Foto: dok MI.
Foto: dok MI.

Berita Ekonomi Terpopuler: Impor BBM, Penghapusan Premium, sampai Kasus WanaArtha

Ekonomi Berita Menarik Ekonomi Sepekan Berita Terpopuler Hari Ini Berita Terpopuler Ekonomi
Ade Hapsari Lestarini • 17 November 2020 07:45
Jakarta: Berita ekonomi terpopuler kemarin didominasi seputar impor bahan bakar minyak (BBM) hingga kasus gagal bayar WanaArtha.
 
Berikut lima berita ekonomi terpopuler Medcom.id sepanjang Senin, 16 November 2020:

1. Indonesia Takkan Lagi Impor BBM di 2026

Pemerintah mendorong peningkatan produksi BBM dari kilang dalam negeri. Dengan adanya peningkatan tersebut, pemerintah memperkirakan kebutuhan BBM dalam negeri tidak lagi akan bergantung dari impor.
 
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tutuka Ariadji mengatakan saat ini permintaan BBM memang lebih besar dari poduksi BBM di kilang nasional. Sehingga untuk menutupi kebutuhan atau permintaan tersebut, terpaksa harus dipasok dari impor. Ia bilang ke depannya produksi didorong agar meningkat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca berita selengkapnya di sini

2. Pertamina Tunggu Titah Pemerintah untuk Hapus Premium

PT Pertamina (Persero) merespons kabar mengenai rencana penghapusan penyaluran bahan bakar minyak (BBM) jenis premium di Jawa, Madura, dan Bali (Jamali) per Januari 2021.
 
Perseroan mengatakan kebijakan penyaluran premium merupakan kewenangan pemerintah. Oleh karenanya Pertamina pun akan mengikuti arahan pemerintah terkait penyaluran premium sebagai bentuk penugasan, termasuk jika pemerintah menghentikan penugasan tersebut maka Pertamina pun akan mengikutinya.
 
"Kebijakan penyaluran premium sepenuhnya merupakan kewenangan pemerintah. Pertamina akan menyalurkan selama masih ada penugasan," kata Pjs VP Corporate Communications Pertamina Heppy Wulansari pada Medcom.id, Senin, 16 November 2020.
 
Baca berita selengkapnya di sini

3. Laporan Nasabah Diharapkan Memperjelas Penanggung Jawab Gagal Bayar WanaArtha

Laporan nasabah PT Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha (WanaArtha Life) kepada pihak berwajib dinilai akan semakin memperjelas siapa yang mesti bertanggung jawab perihal gagal bayar yang dialami perusahaan asuransi tersebut.
 
Anggota Komisi III DPR RI Wihadi Wiyanto mengatakan selama ini WanaArtha berdalih gagal bayar karena pemblokiran Sub Rekening Efek (SRE) oleh Kejaksaan Agung (Kejagung) pada PT Hanson Internasional dalam pengusutan kasus Jiwasraya.
 
"Adanya penyitaan SRE oleh Kejagung itu bisa di-framing. Dengan niat jelek, perihal itu dipakai sebagai alasan tidak membayar polis nasabah," kata Wihadi saat dihubungi di Jakarta, Senin, 16 November 2020.
 
Baca berita selengkapnya di sini

4. Menkop UKM: LPDB-KUMKM Mampu Perkuat Permodalan Koperasi

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menekankan pentingnya Lembaga Pengelola Dana Bergulir Usaha Mikro Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM) memiliki kemampuan yang besar dalam memperkuat permodalan koperasi. Pasalnya, menurut Teten yang harus dilayani juga terbilang besar.
 
"Harus mempunyai kemampuan besar, karena anggarannya sekarang masih kecil. Bayangkan, ada sekitar 123 ribu koperasi dan 64 juta pelaku UMKM yang harus dilayani LPDB KUMKM," ungkapnya dilansir dari keterangan resmi, Senin, 16 November 2020.
 
Teten mengungkapkan bahwa Presiden Joko Widodo juga sudah menyetujui untuk penambahan anggaran yang akan disalurkan ke dalam pembiayaan murah bagi koperasi dan UMKM.
 
Baca berita selengkapnya di sini

5. Resesi Dianggap Tak Terlalu Buruk karena Andil Jokowi

Indonesia memasuki masa resesi akibat pandemi virus korona (covid-19). Namun kondisi tersebut tak perlu dikhawatirkan, sebab perekonomian Indonesia minus 3,4 persen pada kuartal ketiga 2020. Pengamat ekonomi dari Institute Teknologi Bisnis Ahmad Dahlan (ITB AD) Jakarta, Sutia Budi, menyebut Indonesia tak terlalu terpuruk karena andil Presiden Joko Widodo.
 
"Presiden menerapkan parsial lockdown, sehingga ekonomi masyarakat tetap berjalan di sebagian daerah. Begitu pula pemberlakuan protokol kesehatan ketat dan tracking agresif yang mampu menjaga aktivitas ekonomi tetap berjalan," kata Budi melalui keterangan tertulis, Senin, 16 November 2020.
 
Menurut dia, perekonomian Indonesia masih tumbuh 2,97 persen di kuartal pertama 2020, meski mengalami kontraksi year on year dibandingkan dengan 2019. Sementara itu, perekonomian Indonesia minus 5,32 persen pada kuartal kedua 2020.
 
Baca berita selengkapnya di sini
 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif