Gedung Kementerian BUMN. Foto: Medcom.id/Annisa Ayu.
Gedung Kementerian BUMN. Foto: Medcom.id/Annisa Ayu.

Pembenahan di BUMN Dinilai Sesuai Kebutuhan Bisnis

Ekonomi BUMN Pergantian Direksi BUMN
Ade Hapsari Lestarini • 29 Juni 2020 16:57
Jakarta: Pengamat BUMN dari Universitas Indonesia Toto Pranoto menilai wajar langkah Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir yang merestrukturisasi dan menempatkan seseorang di perusahaan BUMN.
 
Tentunya, langkah tersebut sesuai dengan argumentasi kapabilitas, profesionalitas, dan demi mendukung bisnis. Apalagi BUMN sebagai perusahaan negara memiliki target bisnis sekaligus juga diwajibkan bisa mencapai target dari pemegang saham dalam hal ini pemerintah.
 
Menurut dia, adalah hal biasa apabila Erick menggunakan pendekatan ala political appointee alias penunjukan secara politis terhadap seseorang untuk duduk di BUMN. Hal ini dimaksudkan menjaga arah perusahaan-perusahaan BUMN tersebut.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Political appointee sepanjang yang bersangkutan profesional dan mampu mengelola BUMN dengan efektif saya kira wajar saja. Beberapa contoh yang sukses model Robby Djohan atau Iganisius Jonan sudah memberikan bukti tersebut," ujar Toto dalam keterangannya, Senin, 29 Juni 2020.
 
Baca: Deretan Milenial Duduki Kursi Panas Perusahaan BUMN
 
Dia menambahkan perombakan yang terjadi di tubuh BUMN saat ini dinilai sudah sesuai dan objektif. Dalam arti merujuk pada peraturan yang berlaku. Selain itu, seleksi pemilihan itu sudah melalui kompetisi.
 
"Seleksi dari awal sudah dilakukan dengan objektif, memperhatikan kompetensi dan track record kandidat, serta memiliki integritas yang kuat untuk meng-handle isu governance yang kompleks di perusahaan pelat merah," kata Toto.
 
Selain itu, lanjut dia,penempatan talenta muda di salah satu perusahaan BUMN dengan posisi strategis juga dinilai wajar jika dimaksudkan untuk bisa memberikan inovasi baru di tubuh BUMN. Asalkan ia punya inovasi kuat serta paham arah bisnis BUMN di masa depan. Misal yang ditempatkan di Telkom, harus paham tentang bisnis telko di masa depan.
 
"Itulah tugas yang diharapkan bisa dipenuhi oleh talenta muda tersebut," jelas Toto.
 
Baca: Menanti Gebrakan Milenial di Pucuk BUMN
 
Toto pun mendesak Erick untuk terus memperbaiki kinerja BUMN. Apalagi ada tantangan lain yakni tingkat profitabilitas rata-rata BUMN masih rendah yakni hanya rata-rata di bawah lima persen. Demikian juga angka return of asset rendah, maka ke depan BUMN harus concern meningkatkan kemampuan laba dan menggerakkan aset agar produktif.
 
"Ke depan mungkin Indonesia akan punya lebih sedikit BUMN, tapi kondisinya lebih sehat dan berdaya saing," tambah dia.
 
Ekonom yang juga dosen Perbanas Institute Piter Abdullah juga menilai langkah Erick dalam memilih talenta di BUMN sudah sesuai, jika prioritas diberikan kepada tenaga profesional.
 
Namun, setiap penunjukan pejabat di BUMN harus sesuai dengan karakter perusahaan dan kebutuhan bisnis di masa depan, juga memiliki wawasan yang mumpuni. Karena, karakteristik BUMN dan swasta sangat berbeda. Bisa berhasil di swasta, tapi tantangan di BUMN selalu lebih berat.
 
"Memberi kesempatan kepada profesional saya kira itu sudah dan selama ini dilakukan, memang seharusnya begitu. Pengelolaan BUMN harus diberikan kepada para profesional," ujar Piter.
 

(AHL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif