Temuan tersebut terungkap dalam riset Playlog Insights yang memantau aktivitas billboard advertising di 24 kota besar Indonesia sepanjang kuartal I-2026.
Analisis dilakukan berdasarkan nilai belanja iklan (advertising spend), jumlah billboard, distribusi media, impresi, hingga tingkat persaingan antarbrand pada empat sektor utama, yakni perbankan, minuman, rokok dan rokok elektrik, serta produk rumah tangga dan peralatan rumah.
Billboard masih efektif di era digital
Meski pemasaran digital terus berkembang, billboard masih dianggap efektif untuk membangun eksposur merek secara luas. Kehadirannya di titik-titik strategis dinilai mampu menjangkau masyarakat secara konsisten, terutama di kawasan perkotaan dengan mobilitas tinggi.Menariknya, setiap industri memiliki pendekatan berbeda dalam memanfaatkan billboard, baik konvensional maupun digital (Digital Out of Home/DOOH), sesuai karakter target pasar masing-masing.
| Baca juga: Waspadai Penipuan Iklan Digital! Strategi Optimasi Bisa Jadi Kunci Perlindungan |
Industri perbankan mulai agresif beralih ke digital billboard
Sektor perbankan menjadi salah satu industri yang tetap aktif memanfaatkan media luar ruang untuk memperkuat citra merek.Berdasarkan riset Playlog Insights:
- Bank OCBC menjadi bank dengan nilai belanja billboard terbesar, mencapai Rp20,8 miliar dan menghasilkan sekitar 573 juta impresi.
- Bank BJB memasang billboard terbanyak dengan total 35 titik, terdiri atas 29 billboard konvensional dan enam billboard digital.
- Bank BTN tercatat sebagai pengguna digital billboard paling agresif dengan 17 layar digital, disusul BNI (13 layar) dan Bank Mandiri (9 layar).
Persaingan ketat industri minuman
Kompetisi billboard pada industri minuman juga berlangsung sangat dinamis sepanjang awal 2026. Tidak ada satu merek yang menguasai seluruh indikator.Beberapa temuan penting antara lain:
- Le Minerale menjadi brand dengan belanja billboard terbesar sebesar Rp9,6 miliar.
- AQUA menghasilkan impresi tertinggi hingga mencapai 876 juta, melampaui Le Minerale yang mencatat sekitar 578 juta impresi.
- Sirup Kurnia menjadi merek dengan jumlah billboard terbanyak, yakni 31 titik.
Produk rumah tangga beralih ke DOOH
Perubahan strategi paling terlihat pada industri produk rumah tangga dan peralatan (Household Product & Appliance).So Klin menjadi brand paling dominan dengan nilai investasi billboard terbesar mencapai Rp3,96 miliar, sekaligus memiliki jumlah billboard dan impresi tertinggi pada kategorinya.
Brand ini juga termasuk pengguna DOOH paling agresif dengan 16 digital billboard dan hanya satu billboard konvensional.
Sementara itu, kategori bedding seperti King Koil, Serta, Quantum, Comforta, dan Uniland Sleep menjadi kelompok produk dengan tingkat visibilitas tertinggi berdasarkan impresi yang dihasilkan.
Industri rokok masih andalkan billboard konvensional
Kategori rokok dan rokok elektrik masih menjadi salah satu pengguna billboard terbesar di Indonesia.Data Playlog menunjukkan:
- Djarum menjadi pengiklan terbesar dengan nilai belanja sekitar Rp75 miliar dan lebih dari 1.500 penempatan billboard.
- Gudang Garam berada di posisi kedua dengan belanja sekitar Rp42 miliar dan hampir 700 titik billboard.
- IQOS mencatat peningkatan aktivitas paling agresif sepanjang Februari 2026 dengan 207 penempatan billboard.
Data Playlog Insights menunjukkan bahwa billboard masih menjadi media penting bagi berbagai industri untuk membangun visibilitas dan memperkuat brand presence di ruang publik. Meski demikian, setiap industri menunjukkan penggunaan strategi yang berbeda.
Industri Perbankan dan Household Product mulai meningkatkan penggunaan digital billboard, sedangkan minuman dan rokok masih mengandalkan kombinasi billboard statis, distribusi lokasi, dan volume placement untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda