen Z Makin Peduli Kesehatan, Bukan Cuma Soal Fisik
A. Firdaus
Selasa 06 Oktober 2026 / 07:13
- Survei terbaru menunjukkan Gen Z dan Milenial Indonesia semakin sadar menerapkan gaya hidup sehat secara holistik.
- Meningkatnya kesadaran tersebut menunjukkan generasi muda mulai lebih serius membangun kebiasaan sehat.
- Perjalanan menuju gaya hidup yang lebih sehat juga tidak lepas dari pengaruh lingkungan digital.
Jakarta: Cara generasi muda memaknai kesehatan kini semakin luas. Bukan hanya soal tubuh yang bugar, Gen Z dan Milenial mulai melihat kesehatan sebagai keseimbangan antara kondisi fisik, mental, emosional, hingga hubungan sosial.
Temuan Asia Pacific Wellness Culture Survey 2026 yang dirilis Herbalife Indonesia menunjukkan perubahan tersebut. Lebih dari separuh responden generasi muda mengaku merasakan peningkatan kesejahteraan dibandingkan tiga tahun lalu.
Di Indonesia, sebanyak 72% Gen Z dan 79% Milenial mengatakan kini lebih sering melakukan aktivitas yang berkaitan dengan kesehatan dan kebugaran dibandingkan tiga tahun sebelumnya. Angka tersebut berada di atas rata-rata nasional sebesar 71%.
Aktivitas seperti lari, padel, pickleball, gym, pilates, futsal, hingga hiking pun semakin dekat dengan keseharian generasi muda. Tak sedikit aktivitas tersebut kemudian menjadi bagian dari kehidupan sosial dan dibagikan melalui media sosial.
Director & General Manager Herbalife Indonesia, Oktrianto Wahyu Jatmiko, mengatakan meningkatnya kesadaran tersebut menunjukkan generasi muda mulai lebih serius membangun kebiasaan sehat.
“Komitmen terhadap kesehatan dan kebugaran ini tidak hanya memberikan dampak positif dalam jangka pendek, tetapi juga menjadi fondasi bagi generasi muda untuk menjalani kehidupan yang lebih sehat dan bermakna dalam jangka panjang,” kata Oktrianto.
Bagi Gen Z, kesejahteraan yang lebih baik bukan berarti berhenti berbenah. Survei menunjukkan masih ada sejumlah aspek kesehatan yang ingin mereka tingkatkan.
Kualitas tidur menjadi perhatian utama bagi 52% Gen Z di Indonesia, disusul kualitas nutrisi atau pola makan sebesar 50%. Sementara itu, 49% ingin meningkatkan kesehatan mental atau kemampuan mengelola stres dan 36% ingin memperbaiki kesejahteraan emosional.
Menariknya, keinginan tersebut mulai diterjemahkan menjadi kebiasaan sehari-hari. Sebanyak 58% Gen Z mengaku telah memperbaiki pola tidur, sementara 56% mulai memilih makanan yang lebih sehat dan berolahraga secara rutin.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kesehatan bagi generasi muda tidak lagi sekadar tentang mengejar target jangka pendek. Ada upaya untuk membangun kebiasaan yang bisa dipertahankan dalam jangka panjang.
Pemahaman mengenai kesehatan juga semakin bergeser. Sebanyak 74% Gen Z Indonesia menilai kesehatan mental menjadi aspek yang membutuhkan dukungan lebih lanjut. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kesehatan fisik sebesar 66% dan kesehatan emosional 59%.
Kondisi tersebut berbeda dengan generasi yang lebih tua seperti Gen X dan Baby Boomers yang cenderung masih memberikan perhatian lebih besar pada kesehatan fisik.
Perjalanan menuju gaya hidup yang lebih sehat juga tidak lepas dari pengaruh lingkungan digital. Bagi Gen Z Indonesia, media sosial dinilai memberikan dampak positif terhadap kesehatan fisik oleh 64% responden dan kesehatan mental oleh 54% responden dalam 12 bulan terakhir.
Bukan hanya media sosial, lingkungan pertemanan juga memainkan peran penting. Sebanyak 68% Gen Z menyebut lingkaran sosial atau pertemanan membantu mereka membangun dan mempertahankan kebiasaan yang lebih sehat. Sementara itu, 43% menyebut komunitas daring memiliki peran serupa.
Pengaruh digital juga terlihat pada kelompok Milenial. Sebanyak 62% responden menilai media sosial memberikan pengaruh terhadap kesehatan fisik, 57% terhadap kesehatan emosional, dan 55% terhadap kesehatan mental.
Artinya, komunitas digital kini tidak hanya menjadi ruang untuk berbagi aktivitas, tetapi juga tempat generasi muda mencari informasi, motivasi, hingga dukungan untuk menjalani gaya hidup sehat.
Oktrianto mengatakan tren tersebut terlihat dari semakin banyaknya ruang yang mempertemukan orang dengan minat kesehatan yang sama, mulai dari event lari, lapangan padel, pusat kebugaran, hingga berbagai komunitas olahraga.
