Dengan membawa karung dan kantong sampah, mereka memungut botol plastik, bungkus makanan, kayu, hingga limbah yang terseret ombak ke bibir pantai.
| Baca juga: Tanjung Lesung Dinilai Berpotensi Jadi Sanctuary, Destinasi Healing yang Menyatu dengan Alam |
Tak ada sekat di antara mereka. Mahasiswa, pelajar, komunitas lingkungan, komunitas perenang, nelayan, aparat TNI dan Polri, organisasi masyarakat, hingga warga sekitar bekerja berdampingan.
Sebagian menyisir garis pantai, sementara yang lain turun ke perairan dangkal untuk mengangkat sampah yang mengapung. Suasana gotong royong itu menjadi pemandangan yang paling menonjol.
Percakapan ringan, tawa, dan semangat saling membantu mewarnai kegiatan yang mengubah kawasan pesisir menjadi ruang kolaborasi seluruh elemen masyarakat.
Radin Inten Beach dipilih sebagai titik awal Gerakan Radin Inten Asri.
Pantai yang menjadi salah satu ikon wisata Lampung itu dinilai memiliki peran penting sebagai wajah daerah. Dari kawasan pesisir inilah semangat menjaga lingkungan diharapkan tumbuh dan menyebar ke permukiman, sekolah, perkantoran, hingga ruang-ruang publik lainnya.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengaku terkejut melihat perubahan kondisi pantai tersebut dibandingkan tahun sebelumnya. Menurutnya, kawasan yang dulu belum tertata kini mulai menunjukkan wajah baru dan semakin layak menjadi destinasi wisata unggulan di Provinsi Lampung.
"Tahun lalu pantai ini masih belum layak. Hari ini saya melihat perubahannya luar biasa dan sudah sangat layak menjadi salah satu tujuan wisata terbaik di Lampung," kata Mirza.
Ia menilai menjaga kebersihan pantai tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Dibutuhkan kesadaran bersama agar kawasan pesisir tetap menjadi kebanggaan masyarakat Lampung.
"Pantai adalah wajah Provinsi Lampung, pantai adalah citra Provinsi Lampung, dan pantai adalah kebanggaan seluruh masyarakat Provinsi Lampung. Mudah-mudahan menjaga kebersihan pantai menjadi kebiasaan masyarakat," ujarnya.
Semangat yang sama juga terlihat dari antusiasme para mahasiswa dan berbagai komunitas yang ikut terlibat. Komunitas perenang bahkan menyisir perairan untuk mengangkat sampah yang berada di laut, kemudian membawanya ke daratan agar dapat dikumpulkan bersama sampah lainnya.
Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Kristomei Sianturi mengatakan gerakan tersebut merupakan tindak lanjut arahan Kepala Staf Angkatan Darat untuk menggerakkan aksi kebersihan di wilayah Lampung dan Bengkulu.
Namun, menurutnya, tujuan utamanya bukan sekadar membersihkan pantai dalam sehari.
"Kami ingin memulainya dari pantai karena banyak sampah yang bermuara ke laut. Yang kami harapkan bukan kegiatan seremonial satu hari, tetapi gerakan yang terus berlanjut sehingga masyarakat terbiasa hidup di lingkungan yang bersih dan sehat," kata Kristomei.
Ia menegaskan keberhasilan gerakan itu bergantung pada keterlibatan masyarakat. Karena itu, TNI menggandeng pemerintah daerah, Polri, mahasiswa, komunitas, dan berbagai elemen masyarakat agar gerakan menjaga kebersihan dapat terus berlangsung.
Menjelang siang, tumpukan karung sampah yang terkumpul di bibir pantai semakin banyak. Namun, yang tertinggal bukan hanya pantai yang lebih bersih.
Ada harapan agar kebiasaan memungut sampah, menjaga laut, dan merawat ruang publik tidak berhenti setelah kegiatan usai. Sebab, pantai yang bersih bukan hanya menghadirkan pemandangan yang indah. Lebih dari itu, pantai mencerminkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekaligus menjadi wajah yang pertama kali dilihat setiap orang yang datang ke Lampung. ( Imam Setiawan )
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda