Dampak Utama Program Mastercard Strive Indonesia
Skala yang Signifikan: Menyediakan perangkat digital, wawasan keuangan, dan pendampingan kepada lebih dari 500.000 pengusaha.
Dukungan Pembiayaan: Membantu para pelaku usaha untuk mengajukan pinjaman mikro. Ini telah menghasilkan agregat pinjaman mikro sebesar Rp140 miliar (~USD 8,5 juta) untuk 26.500 pelaku usaha (97% dimiliki oleh perempuan).
Adopsi Digital: Memberikan pendampingan digital kepada lebih dari 200.000 pengusaha; lebih dari 100.000 pengusaha mengadopsi perangkat keamanan siber untuk melindungi aset digital mereka.
Pertumbuhan yang Terukur: 56% peserta melaporkan peningkatan pendapatan, dan 30% melaporkan peningkatan kepercayaan diri dalam mengakses kredit.
Pencapaian ini bertepatan dengan perilisan Laporan Barometer ketiga: Striving to Thrive: The State of Indonesian Micro and Small Enterprises 2025, yang mengungkapkan bahwa meskipun sistem pendukung berkembang, Usaha Mikro dan Kecil (UMK) di Indonesia menghadapi kesenjangan pembiayaan yang kritis dan semakin melebar.
Pengambilan Kredit Formal Tetap Rendah, Meskipun Dampaknya Telah Terbukti
Laporan Barometer menyoroti tren yang mengkhawatirkan: pengambilan kredit formal terus menurun, turun dari 33% pada tahun 2023, 27% pada tahun 2024, menjadi hanya 20% pada tahun 2025. Banyak pengusaha masih bergantung pada pemberi pinjaman informal karena suku bunga yang tinggi, persyaratan jaminan, dan hambatan budaya.
Pengusaha perempuan menunjukkan pengambilan kredit yang lebih rendah meskipun pola kepemilikan usaha kuat, yang mencerminkan hambatan dari sisi penawaran dan kehati-hatian finansial yang tertanam secara sosial (16% usaha yang dipimpin perempuan melaporkan mengakses kredit, dibandingkan dengan 20% yang dipimpin laki-laki dan 26% yang dipimpin bersama). Hal ini membuat inisiatif yang terarah seperti Mastercard Strive menjadi lebih penting, terutama untuk meningkatkan akses kredit bagi pengusaha perempuan.
Melalui upaya kolaborasi dengan 17 penyedia layanan keuangan, Mastercard Strive Indonesia membantu lebih dari 26.500 pelaku usaha untuk mengajukan pinjaman sebesar Rp140 miliar, dengan menargetkan peminjam pertama secara khusus.
“Di Mastercard, inovasi bukan hanya tentang teknologi—tetapi tentang membuka peluang dalam skala besar,” kata Aileen Goh, Country Manager, Indonesia, Mastercard.
“Usaha mikro dan kecil di Indonesia membentuk fondasi ekonomi yang tangguh, namun banyak yang masih kurang terlayani oleh keuangan formal. Melalui Mastercard Strive Indonesia, kami menggabungkan wawasan data, perangkat digital, dan kemitraan ekosistem untuk membantu membangun sistem keuangan yang lebih aman dan inklusif—sistem yang memungkinkan para pengusaha untuk tumbuh secara berkelanjutan.”
Dukungan Pembiayaan Perlu Dipadukan dengan Dukungan Non-Finansial
Program ini menemukan bahwa akses terhadap modal saja tidak cukup; namun harus dipasangkan dengan keterampilan untuk mengelolanya. Meskipun laporan tersebut mencatat bahwa 74% pengusaha tidak terlibat dengan layanan pendukung bisnis, mereka yang terlibat secara signifikan lebih mungkin melaporkan pertumbuhan pendapatan.
Pendekatan Mastercard Strive, memanfaatkan mentor lokal dan platform digital seperti MicroMentor untuk menyediakan pendampingan yang fleksibel dan berbasis kepercayaan—telah terbukti sangat berharga bagi para pelaku usaha kecil yang berpartisipasi dalam program ini.
Sebagai contoh, Halim, seorang pemilik toko pakaian di Purwakarta, berhasil mendapatkan pinjaman sebesar Rp20 juta hanya setelah Dedeh, seorang mentor lokal, membimbingnya melalui proses administrasi—membantunya tidak hanya dengan dokumen, tetapi juga dengan memulihkan kepercayaan dirinya dalam berbisnis.
“Akses saja tidak cukup. Pengusaha membutuhkan dukungan yang relevan, tepercaya, dan praktis,” kata Ade Soekadis, Direktur Eksekutif Mercy Corps Indonesia. “Melalui kolaborasi kuat di balik Mastercard Strive, yang telah memberdayakan lebih dari 500.000 pelaku usaha kecil di seluruh Indonesia, kami membantu membangun ekosistem di mana para pengusaha dapat tumbuh dengan keyakinan dan ketangguhan. Upaya kolektif ini mencerminkan misi Mercy Corps Indonesia untuk menciptakan masa depan yang lebih aman, inklusif, produktif, dan adil dengan memastikan bahwa peluang ekonomi tidak hanya tersedia, tetapi juga berkelanjutan.”
Kolaborasi adalah Kunci Ketahanan Ekosistem
Pelajaran utama dari tiga tahun terakhir adalah bahwa dukungan pemerintah, yang dipadukan dengan kelincahan sektor swasta, sangat penting untuk membangun kepercayaan. Keberhasilan program di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat didorong oleh penyelarasan dengan tujuan pemerintah daerah, fasilitator komunitas, dan Strive Learning Network – sebuah platform yang diluncurkan bekerja sama dengan Asian Venture Philanthropy Network (AVPN) dan Bappenas untuk memperkuat ekosistem usaha kecil.
“Penguatan usaha mikro dan kecil memerlukan tindakan yang konkret dan terkoordinasi yang memberikan hasil di lapangan,” kata Ferry Irawan, Deputi I Bidang Pengelolaan dan Pengembangan Usaha Badan Usaha Milik Negara, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia. “Program ini menunjukkan bagaimana kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan mitra pembangunan dapat memperluas akses ke pembiayaan, meningkatkan kapabilitas digital, dan memperkuat sistem pendukung bagi para pengusaha.”
Subhashini Chandran, Senior Vice President, Social Impact, APEMEA, Mastercard Center for Inclusive Growth, menambahkan, “Laporan Barometer ini menunjukkan sebuah momen penting: usaha kecil di Indonesia beralih ke digital lebih cepat daripada perkembangan kapabilitas mereka. Kesenjangan dalam kesadaran AI, keamanan digital, dan akses dukungan bisnis berisiko semakin melebar jika tidak ditangani secara kolektif.
Tiga tahun terakhir telah menunjukkan bahwa ketika penyelarasan pemerintah bertemu dengan inovasi sektor swasta dan kepercayaan tingkat komunitas, kita dapat membangun ekosistem UMK yang lebih kuat dan siap menghadapi masa depan. Itulah jalan menuju ketahanan ekonomi jangka panjang yang inklusif.”
Seiring Indonesia memajukan agenda transformasi ekonominya, Mastercard tetap berkomitmen untuk memperkuat usaha mikro dan kecil melalui pendekatan yang menempatkan dampak, kemudahan penggunaan, dan keberlanjutan sebagai pusatnya. Keberhasilan tidak hanya diukur dari jumlah pengusaha yang dijangkau, tetapi dari seberapa efektif mereka menerapkan dukungan yang diberikan—dan peningkatan nyata yang mereka capai sebagai hasilnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News