Perusahaan restorasi ekosistem berbasis alam di Indonesia itu menyampaikan pandangannya pada Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) Business Advisory Council (ABAC) Meeting I 2026, forum yang diselenggarakan pada 7-9 Februari 2026 lalu di Hotel Shangri-La Jakarta.
Pertemuan ABAC I 2026 membahas upaya penyelarasan industrialisasi hijau dengan pengembangan energi bersih, penguatan pendorong investasi untuk meningkatkan kelayakan pembiayaan, serta penguatan kerja sama regional dan kolaborasi publik–swasta guna membangun rantai pasok yang lebih resilien di tengah dinamika global.
Bimo Soewadji,Co-Founder dan Chief Executive Officer CarbonEthics, menyampaikan infrastruktur yang kredibel dapat mengurangi fragmentasi bilateral yang semakin sering terjadi.
“Penguatan kerangka regulasi nasional menjadi salah satu pilar penting. Sebagai contoh, Indonesia telah menerbitkan Peraturan Presiden No. 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca Nasional, yang akan menjadi fondasi perdagangan karbon nasional ketika regulasi turunannya diberlakukan,” tuturnya dikutip dari siaran pers, Sabtu, 28 Februari 2026.
| Baca juga: Perdagangan Karbon Dorong Investasi Teknologi Ramah Lingkungan |
Lebih lanjut, untuk menjembatani kesenjangan kelayakan pembiayaan di pasar karbon APEC, diperlukan perangkat pendukung yang kredibel, termasuk Monitoring, Reporting, and Verification (MRV) yang andal serta sistem pencatatan kredit karbon yang transparan.
Namun, perangkat tersebut perlu ditopang oleh kerangka kredibilitas yang menjunjung praktik berintegritas tinggi. CarbonEthics menekankan bahwa standar dan mekanisme perdagangan karbon perlu dirancang untuk meningkatkan daya saing pasar, alih-alih membatasi inovasi sehingga dapat mencegah fragmentasi dan memperkuat kepercayaan pelaku pasar.
“Penting untuk memastikan penerapan Free, Prior, and Informed Consent (FPIC) dalam proyek karbon agar komunitas lokal terlibat secara bermakna sebagai penerima langsung pembiayaan iklim. Keterlibatan ini meningkatkan rasa kepemilikan masyarakat, memperkuat kredibilitas sosial proyek, dan pada akhirnya mendorong kepercayaan investor,” ujarnya.
Dalam forum tersebut, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Pembangunan Berkelanjutan Kamar Dagang Indonesia (KADIN) Shinta Kamdani juga menyoroti pentingnya penguatan inisiatif karbon sebagai bagian dari strategi pembiayaan berkelanjutan, serta pemanfaatan kerja sama regional untuk mendorong peluang investasi dan perdagangan yang lebih inklusif dan berdaya saing.
Sementara itu, Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (KADIN), Anindya Novyan Bakrie, memberikan apresiasi kepada para pembicara atas kontribusi pemikiran dalam mendorong penguatan infrastruktur digital dan pasar karbon berintegritas guna mempercepat investasi hijau di kawasan.
Partisipasi CarbonEthics dalam ABAC Meeting I 2026 menegaskan komitmen perusahaan untuk terus berkontribusi dalam pembangunan pasar karbon yang kredibel dan berintegritas tinggi melalui penguatan tata kelola, kepastian regulasi, serta pelibatan komunitas lokal secara bermakna sebagai fondasi pembiayaan iklim yang berkelanjutan di tingkat nasional maupun regional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News