Berdasarkan riset bertajuk The Global Reputation Economy: A New Asset Class for a New Era, perusahaan dengan reputasi kuat berpotensi meraih tambahan laba tahunan tak terduga bagi pemegang saham hingga 4,78 persen. Akumulasi dampak tersebut membentuk skala “Ekonomi Reputasi” global yang mencapai USD7,07 triliun.
Penelitian ini berhasil mengubah reputasi dari konsep abstrak menjadi aset konkret. Dalam perusahaan yang diteliti, nilai “laba reputasi” tercatat berkisar dari USD2 juta hingga USD202 miliar, melampaui proyeksi yang biasanya dihitung melalui indikator kinerja keuangan konvensional.
Reputasi bisa dihitung sebagai aset finansial
CEO Global Burson, Corey duBrowa, menyebut temuan ini sebagai tonggak penting dalam cara perusahaan memandang reputasi.“Selama puluhan tahun, para pemimpin secara intuitif menyadari bahwa reputasi itu penting, tetapi mereka tidak pernah bisa mengukurnya sebagai aset keuangan. Kini, kita bisa melakukannya,” kata CEO Global Burson, Corey duBrowa dalam keterangan tertulis Kamis, 15 Januari 2026.
Ia menegaskan bahwa reputasi bukanlah elemen tunggal, melainkan sistem yang saling terhubung dan dapat dikelola secara strategis.
“Studi kami menunjukkan bahwa reputasi adalah sistem yang saling terhubung, yang jika dikelola dengan cermat, dapat menghasilkan miliaran dolar dalam bentuk keuntungan yang terukur, membangun ketahanan terhadap berbagai gejolak, dan memberikan kepastian kepada para pemimpin untuk mengambil langkah-langkah berani. Selain itu, reputasi yang kuat juga dapat memberikan pengaruh finansial melampaui sekadar konsep loyalitas yang sederhana," tuturnya.
| Baca juga: Cara Mulai Transformasi Digital Bisnis dengan Baik |
AI dan tempat kerja jadi medan persaingan reputasi baru
Meski perusahaan dengan reputasi unggul tampil kuat di hampir semua aspek, studi ini menyoroti tempat kerja sebagai area dengan peluang sekaligus risiko terbesar.Dari delapan faktor penentu reputasi, aspek tempat kerja memang menempati peringkat terendah dengan kontribusi 11 persen.
Namun, kualitas lingkungan kerja justru menciptakan kesenjangan reputasi sebesar 11,8 persen antara perusahaan dengan kinerja terbaik dan terburuk.
Burson memperingatkan bahwa kesenjangan ini dapat berubah menjadi krisis reputasi, terutama bagi perusahaan yang gagal mengelola integrasi kecerdasan buatan (AI).
“Perusahaan harus melampaui ‘strategi AI’ dan menciptakan ‘strategi sumber daya manusia berbasis AI’ karena cara mereka mengelola transisi ini akan menegaskan komitmen mereka dalam menghargai karyawan,” kata Global Corporate dan Public Affairs Lead, Burson, dan U.S. CEO, Burson Buchanan, Matt Reid.
Menurutnya, perusahaan yang berinvestasi dalam pelatihan ulang dan berkolaborasi dengan karyawan akan mendapatkan nilai reputasi tambahan. Sebaliknya, pendekatan yang semata-mata menjadikan AI sebagai alat efisiensi tenaga kerja justru berisiko merugikan.
“Perusahaan yang berinvestasi dalam pelatihan ulang dan berkolaborasi dengan karyawan untuk menciptakan masa depan bersama akan memperoleh nilai tambah bagi reputasinya. Sebaliknya, perusahaan yang memandang AI hanya sebagai alat untuk mengurangi tenaga kerja akan membayar ‘pajak reputasi,’ di mana keuntungan efisiensi yang diperoleh akan terimbangi oleh penurunan nilai reputasi,” imbuhnya.
Inovasi hingga tata kelola jadi penentu
Studi Burson juga mencatat bahwa perusahaan dengan reputasi teratas tidak memiliki titik lemah signifikan. Mereka unggul di seluruh delapan faktor reputasi, dengan skor rata-rata 11 hingga 15 poin lebih tinggi dibanding perusahaan lain.Keunggulan paling mencolok terlihat pada aspek inovasi dengan selisih 15,5 poin, diikuti produk sebesar 15,2 poin, serta tata kelola yang unggul 14,4 poin.
Di sektor-sektor dengan risiko kegagalan tinggi seperti aerospace dan energi, reputasi tidak bisa dipulihkan hanya melalui narasi produk. Penelitian menunjukkan bahwa dua perusahaan aerospace justru mencatat peningkatan reputasi terbesar lewat penguatan Tata Kelola sebesar 7,9 persen dan Tempat Kerja sebesar 6,2 persen.
Sementara itu, di sektor energi, peningkatan reputasi lebih banyak ditopang oleh fokus pada Tempat Kerja dan Masyarakat, masing-masing sebesar 0,9 persen, bukan semata isu keberlanjutan.
Sektor keuangan hadapi risiko penurunan reputasi
Berbeda dengan sektor lain, reputasi di industri keuangan justru mengalami penurunan signifikan. Penurunan ini terutama dipicu oleh melemahnya persepsi pada kepemimpinan (-24%), Tata Kelola (-11%), dan Masyarakat (-15%).Dampaknya tidak kecil. Nilai reputasi sebesar USD4,3 miliar atau sekitar 38 persen dari total nilai reputasi USD11,4 miliar perusahaan sektor keuangan yang dianalisis berada dalam risiko langsung.
CEO Asia-Pasifik Burson, HS Chung, menilai temuan ini sangat relevan bagi perusahaan Asia yang ingin bersaing di level global.
“Penelitian kami menunjukkan bahwa reputasi bukan lagi konsep abstrak, melainkan aset yang dapat diukur dengan dampak langsung terhadap nilai perusahaan,” kata HS Chung, CEO Asia-Pasifik Burson.
Ia menegaskan bahwa manajemen reputasi terstruktur kini menjadi kebutuhan strategis, bukan pilihan.
“Bagi perusahaan-perusahaan Asia, termasuk di Korea Selatan, manajemen reputasi yang terstruktur kini menjadi kunci untuk bersaing dan unggul di tingkat global. Melalui Reputation Capital Burson, kami memberikan klien informasi terkini tentang kondisi reputasi mereka dan bagaimana peristiwa eksternal dapat memengaruhinya," tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News