“Baik melalui kelompok olahraga, komunitas kebugaran, maupun jaringan digital, koneksi tersebut membantu mengubah niat untuk hidup sehat menjadi kebiasaan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Pada akhirnya, bagi generasi muda, hidup sehat tampaknya bukan lagi sekadar urusan personal. Kesehatan mulai menjadi bagian dari cara mereka membangun rutinitas, menemukan komunitas, sekaligus menjaga keseimbangan hidup.
(FIR)
Temuan Asia Pacific Wellness Culture Survey 2026 yang dirilis Herbalife Indonesia menunjukkan perubahan tersebut. Lebih dari separuh responden generasi muda mengaku merasakan peningkatan kesejahteraan dibandingkan tiga tahun lalu.
Di Indonesia, sebanyak 72% Gen Z dan 79% Milenial mengatakan kini lebih sering melakukan aktivitas yang berkaitan dengan kesehatan dan kebugaran dibandingkan tiga tahun sebelumnya. Angka tersebut berada di atas rata-rata nasional sebesar 71%.
Aktivitas seperti lari, padel, pickleball, gym, pilates, futsal, hingga hiking pun semakin dekat dengan keseharian generasi muda. Tak sedikit aktivitas tersebut kemudian menjadi bagian dari kehidupan sosial dan dibagikan melalui media sosial.
Director & General Manager Herbalife Indonesia, Oktrianto Wahyu Jatmiko, mengatakan meningkatnya kesadaran tersebut menunjukkan generasi muda mulai lebih serius membangun kebiasaan sehat.
“Komitmen terhadap kesehatan dan kebugaran ini tidak hanya memberikan dampak positif dalam jangka pendek, tetapi juga menjadi fondasi bagi generasi muda untuk menjalani kehidupan yang lebih sehat dan bermakna dalam jangka panjang,” kata Oktrianto.
Tidur dan Pola Makan Jadi Perhatian
Bagi Gen Z, kesejahteraan yang lebih baik bukan berarti berhenti berbenah. Survei menunjukkan masih ada sejumlah aspek kesehatan yang ingin mereka tingkatkan.
Kualitas tidur menjadi perhatian utama bagi 52% Gen Z di Indonesia, disusul kualitas nutrisi atau pola makan sebesar 50%. Sementara itu, 49% ingin meningkatkan kesehatan mental atau kemampuan mengelola stres dan 36% ingin memperbaiki kesejahteraan emosional.
Menariknya, keinginan tersebut mulai diterjemahkan menjadi kebiasaan sehari-hari. Sebanyak 58% Gen Z mengaku telah memperbaiki pola tidur, sementara 56% mulai memilih makanan yang lebih sehat dan berolahraga secara rutin.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kesehatan bagi generasi muda tidak lagi sekadar tentang mengejar target jangka pendek. Ada upaya untuk membangun kebiasaan yang bisa dipertahankan dalam jangka panjang.
Pemahaman mengenai kesehatan juga semakin bergeser. Sebanyak 74% Gen Z Indonesia menilai kesehatan mental menjadi aspek yang membutuhkan dukungan lebih lanjut. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kesehatan fisik sebesar 66% dan kesehatan emosional 59%.
Kondisi tersebut berbeda dengan generasi yang lebih tua seperti Gen X dan Baby Boomers yang cenderung masih memberikan perhatian lebih besar pada kesehatan fisik.
Media Sosial Jadi Bagian dari Perjalanan Sehat
Perjalanan menuju gaya hidup yang lebih sehat juga tidak lepas dari pengaruh lingkungan digital. Bagi Gen Z Indonesia, media sosial dinilai memberikan dampak positif terhadap kesehatan fisik oleh 64% responden dan kesehatan mental oleh 54% responden dalam 12 bulan terakhir.
Bukan hanya media sosial, lingkungan pertemanan juga memainkan peran penting. Sebanyak 68% Gen Z menyebut lingkaran sosial atau pertemanan membantu mereka membangun dan mempertahankan kebiasaan yang lebih sehat. Sementara itu, 43% menyebut komunitas daring memiliki peran serupa.
Pengaruh digital juga terlihat pada kelompok Milenial. Sebanyak 62% responden menilai media sosial memberikan pengaruh terhadap kesehatan fisik, 57% terhadap kesehatan emosional, dan 55% terhadap kesehatan mental.
Artinya, komunitas digital kini tidak hanya menjadi ruang untuk berbagi aktivitas, tetapi juga tempat generasi muda mencari informasi, motivasi, hingga dukungan untuk menjalani gaya hidup sehat.
Oktrianto mengatakan tren tersebut terlihat dari semakin banyaknya ruang yang mempertemukan orang dengan minat kesehatan yang sama, mulai dari event lari, lapangan padel, pusat kebugaran, hingga berbagai komunitas olahraga.
“Baik melalui kelompok olahraga, komunitas kebugaran, maupun jaringan digital, koneksi tersebut membantu mengubah niat untuk hidup sehat menjadi kebiasaan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Pada akhirnya, bagi generasi muda, hidup sehat tampaknya bukan lagi sekadar urusan personal. Kesehatan mulai menjadi bagian dari cara mereka membangun rutinitas, menemukan komunitas, sekaligus menjaga keseimbangan hidup.
(FIR)