WISATA
Tanjung Lesung Dinilai Berpotensi Jadi Sanctuary, Destinasi Healing yang Menyatu dengan Alam
A. Firdaus
Jumat 12 Juni 2026 / 13:29
- Destinasi yang menawarkan ketenangan, rasa aman, dan kedekatan dengan alam semakin diminati sebagai ruang untuk beristirahat sekaligus memulihkan diri.
- Model pembangunan abad ke-21 ditentukan oleh kemampuan kita melakukan restorasi.
- Ketika wisatawan mulai menghargai kualitas lingkungan tersebut, muncul insentif ekonomi yang mendorong berbagai pihak untuk terus menjaganya.
Jakarta: Di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi, mulai dari perlambatan ekonomi, konflik geopolitik, hingga dampak perubahan iklim, banyak orang kini mencari lebih dari sekadar tempat berlibur. Destinasi yang menawarkan ketenangan, rasa aman, dan kedekatan dengan alam semakin diminati sebagai ruang untuk beristirahat sekaligus memulihkan diri.
Konsep inilah yang dikenal sebagai sanctuary, yaitu tempat perlindungan dan pemulihan yang mampu menghadirkan kenyamanan fisik maupun mental di tengah tekanan kehidupan modern.
Menurut Chairman Pacific Asia Travel Association (PATA) Indonesia Chapter, Dr. (HC) Setyono Djuandi Darmono, Indonesia memiliki sejumlah kawasan yang berpotensi berkembang menjadi sanctuary. Salah satunya adalah Tanjung Lesung di Kabupaten Pandeglang, Banten.
Berjarak relatif dekat dari Jakarta, kawasan wisata terintegrasi seluas 1.500 hektare tersebut menawarkan berbagai aktivitas wisata, mulai dari wisata bahari, darat, udara, hingga pengalaman budaya yang menyatu dengan lingkungan alam.
Darmono menilai dunia saat ini tengah mengalami perubahan paradigma pembangunan. Jika pada abad ke-20 pertumbuhan ekonomi banyak ditopang oleh eksploitasi sumber daya alam, maka abad ke-21 justru menuntut kemampuan untuk menjaga dan memulihkan lingkungan.
"Model pembangunan abad ke-21 ditentukan oleh kemampuan kita melakukan restorasi, termasuk restorasi lingkungan," ujarnya.
Perubahan cara pandang tersebut membuat kawasan yang mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian alam menjadi semakin bernilai. Alam yang sehat kini tidak lagi dianggap sebagai penghambat pembangunan, melainkan aset penting untuk masa depan.
Menurut Darmono, keberhasilan sebuah destinasi wisata saat ini tidak hanya diukur dari banyaknya fasilitas atau bangunan yang berdiri. Kualitas lingkungan yang berhasil dipertahankan justru menjadi daya tarik utama bagi wisatawan.
Pantai yang bersih, hutan yang terjaga, terumbu karang yang sehat, hingga budaya lokal yang tetap hidup dinilai mampu menciptakan pengalaman wisata yang lebih bermakna.

Ketika wisatawan mulai menghargai kualitas lingkungan tersebut, muncul insentif ekonomi yang mendorong berbagai pihak untuk terus menjaganya.
"Ketika wisatawan menghargai pantai yang bersih, hutan yang lestari, terumbu karang yang sehat, dan budaya lokal yang hidup, maka ekonomi akan memberikan insentif untuk menjaga semuanya," kata Darmono.
Karena itu, ia menilai pariwisata yang dikelola secara bertanggung jawab dapat menjadi instrumen konservasi yang efektif, bukan sekadar industri yang berorientasi pada konsumsi.
Darmono menilai Tanjung Lesung memiliki posisi yang unik karena berkembang pada saat dunia sedang mencari model pembangunan yang lebih berkelanjutan.
Alih-alih mengejar jumlah wisatawan semata, kawasan ini dinilai memiliki peluang untuk mengedepankan kualitas pengalaman wisata, serta menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian dari daya tarik utamanya.
Pendekatan tersebut dinilai penting agar pengembangan kawasan tidak mengorbankan sumber daya alam demi keuntungan jangka pendek. Selain itu, kehadiran akses Tol Serang–Panimbang yang segera rampung diyakini akan meningkatkan konektivitas menuju kawasan wisata tersebut.
"Dengan hadirnya akses Tol Serang-Panimbang yang segera rampung, Tanjung Lesung tidak hanya menjadi lebih dekat secara geografis, tetapi juga semakin relevan dengan kebutuhan dunia saat ini," ujarnya.
Darmono meyakini investasi masa depan tidak hanya berbicara soal keuntungan finansial. Nilai tambah bagi lingkungan dan masyarakat juga menjadi faktor penting yang semakin diperhitungkan.
Menurutnya, dunia membutuhkan lebih banyak sanctuary, yakni kawasan yang mampu menunjukkan bahwa pembangunan, pelestarian alam, dan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan beriringan.
Dengan potensi alam yang dimiliki, Tanjung Lesung dinilai berpeluang menjadi contoh bagaimana destinasi wisata dapat berkembang tanpa kehilangan identitas lingkungan dan budaya yang menjadi kekuatannya.
