| Baca juga: Pengusaha Pelabuhan Dorong Pengembangan Booking Online Angkutan Kontainer |
Akademisi Logistik Politeknik Batam, Dian Mulyaningtyas, mengatakan reformasi pelabuhan Batam harus berorientasi dalam menempatkan Batam sebagai gerbang kekuatan logistik Indonesia di ASEAN. “Efisiensi pelabuhan sangat dipengaruhi oleh kecukupan investasi infrastruktur, kualitas layanan, dan tata kelola operasional yang berkelanjutan,” kata Dian.
Ia melanjutkan, jka merujuk pada studi UNCTAD pada tahun 2023 lalu menunjukkan pelabuhan-pelabuhan hub di ASEAN seperti PSA (Singapura), Port Klang (Malaysia), dan Cai Mep–Thi Vai (Vietnam) menjalani reformasi tarif dan restrukturisasi operasi sebelum mengalami peningkatan konektivitas dan volume perdagangan. “Reformasi tarif dan restrukturisasi operasi merupakan tahapan yang hampir selalu dilakukan sebelum terjadi peningkatan konektivitas dan volume perdagangan,” ujar Dian.
Dian memaparkan bahwa transformasi Pelabuhan Batu Ampar telah menghasilkan indikator kinerja yang positif. Volume peti kemas di Batam meningkat dari 624.061 TEUs pada 2023 menjadi 673.343 TEUs pada 2024, atau tumbuh sekitar 8%. Terminal Batu Ampar sendiri menangani sekitar 84% dari total throughput tersebut. Ia menambahkan, layanan direct call internasional di Batu Ampar meningkat 212% pada periode Januari–Mei 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan pertumbuhan volume peti kemas sebesar 125%.
“Pencapaian ini mengindikasikan bahwa pasar merespons positif peningkatan kualitas layanan dan konektivitas. Karena itu, argumentasi bahwa penyesuaian tarif secara otomatis menurunkan daya saing perlu dikaji secara lebih komprehensif dan berbasis data empiris,” tegasnya.
Dalam konteks persaingan pelabuhan ASEAN, Dian menekankan bahwa daya saing tidak ditentukan oleh rendahnya tarif semata, melainkan oleh kemampuan pelabuhan menyediakan layanan yang andal, frekuensi pelayaran tinggi, waktu tunggu rendah, dan konektivitas global yang kuat.
Ia mencatat, data UNCTAD menunjukkan negara-negara dengan konektivitas pelayaran tertinggi di ASEAN, seperti Singapura dan Malaysia, justru mengoperasikan pelabuhan dengan struktur tarif yang mendukung reinvestasi berkelanjutan terhadap infrastruktur dan digitalisasi. Literatur internasional pun menunjukkan hubungan positif antara peningkatan Liner Shipping Connectivity Index dengan penurunan biaya logistik total dan peningkatan volume perdagangan.
“Strategi BP Batam untuk memperkuat kapasitas dan efisiensi operasional melalui penyesuaian tarif merupakan pendekatan yang konsisten dengan praktik terbaik pelabuhan internasional,” kata Dian.
Dari perspektif kajian akademik dan ekonomi pelabuhan, Dian berpendapat kebijakan penyesuaian tarif dan pola operasi di Pelabuhan Batam sebaiknya diposisikan sebagai bagian dari strategi transformasi menuju regional logistics hub, bukan sekadar kebijakan fiskal jangka pendek. Menurutnya, tantangan utama bukanlah apakah tarif perlu disesuaikan, melainkan bagaimana memastikan peningkatan penerimaan tersebut diterjemahkan secara transparan menjadi investasi infrastruktur, digitalisasi, peningkatan produktivitas, dan perluasan konektivitas internasional.
“Jika reformasi ini dijalankan secara konsisten, Batam berpotensi mengikuti jejak pelabuhan-pelabuhan transhipment dan gateway terkemuka di ASEAN yang berhasil meningkatkandaya saing melalui kombinasi reformasi tarif, investasi, dan modernisasi tata kelola pelabuhan,” pungkasnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda