Warga membawa hasil panen lahan hortikultura di Bangkalan/Istimewa.
Warga membawa hasil panen lahan hortikultura di Bangkalan/Istimewa.

Lahan Tandus di Bangkalan Disulap Jadi Penghasil Tanaman Hortikultura

Ekonomi pertanian lahan pertanian
M Sholahadhin Azhar • 11 Januari 2021 15:44
Jakarta: Lahan tidur, tandus, tadah hujan di Desa Bandang Dajah Kecamatan Tanjung Bumi, Bangkalan, Madura, disulap menjadi penghasil tanaman hortikultura. Tanaman mulai semangka hingga tomat tumbuh subur di lahan tersebut.
 
Ketua Kelompok Tani Sangga Buana Desa Bandang Dajah, Jazi, menyebut pengelolaan lahan tidur itu sangat bermanfaat. "Alhamdulillah, saya sendiri mendapatkan ilmu. Ini  bermanfaat bagi masyarakat Bandang Dajah. Para pemuda yang menganggur bisa bergabung," ujar Jazi dalam keterangan tertulis, Senin, 11 Januari 2021.
 
Perombakan lahan dilaksanakan Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) melalui program Eco Edufarming. Jazi mengatakan lahan tersebut susah ditanami varietas tanaman sebelum perombakan lahan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Adanya hanya tanaman jagung dan kacang hijau. Itu pun setahun sekali, menunggu masa hujan turun," kata dia.
 
Menurut Jazi, program tersebut memberi harapan dan wawasan baru terkait potensi lahan. Apalagi, luas lahan tidur di desanya mencapai 80 persen.
 
Baca: Sektor Pertanian Bertahan dari Krisis, Ini Resepnya
 
Pihaknya berencana menjual hasil panen tanaman hortikultura ke pasar kecil di Bangkalan. Panen perdana di lahan demplot seluas sekitar 5.000 meter persegi itu mendapat perhatian dari Ketua Kelompok Bisnis Hortikultura Indonesia, Mohammad Maulid. 
 
Menurut dia, hal tersebut menjadi pemicu masyarakat agar lebih bersemangat untuk bercocok tanam. Dia menyarankan petani hortikultura fokus pada satu tanaman, misalnya tomat.
 
"Satu desa bisa jadi sentra tomat atau tanaman lainnya. Kami akan membantu dari segi market," kata dia.
 
Pendamping program, Nurudin, mengatakan pemanfaatan lahan untuk menekan biaya pertanian. Hal tersebut membuat warga tak tertarik bertani dan berkebun, sehingga mereka memilih merantau.
 
"Kami pangkas Sebagian besar biaya hingga 90,99 persen, tanpa obat obatan. Sehingga cost-nya turun banyak," kata Nurudin.
 
Field Manager PHE WMO, Sapto Agus Sudarmanto, mengatakan pihaknya berharap program pertanian bisa memunculkan kemandirian warga. Selain itu, program diharapkan mengenaklan potensi pertanian di Desa Bandang Dajah.
 
(ADN)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif