Ilustrasi emisi karbon. Foto: Medcom.id,
Ilustrasi emisi karbon. Foto: Medcom.id,

Sri Mulyani Ajak Kurangi Emisi Karbon untuk Cegah Perubahan Iklim

Antara • 14 September 2022 15:44
Jakarta: Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengajak semua pihak baik para pemangku kepentingan maupun masyarakat umum untuk mengurangi emisi karbon dalam rangka mencegah terjadinya perubahan iklim di masa depan.
 
Dalam sambutannya pada HSBC Summit 2022 Powering The Transition to Net Zero, dia mengatakan semua pihak harus membantu komitmen pemerintah Indonesia dan negara-negara di dunia dalam upaya mengurangi emisi karbon.
 
baca juga: DBS Bank Komitmen Capai Target Nol Emisi Karbon

Melalui Paris Agreement, dia menjelaskan pemerintah telah berkomitmen mengurangi emisi karbon sebesar 29 persen dengan upaya sendiri dan 41 persen dengan dukungan internasional pada 2030, dalam rangka mencegah terjadinya perubahan iklim di masa depan.
 
"Agar kita bisa mencapai implementasi strategi ambisius jangka panjang Indonesia untuk rendah karbon dan tahan iklim, kita pasti membutuhkan dukungan secara nyata. Ini sangat bergantung pada dukungan semua pemangku kepentingan, dan tidak bisa hanya mengandalkan sumber daya pemerintah sendiri," kata Sri Mulyani, dikutip dari Antara, Rabu, 14 September 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia mengatakan perubahan iklim akan menyebabkan bencana kekeringan, banjir, badai, hingga kenaikan permukaan air laut, sehingga nantinya dapat berdampak secara langsung terhadap lingkungan, sosial hingga perekonomian.
 
Dia melanjutkan meningkatnya emisi gas rumah kaca sebesar 4,3 persen setiap tahunnya dari 2010 hingga 2018, telah menyebabkan permukaan air laut di Indonesia meningkat rata-rata sebesar 0,8 hingga 1,2 centimeter (cm) per tahun.
 
"Beberapa indikator perubahan iklim seperti emisi gas rumah kaca, rata-rata suhu permukaan dan tinggi muka air laut menunjukkan urgensi untuk segera memulai perubahan iklim," kata Sri Mulyani.
 
Dia memperkirakan potensi kerugian ekonomi Indonesia yang disebabkan oleh perubahan iklim dapat mencapai 0,62 hingga 3,45 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2030.
 
"Kerugian ekonomi akibat krisis iklim ini akan mencapai 0,5 persen dari PDB pada tahun depan (2023), dan dampaknya terhadap manusia dan ekosistem di seluruh dunia akan lebih signifikan,” kata Sri Mulyani.
 
Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengatakan pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp89,6 triliun atau 3,6 persen dari total belanja pemerintah dalam aksi mitigasi dan adaptasi menghadapi perubahan iklim setiap tahunnya.
 
(SAW)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif