Komoditas vanili. Foto: dok Kementan.
Komoditas vanili. Foto: dok Kementan.

Ceruk Pasar Menjanjikan, Vanili Khas Indonesia Siap Mendunia

Ade Hapsari Lestarini • 22 September 2022 17:10
Jakarta: Indonesia memiliki banyak komoditas yang berpotensial untuk dikembangkan. Bahkan, komoditas-komoditas ini bersiap menuju pasar global. Salah satunya vanili. Komoditas ini telah diekspor ke Jepang sejak November 2021 hingga sekarang, walaupun kuantitasnya masih sekitar 30-50 kilogram (kg) per bulan.
 
"Kami sangat mengapreasiasi dan senang sekali karena Kementerian Pertanian melalui Ditjen Perkebunan aktif membantu promosi produk vanili petani ke luar negeri. Salah satunya melalui Pameran ODICOFF November 2021 lalu yang tidak hanya mempromosikan kopi, teh, kakao, kelapa, dan rempah-rempah, tetapi ada sampel produk vanili yang turut di bawa ke Maroko, Denmark, Mesir, UEA, Serbia, Belanda dan lainnya, dan terjual sekitar delapan kg vanilla beans waktu itu," ungkap Founder dan Direktur Koperasi Desa Ekspor Indonesia Mahdalena, dikutip Kamis, 22 September 2022.
 
Mahdalena mengatakan, selama ini produk vanili yang dipasarkan berbentuk polong kering. Namun saat ini pihaknya sedang mengembangkan produk turunan seperti tepung, ekstrak, dan pasta vanili skala buatan rumah yang diap dipasarkan pertengahan Oktober 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saat ini sudah ada pemesanan 500 botol per bulan pe per item di pasar lokal. Sebagian besar masyarakat Indonesia perlu lebih mengenal vanili alami Indonesia di tengah munculnya vanili sintetis. Untuk itu kita perlu mengedukasi sambil terus memasarkan vanili alami Indonesia," jelasnya.
 
Dia mengatakan, kehadiran Desa Ekspor aktif mendampingi petani untuk memperbaiki mutu vanili sebagai gebrakan perdana di Pulau Flores. Kelompok Tani dan UMKM Kabupaten Manggarai Barat telah berhasil membuat vanila dengan kualitas ekspor sebanyak 15-20 kg dan diterima oleh pasar Jepang melalui pendampingan pascapanen oleh Desa Ekspor Indonesia dan YDBA.
 
Baca juga: Genjot Produktivitas Pertanian, Ini 4 Program Kerja Kementan Tahun Depan

Vanili sebagai program gratieks

Balai Karantina Pertanian Tingkat II Ende-NTT pun mendukung pasar vanili sebagai program gerakan tiga kali lipat ekspor (gratieks), mereka mengadakan Bimteks Akselerasi Ekspor vanilla di Kabupaten Sikka-NTT pada 27 Juli 2022 dengan peserta dari para pelaku UMKM dan petani vanili.
 
"Untuk memperbaiki mutu dan peningkatan produksi di hulu, kita harus berkolaborasi dengan para petani vanili senior di beberapa daerah dan para komunitas petani vanili agar aktif mendampingi Poktan di daerahnya masing masing. Pendampingan dapat dilakukan melalui kunjungan di desa terdekat, sarana whatsapp group, melalui video call atau zoom di kebun petani," ungkap Mahdalena.
 
Dia menuturkan, hal yang tidak kalah pentingnya adalah hilirisasi pengembangan komoditas vanili pascapanen dan pasar yang luas, karena dampaknya dapat membantu ketahanan ekonomi keluarga petani, pemberdayaan perempuan saat pascapanen dan membuka lapangan kerja milennial khusus produk turunan.
 
"Saya berharap kedepannya ekosistem bisnis vanili dari hulu ke hilir dapat terintegrasi," ujarnya.
 
Direktur Jenderal Perkebunan Kementan Andi Nur Alam Syah mengungkapkan, saat ini dari komoditas perkebunan unggulan lainnya yang harga raw material saja sudah tinggi adalah vanili, yakni kisaran basah mencapai 300 ribu-800 ribu per kg, apalagi vanila kering kualitas ekspor bisa mencapai di atas tiga juta per kg.
 
"Potensi ini yang perlu kita garap bersama, perlu dilakukan penataan kebun, juga aspek keamanan kebun yang menjadi titik sentral, dari sisi mutu dan pascapanen harus diperbaiki. Vanili Indonesia ini saya rasa tidak perlu energi besar untuk mencari buyer, hanya perlu sedikit sentuhan branding, maka laku terjual dan biasanya continue karena buyer tahu vanili Indonesia berkualitas di atas 2,75 persen kadarnya, bahkan vanila Alor bisa mencapai di atas tiga persen," jelasnya.
 
Oleh karena itu, pihaknya mendukung kemitraan ekspor yang harus digali potensi-potensi petani milenial di tiap sentra produksi. Niscaya, dari para petani milenial tersebut, produksi vanili Indonesia mampu menguasai 80 persen lebih pasar vanili dunia.
 
Hal senada dikatakan Plt. Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Baginda Siagian, potensi pengembangan budi daya dan pasar vanili sangat menjanjikan karena kebutuhan dunia cukup besar (bisa mencapai 8.000-10 ribu ton per tahun) tetapi produksi terbatas, hanya 5.000-6.000 ton per tahun.
 
"Saat ini hanya Indonesia, Madagaskar, PNG, Meksiko dan Tiongkok yang merupakan lima besar produsen vanili dunia. Tantangan lain adalah industrialisasi produk di Indonesia yang belum berkembang luas walaupun potensi daerah penghasil vanili cukup banyak, NTT salah satu unggulan vanili Indonesia. Ke depan, solusi kemitraan produksi dan ekspor bisa menjadi solusi berkembangnya hilirisasi vanili di Indonesia dan Ditjen. Perkebunan akan berada di-scope tersebut untuk mendukung hilirisasi yang berkelanjutan," kata Baginda Siagian.
 
(AHL)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif