Slamet mulai mengembangkan usaha lain berupa penjualan kelapa parut untuk menjaga pemasukan. Foto: Askrindo
Slamet mulai mengembangkan usaha lain berupa penjualan kelapa parut untuk menjaga pemasukan. Foto: Askrindo

Bermodal Rp5 Juta, Slamet Kembangkan Usaha Wingko Babat di Semarang

Rizkie Fauzian • 11 Mei 2026 08:42
Ringkasnya gini..
  • Slamet dan istrinya membangun usaha wingko babat di Semarang dari pengalaman bekerja pada produsen lain.
  • Modal awal usaha berasal dari pinjaman Rp5 juta yang digunakan membeli bahan baku produksi.
  • Meski terdampak pandemi Covid-19, usaha wingko babat mereka tetap bertahan hingga kini.
Jakarta: Aroma kelapa dan tepung ketan memenuhi dapur sederhana milik Slamet dan istrinya di Semarang. Dari ruangan itulah pasangan suami istri tersebut perlahan membangun usaha wingko babat yang kini menjadi sumber penghidupan keluarga mereka.
 
Usaha itu tidak lahir begitu saja. Slamet mulai menjajal produksi wingko babat dengan bekal belajar pada pedagang wingko asal Lamongan yang sudah lebih dulu terjun ke usaha ini.
 
Berbekal pengalaman tersebut, Slamet dan istrinya mulai mencoba membuat wingko babat sendiri secara perlahan. Awalnya, mereka hanya membeli bahan baku dalam jumlah kecil sambil terus belajar memahami proses produksi.

“Coba-coba sendiri akhirnya belajar sendiri,” katanya.

Berawal dari modal Rp5 juta

Bermodal Rp5 Juta, Slamet Kembangkan Usaha Wingko Babat di Semarang
Produk wingko babat yang dijual ke warung . Foto: Askrindo
 
Pada 2010, Slamet mulai merintis usaha kecil-kecilan sambil tetap bekerja kantoran. Ia mengaku sempat bekerja di perusahaan furnitur sebelum akhirnya memutuskan fokus mengembangkan usaha wingko babat.
 
“Sudah bosan akhirnya fokus sekarang,” ucapnya.
 
Modal awal usaha diperoleh dari pinjaman Rp5 juta melalui bank. Dana tersebut digunakan untuk membeli bahan baku tambahan seperti kelapa dan tepung ketan.
 
Kala itu, usaha mereka masih sangat sederhana. Kelapa parut untuk produksi bahkan masih dibeli dari pasar karena belum memiliki mesin parut sendiri.
 
“Dulu kelapa kami ambil dari pasar, sekarang sudah punya mesin parut sendiri,” katanya.
 
Sedikit demi sedikit usaha itu berkembang. Dari hanya menggunakan dua tungku kompor, kini mereka memiliki 12 tungku untuk produksi wingko.

Bertahan di tengah pandemi

Bermodal Rp5 Juta, Slamet Kembangkan Usaha Wingko Babat di Semarang
Pembuatan wingko babat di dapur sederhana milik Slamet. Foto: Askrindo
 
Pandemi Covid-19 menjadi ujian berat bagi usaha kecil mereka. Penjualan menurun drastis sementara harga bahan baku terus naik, terutama kelapa dan plastik kemasan.
 
“Setelah Covid itu berat. Order sedikit,” ujar Slamet.
 
Meski begitu, pasangan ini memilih bertahan. Mereka tidak ingin usaha yang telah dibangun bertahun-tahun berhenti begitu saja.
 
Selain memproduksi wingko babat, Slamet mulai mengembangkan usaha lain berupa penjualan kelapa parut untuk menjaga pemasukan.
 
“Jangan sampai bendera kami hilang,” katanya.
 
Kini, dalam kondisi normal, mereka memproduksi sekitar 15 hingga 20 loyang wingko per hari. Setiap loyang dijual sekitar Rp30 ribu dan dipasarkan ke warung-warung serta pelanggan langganan.
 
Wingko buatan mereka bahkan pernah dikirim ke luar kota hingga luar negeri.
 
“Ke Palestina pun pernah,” ungkap Slamet.

Dibantu pembiayaan usaha

Dalam perjalanan usahanya, Slamet kembali mendapatkan dukungan kredit usaha rakyat (KUR) yang telah dijamin PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo). Pinjaman terakhir yang diperoleh mencapai Rp50 juta dengan tenor tiga tahun.
 
Dana tersebut digunakan untuk mendukung pengembangan usaha dan kebutuhan produksi.
 
Meski memiliki peluang untuk menambah pinjaman lebih besar, Slamet mengaku tetap berhati-hati dalam mengelola utang.
 
“Pinjam ya pinjam, tapi kita juga harus mampu bayar,” ujarnya.
 
Saat ini, seluruh proses produksi masih dikerjakan sendiri bersama sang istri tanpa karyawan tambahan.
 
Branch Manager Askrindo Semarang, Gami Aji L., mengatakan penjaminan KUR menjadi salah satu upaya perusahaan dalam membantu pelaku UMKM berkembang dan bertahan di tengah tekanan ekonomi.
 
Menurut dia, total penjaminan KUR Askrindo Kantor Cabang Semarang mencapai Rp1,3 triliun hingga April 2026 dengan jumlah debitor sekitar 24.000 orang.
 
“Total premi yang kami kumpulkan selama 2026 sampai April mencapai Rp40,2 miliar, sedangkan total klaim gabungan Rp10,7 miliar,” ujar Gami.
 
Ia menambahkan, total premi gabungan Askrindo Semarang tumbuh sekitar 10 persen secara tahunan dibanding periode yang sama tahun lalu. Sementara laba gabungan tercatat mencapai Rp22,2 miliar.
 
Bagi Slamet, dukungan pembiayaan menjadi penting agar usaha kecil seperti miliknya tetap berjalan. Meski belum berani mengambil pinjaman dalam jumlah besar, ia berharap dukungan terhadap UMKM terus diperluas, termasuk bantuan alat produksi dan tenor pinjaman yang lebih panjang.
 
“Yang penting usaha tetap jalan dan bisa bayar cicilan dengan lancar,” ungkap dia.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(KIE)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan