Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli. Dok. Istimewa
Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli. Dok. Istimewa

Rapat Bareng Peternak, Mendag Ingatkan Soal Kestabilan Pangan

Achmad Zulfikar Fazli • 24 November 2022 18:47
Jakarta: Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan bertemu dengan perwakilan Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU). Dalam pertemuan itu, Mendag menekankan pentingnya alokasi impor Grand Parent Stock (GPS) untuk pengusaha UMKM dan ketersedian pasokan.
 
“Alokasi impor Grand Parent Stock (GPS) untuk pengusaha UMKM, jaminan pasokan cukup untuk kestabilan pangan dan kecukupan protein bagi warga Indonesia," kata Mendag dalam pertemuan dengan GPPU, Jakarta, Kamis, 24 November 2022.
 
Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) ini menekankan pentingnya perencanaan dan pengelolaan prima hingga minimalisasi gagal usaha saat pertemuan dengan GPPU. “Perencanaan dan pengelolaan prima hingga minimalisir gagal usaha,” beber Mendag.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mendag juga meminta peternak ikut menjaga stabilitas harga ayam. "Meminta komitmen anggota GPPU untuk membantu pemerintah dalam menjaga stabilitas harga yang wajar untuk produk hasil (daging ayam ras dan telur ayam ras) dan input produksi (DOC/bibit dan pakan), baik di tingkat eceran/konsumen maupun di tingkat peternak/produsen," kata Mendag.
 
Selain itu, Mendag berharap anggota GPPU melaksanakan kebijakan pengaturan populasi dengan penuh kejujuran dan sungguh-sungguh apabila diinstruksikan kementerian dan lembaga (K/L) terkait. "Kemendag akan mengevaluasi permohonan persetujuan impor anggota GPPU apabila tidak memegang teguh komitmen untuk menjaga dan menciptakan iklim usaha perunggasan yang kondusif," ujar dia.
 
Pertemuan antara Mendag dan GPPU dilatarbelakangi harga ayam ras di tingkat peternak yang sangat fluktuatif dan sering berada di bawah harga pokok produksi (HPP). Harga ayam di pasar Rp32 ribu per kilogram (kg), seharusnya Rp35 ribu per kg.
 
"Hal ini disinyalir dikarenakan tidak seimbangnya supply demand, surplus pasokan yang berlebih, sekitar 1 miliar ekor atau setara 1 juta ton dalam setahun," kata dia.
 

Baca: Pemerintah Rumuskan Kebijakan dan Strategi Mengenyahkan Penyakit Mulut dan Kuku


Surplus dimaksud belum dapat diakomodasi dengan sarana dan prasarana pascapanen yang memadai, seperti Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) dan cold storage yang tidak mencukupi. Saat ini, seluruh perusahaan integrator hanya memiliki cold storage dengan kapasitas sekitar 30 ribu ton, serta RPHU sekitar 1 juta ekor/hari.
 
"Produksi dan pasokan pada tahun berjalan sebagian besar merupakan dampak dari importasi Grand Parent Stock (GPS/indukan kakek-nenek) pada 2 tahun sebelumnya, di mana alokasi importasi ditetapkan oleh Kementan melalui rekomendasi teknis (sebagian besar importir merupakan anggota GPPU)," tutur dia.
 
Sementara itu, Ketua 4 GPPU, Asrokh Nawawi, menyebutkan Mendag akan mengizinkan BUMN dan UMKM mengimpor GPS ayam sebanyak 20 persen dari total kuota. "Kebijakan baru dari Kementerian Perdagangan ini minta bahwa, memutuskan ada 20 persen kuota GPS akan dialokasikan untuk BUMN dan UMKM yang mampu," kata di.
 
BUMN dan UMKM yang bisa mengimpor GPS ayam merupakan yang dinilai mampu dari segi tata kelola hingga keuangan. Dia menilai kebijakan ini bisa membuat pemerataan, sehingga konsumsi daging ayam per kapita per tahun bisa meningkat.
 
"Kebijakan baru Menteri Perdagangan supaya ada pemerataan, memberi kesempatan BUMN dan UMKM supaya lebih merata, sehingga kebutuhan konsumsi per kapita bisa tercapai, atau harusnya kan naik karena konsumsi baru 11,6 kg per kapita per tahun," ujar dia.
 
(AZF)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif