Setidaknya ada lima pola utama yang paling sering dimainkan pelaku untuk memanipulasi korban agar menuruti keinginan mereka.
Kepala OJK Kalimantan Tengah, Primandanu Febriyan Aziz, menjelaskan pemahaman terhadap modus-modus ini penting agar masyarakat lebih waspada di tengah maraknya kejahatan digital.
“Pelaku scam umumnya tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga memainkan sisi psikologis korban. Dan ada lima faktor utama yang sering dimanfaatkan,” jelas Primandanu dikutip dari Antara, Kamis, 15 Januari 2026.
Lima pola utama pelaku scam menjalankan modus penipuan
1. Memanfaatkan ketidaktahuan korbanModus pertama yang kerap digunakan adalah memanfaatkan minimnya pengetahuan korban terhadap prosedur resmi.
Pelaku biasanya menyamar sebagai petugas instansi tertentu, mulai dari aparat penegak hukum, petugas pajak, hingga pihak yang mengaku mengurus layanan publik seperti Surat Izin Mengemudi (SIM).
“Korban yang kurang memahami prosedur sering kali langsung percaya ketika dihubungi oleh pihak yang mengaku sebagai aparat atau pejabat tertentu,” ujarnya.
| Baca juga: Terseret Kasus Penipuan Dana Tes Masuk Akpol, Pihak Adly Fairuz Buka Suara |
2. Menebar rasa panik dan ketakutan
Modus kedua adalah menciptakan kepanikan. Pelaku menyampaikan informasi mendesak yang bersifat emosional, seperti kabar anggota keluarga mengalami kecelakaan, sakit keras, atau membutuhkan biaya dalam waktu singkat.
3. Menyasar kesepian lewat love scam
Pelaku juga kerap memanfaatkan faktor kesepian, terutama melalui modus love scam. Mereka membangun kedekatan emosional lewat media sosial atau platform digital, lalu perlahan mulai meminta bantuan finansial.
Primandanu mengingatkan bahwa identitas digital, termasuk foto dan profil media sosial, sangat mudah dimanipulasi sehingga masyarakat perlu lebih berhati-hati.
4. Mengiming-imingi keuntungan instan
Keserakahan menjadi faktor psikologis berikutnya yang sering dimanfaatkan. Tawaran investasi dengan imbal hasil besar dalam waktu singkat, pinjaman berbunga rendah, hingga janji keuntungan tanpa risiko kerap menjadi pintu masuk penipuan.
5. Jebakan hiburan dan diskon tak masuk akal
Modus terakhir berkaitan dengan kebutuhan akan hiburan dan kesenangan. Pelaku menawarkan promo wisata murah, diskon belanja daring ekstrem, atau barang dengan harga jauh di bawah pasaran.
OJK Kalimantan Tengah mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya pada informasi yang bersifat mendesak atau terlalu menggiurkan.
Verifikasi informasi dan kehati-hatian dalam mengambil keputusan keuangan menjadi langkah penting untuk mencegah penipuan.
“Literasi keuangan dan kehati-hatian adalah kunci utama untuk mencegah masyarakat menjadi korban penipuan digital,” tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News