Lebih dari sekadar kawasan wisata, Tanjung Lesung dipandang sebagai model pembangunan yang menawarkan harapan bahwa manusia dan alam dapat tumbuh bersama di masa depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Konsep inilah yang dikenal sebagai sanctuary, yaitu tempat perlindungan dan pemulihan yang mampu menghadirkan kenyamanan fisik maupun mental di tengah tekanan kehidupan modern.
Menurut Chairman Pacific Asia Travel Association (PATA) Indonesia Chapter, Dr. (HC) Setyono Djuandi Darmono, Indonesia memiliki sejumlah kawasan yang berpotensi berkembang menjadi sanctuary. Salah satunya adalah Tanjung Lesung di Kabupaten Pandeglang, Banten.
Baca Juga :
Liburan Sekolah Makin Seru, Hotel di Selatan Jakarta Ini Tawarkan Konsep Family Staycation yang Seru
Berjarak relatif dekat dari Jakarta, kawasan wisata terintegrasi seluas 1.500 hektare tersebut menawarkan berbagai aktivitas wisata, mulai dari wisata bahari, darat, udara, hingga pengalaman budaya yang menyatu dengan lingkungan alam.
Dunia bergerak ke arah pembangunan yang lebih hijau
Darmono menilai dunia saat ini tengah mengalami perubahan paradigma pembangunan. Jika pada abad ke-20 pertumbuhan ekonomi banyak ditopang oleh eksploitasi sumber daya alam, maka abad ke-21 justru menuntut kemampuan untuk menjaga dan memulihkan lingkungan.
"Model pembangunan abad ke-21 ditentukan oleh kemampuan kita melakukan restorasi, termasuk restorasi lingkungan," ujarnya.
Perubahan cara pandang tersebut membuat kawasan yang mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian alam menjadi semakin bernilai. Alam yang sehat kini tidak lagi dianggap sebagai penghambat pembangunan, melainkan aset penting untuk masa depan.
Pariwisata bisa jadi kekuatan konservasi
Menurut Darmono, keberhasilan sebuah destinasi wisata saat ini tidak hanya diukur dari banyaknya fasilitas atau bangunan yang berdiri. Kualitas lingkungan yang berhasil dipertahankan justru menjadi daya tarik utama bagi wisatawan.
Pantai yang bersih, hutan yang terjaga, terumbu karang yang sehat, hingga budaya lokal yang tetap hidup dinilai mampu menciptakan pengalaman wisata yang lebih bermakna.
Ketika wisatawan mulai menghargai kualitas lingkungan tersebut, muncul insentif ekonomi yang mendorong berbagai pihak untuk terus menjaganya.
"Ketika wisatawan menghargai pantai yang bersih, hutan yang lestari, terumbu karang yang sehat, dan budaya lokal yang hidup, maka ekonomi akan memberikan insentif untuk menjaga semuanya," kata Darmono.
Karena itu, ia menilai pariwisata yang dikelola secara bertanggung jawab dapat menjadi instrumen konservasi yang efektif, bukan sekadar industri yang berorientasi pada konsumsi.
Tanjung Lesung dinilai punya peluang besar
Darmono menilai Tanjung Lesung memiliki posisi yang unik karena berkembang pada saat dunia sedang mencari model pembangunan yang lebih berkelanjutan.
Alih-alih mengejar jumlah wisatawan semata, kawasan ini dinilai memiliki peluang untuk mengedepankan kualitas pengalaman wisata, serta menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian dari daya tarik utamanya.
Pendekatan tersebut dinilai penting agar pengembangan kawasan tidak mengorbankan sumber daya alam demi keuntungan jangka pendek. Selain itu, kehadiran akses Tol Serang–Panimbang yang segera rampung diyakini akan meningkatkan konektivitas menuju kawasan wisata tersebut.
"Dengan hadirnya akses Tol Serang-Panimbang yang segera rampung, Tanjung Lesung tidak hanya menjadi lebih dekat secara geografis, tetapi juga semakin relevan dengan kebutuhan dunia saat ini," ujarnya.
Investasi yang tak hanya menguntungkan, tapi juga bermakna
Darmono meyakini investasi masa depan tidak hanya berbicara soal keuntungan finansial. Nilai tambah bagi lingkungan dan masyarakat juga menjadi faktor penting yang semakin diperhitungkan.
Menurutnya, dunia membutuhkan lebih banyak sanctuary, yakni kawasan yang mampu menunjukkan bahwa pembangunan, pelestarian alam, dan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan beriringan.
Dengan potensi alam yang dimiliki, Tanjung Lesung dinilai berpeluang menjadi contoh bagaimana destinasi wisata dapat berkembang tanpa kehilangan identitas lingkungan dan budaya yang menjadi kekuatannya.
Lebih dari sekadar kawasan wisata, Tanjung Lesung dipandang sebagai model pembangunan yang menawarkan harapan bahwa manusia dan alam dapat tumbuh bersama di masa depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)