Ilustrasi pedagang pasar. Foto: dok MI/Pius Erlangga
Ilustrasi pedagang pasar. Foto: dok MI/Pius Erlangga

Pedagang Pasar Kena Imbas Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok

Eko Nordiansyah • 05 Agustus 2022 21:42
Jakarta: Fluktuasi harga pangan dan kebutuhan pokok berimbas langsung pada aktivitas perdagangan di pasar tradisional. Banyak pedagang pasar yang mengeluhkan kondisi ini, terlebih di masa transisi pemulihan ekonomi pascapandemi.
 
Chief Economist BRI Danareksa Sekuritas dan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Telisa Aulia Falianty mengatakan, penurunan daya beli akibat kenaikan harga yang terjadi saat ini memengaruhi omzet pedagang di pasar tradisional.
 
“Penurunan daya beli tentu mempengaruhi omzet pedagang. Tidak hanya itu, isu pengenaan PPN 11 persen pada sembako juga sempat menjadi sentimen negatif, ditambah lagi daya beli masyarakat yang belum terlalu pulih pascapandemi," kata Telisa kepada wartawan, Jumat, 5 Agustus 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kenaikan harga pangan saat ini didorong oleh lonjakan harga berbagai komoditas utama. Kenaikan harga pangan dan barang pokok ini juga berkontribusi terhadap kenaikan inflasi, di luar situasi global yang tidak stabil dalam beberapa bulan terakhir. 
 
Baca juga: Pemerintah Imbau Pedagang Tidak Naikkan Harga Pangan

 
Badan Pusat Statistik mencatat pada Juni 2022 terjadi inflasi sebesar 4,35 persen (yoy). Inflasi ini terjadi karena adanya kenaikan harga dengan kontribusi terbesar berasal dari indeks kelompok makanan, minuman, dan tembakau, yakni sebesar 1,77 persen.
 
Menurut Telisa, dampak kenaikan harga kebutuhan pokok dirasakan oleh berbagai pihak baik pelaku di pasar modern maupun pasar tradisional, khususnya masyarakat menengah ke bawah. 
 
"Pemerintah telah menggelontorkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk menjaga daya beli masyarakat. Namun selain itu, upah riil juga perlu terus dijaga agar geliat di pasar tetap muncul dan dapat menopang ekonomi masyarakat dengan baik," ungkap Telisa.
 
Telisa mengatakan untuk mengatasi situasi ekonomi pasar yang tidak stabil perlu adanya sinergi baik dari pemerintah pusat dan daerah, terlebih dalam perluasan dan peningkatan program revitalisasi pasar. Ia juga menyarankan program digitalisasi pasar agar pasar tradisional dapat beradaptasi dengan zaman. 
 
"Untuk memudahkan pedagang pasar agar dapat bertahan di segala situasi ekonomi diperlukan regulasi-regulasi yang memudahkan seperti CSR bagi pelaku usaha terkait dengan pasar tradisional, pemberian insentif dan keringanan," ujar dia.
 
Sekretaris Jenderal Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Mujiburrohman mengungkapkan, pedagang pasar masih belum sepenuhnya pulih dari keterpurukan akibat pandemi covid-19. Saat ini banyak pedagang pasar yang mengeluh omzetnya menurun.
 
"Pedagang pasar belum punya alternatif lain untuk mengatasi permasalahan omzet. Semua kembali ke pemerintah yang harus menjadi agregator untuk memfasilitasi pedagang pasar melalui kebijakan yang sesuai agar kondisi ekonomi pedagang pasar bisa kembali pulih," ujar dia.
 
(END)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif