Ilustrasi Medcom.id.
Ilustrasi Medcom.id.

Prospek Industri Keuangan di Tengah Ancaman Resesi dan Serangan Siber

Eko Nordiansyah • 24 November 2022 22:31
Jakarta: Industri jasa keuangan masih dibayangi ketidakpastian ekonomi. Menurut Bank Dunia, resesi ekonomi masih akan mengancam perekonomian global, yang diakibatkan oleh kondisi geopolitik (perang), krisis pangan dan energi, lonjakan inflasi, hingga kenaikan suku bunga.
 
Direktur Surat Utang Negara, Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Deni Ridwan mengatakan, inflasi merupakan suatu hal yang perlu diwaspadai karena pemulihan ekonomi pascapandemi membuat peningkatan dari sisi permintaan.
 
"Energi juga salah satu hal yang perlu kita garis bawahi ternyata krisis energi saat ini bukan karena hanya pemulihan ekonomi yang lebih cepat dibandingkan dengan perkiraan tapi juga kekosongan investasi di sektor energi terutama di fossil fuel selama beberapa tahun terakhir," ujar Deni Ridwan dalam diskusi 'Prospek dan Tantangan Industri Keuangan di Tengah Ancaman Resesi dan Serangan Siber' di Jakarta, Kamis, 24 November 2022

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain itu, beberapa negara G20 sudah mulai menaikan suku bunganya termasuk Indonesia yang saat ini di level 5,25 persen. Meski demikian, perekonomian Indonesia diproyeksikan masih baik dan akan tumbuh sekitar lima persen di tengah pelemahan ekonomi global.
 
"Inflasi Indonesia masih terjaga di 5,7 persen karena adanya peran dari APBN sebagai shock absorber. Jadi negara lain kenapa inflasinya cukup tinggi karena peran budget-nya sudah terbatas," ujar Deni.
 
Pemerintah sejauh ini telah mempersiapkan rencana jangka panjang dalam pemulihan ekonomi pascapandemi. Salah satunya dengan menciptakan pertumbuhan ekonomi baru, sebagai katalis pertumbuhan dalam implementasi agenda reformasi struktural. 
 
"Ini sesuatu yang menjadi konsen bersama, sehingga kita berusaha untuk memanfaatkan peluang ini untuk bisa melakukan reformasi struktural sebagai akselerasi pertumbuhan ekonomi," ungkapnya.
 
Selain kondisi geopolitik, ancaman lain yang juga mesti diantisipasi dengan baik oleh industri keuangan adalah serangan siber (cyber crime). Persoalan yang kembali muncul belakangan ini menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dengan cermat.
 
Seiring pengembangan digital di sektor keuangan, hal ini juga dibarengi dengan peningkatan probabilitas serangan siber. Sejauh ini serangan siber masih didominasi sektor perbankan, lalu perusahaan asuransi yang memberikan kerugian pada sektor jasa keuangan. 
 
Merujuk data International Monetary Fund (IMF) tahun 2020, estimasi total kerugian rata-rata tahunan yang dialami sektor jasa keuangan secara global yang disebabkan oleh serangan siber berjumlah USD100 miliar atau lebih dari Rp1.433 triliun.
 
Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat, ancaman dan serangan siber di sektor keuangan hingga September 2022 telah mencapai 1,1 juta serangan siber, sehingga per harinya menerima serangan mencapai 124 ribu anomali. 
 
Meski begitu menurut BSSN, bahwa hasil verifikasi penilaian kematangan keamanan siber yang dilakukan kepada 22 institusi perbankan sebanyak 86 persen telah masuk ke level 4 atau sudah memasuki tahap implementasi terkelola.
 
"Jadi kami nanti tinggal memberikan rekomendasi dari hasil verifikasi tersebut untuk peningkatan di masa-masa selanjutnya," kata Direktur Keamanan Siber dan Sandi Keuangan, Perdagangan, dan Pariwisata, Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN Edit Prima.
 
Lebih lanjut, ia menghimbau kepada sektor keuangan juga di perbankan untuk dapat menerapkan keamanan siber secara baik sesuai dengan best practice yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BSSN sejak 2016 melalui forum negara G7.
 
"Dari awal harus bisa dikembangkan bagaimana kerangka kerja dan strategi dalam menerapkan keamanan siber di organisasi, kemudian nanti tata kelolanya juga harus disiapkan dalam konteks keamanan siber itu harus bisa diresmika," imbuhnya.
 

Baca juga: Sri Mulyani: Ekonomi Indonesia 6,6% di Atas Prapandemi!


 
Untuk itu, The Finance memberikan penghargaan kepada 63 lembaga keuangan (financial institution) berkinerja terbaik pada ajang 'Top 20 Financial Institution Awards 2022'. Penghargaan diberikan berdasarkan hasil rating bertajuk 'Top 20 Lembaga Keuangan 2022' terhadap laporan kinerja keuangan dalam tiga tahun terakhir, yakni dari 2020 hingga pertengahan 2022.
 
"Rating ini mengukur performa masing-masing lembaga keuangan dari empat lembaga keuangan (audited) dengan bahan baku laporan keuangan dalam tiga tahun (periode) terakhir"  ujar Chairman The Finance Eko B. Supriyanto.
 
Hasilnya, ada 63 lembaga keuangan, terdiri dari 13 bank, 10 perusahaan asuransi jiwa, 20 perusahaan asuransi umum, dan 20 perusahaan multifinance yang dinilai berhasil menjadi yang terbaik. Selain itu ada penghargaan special awards yang diberikan.
 
"Penghargaan ini adalah bentuk apresiasi The Finance kepada institusi dan eksekutif dari empat lembaga keuangan dengan kinerja terbaik selama tiga periode laporan keuangan. Mereka layak mendapat penghargaan, sebab meski dalam tekanan pandemi covid-19, mereka mampu menunjukkan kinerja terbaiknya," papar Eko.
 
(END)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif