Pertamax Turbo. Foto: Pertamina.
Pertamax Turbo. Foto: Pertamina.

Menteri Maman Pede UMKM Kebal dengan Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi

Arif Wicaksono • 27 April 2026 14:20
Ringkasnya gini..
  • Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengatakan mayoritas UMKM menggunakan BBM subsidi seperti Pertalite, solar subsidi, serta LPG 3 kilogram, yang hingga kini belum mengalami penyesuaian harga.
  • Menurut dia, kebijakan pemerintah mempertahankan harga energi bersubsidi menjadi bantalan penting di tengah meningkatnya tekanan eksternal, termasuk dampak konflik di Timur Tengah yang memicu gejolak harga komoditas global.
Jakarta: Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dinilai belum memberi tekanan langsung terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terutama karena sebagian besar pelaku usaha kecil masih mengandalkan energi bersubsidi dalam operasional sehari-hari.
 
Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengatakan mayoritas UMKM menggunakan BBM subsidi seperti Pertalite, solar subsidi, serta LPG 3 kilogram, yang hingga kini belum mengalami penyesuaian harga. Kondisi itu membuat lonjakan harga BBM nonsubsidi belum serta-merta mengerek biaya usaha di sektor mikro.
 
Baca juga: Pastikan Penyaluran BBM Subsidi Tepat Sasaran, Pertamina Libatkan Korlantas Polri

Menurut dia, kebijakan pemerintah mempertahankan harga energi bersubsidi menjadi bantalan penting di tengah meningkatnya tekanan eksternal, termasuk dampak konflik di Timur Tengah yang memicu gejolak harga komoditas global.
 
Dengan struktur biaya seperti itu, pemerintah menilai pelaku UMKM belum menghadapi risiko penurunan daya tahan usaha atau “turun kelas” hanya akibat kenaikan BBM nonsubsidi.

Namun, tekanan bagi UMKM disebut mulai muncul dari sisi lain, terutama kenaikan harga bahan baku plastik. Keluhan ini, menurut Maman, menjadi salah satu aspirasi yang paling banyak disampaikan pelaku usaha kepada kementeriannya dalam beberapa waktu terakhir.
 
Kenaikan harga plastik dikaitkan dengan gangguan pasokan nafta dari Timur Tengah, bahan baku penting bagi industri petrokimia yang menopang berbagai produk kemasan dan manufaktur skala kecil.
 
Untuk meredam dampaknya, pemerintah disebut sedang menyiapkan diversifikasi pasokan dengan mengurangi ketergantungan dari kawasan Timur Tengah dan mencari sumber alternatif dari India, Afrika, hingga Amerika.
 
Langkah itu ditempuh melalui koordinasi lintas kementerian, termasuk bersama Kementerian Perdagangan, agar rantai pasok bahan baku industri kecil tetap terjaga.
 
Di sisi lain, penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang dilakukan Pertamina sejak 18 April 2026 memang cukup signifikan, seiring lonjakan harga minyak dunia.
 
Harga Pertamax Turbo (RON 98) di Pulau Jawa naik menjadi Rp19.400 per liter dari sebelumnya Rp13.100 per liter. Dexlite meningkat menjadi Rp23.600 per liter dari Rp14.200 per liter, sementara Pertamina Dex naik menjadi Rp23.900 per liter dari Rp14.500 per liter.
 
Meski demikian, harga BBM subsidi masih dipertahankan, dengan Pertalite di Rp10.000 per liter dan solar subsidi Rp6.800 per liter. Sementara Pertamax reguler tetap berada di Rp12.300 per liter dan Pertamax Green di Rp12.900 per liter.
 
Dengan komposisi harga tersebut, pemerintah melihat dampak langsung terhadap mayoritas UMKM masih relatif terbatas. Namun, perhatian kini bergeser ke potensi tekanan biaya produksi dari bahan baku impor, yang justru dinilai lebih berisiko bagi keberlangsungan usaha kecil dibanding kenaikan BBM nonsubsidi itu sendiri.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan