Ilustrasi. Foto: Freepik
Ilustrasi. Foto: Freepik

Burnout Kerja Tak Cuma Soal Capek, Psikolog Ungkap Gejala dan Pemulihannya

Annisa ayu artanti • 09 Mei 2026 13:13
Ringkasnya gini..
  • Burnout ditandai kelelahan fisik, emosional, hingga turunnya produktivitas kerja.
  • Tekanan kerja berkepanjangan dan minim istirahat jadi pemicu utama burnout.
  • Burnout bisa dipulihkan lewat istirahat cukup, pola hidup sehat, dan bantuan profesional.
Jakarta: Tekanan pekerjaan yang terus menumpuk tanpa diimbangi waktu istirahat yang cukup bisa membuat seseorang mengalami burnout
 
Kondisi ini bukan sekadar rasa lelah biasa, tetapi kelelahan emosional, fisik, dan mental yang terjadi akibat stres berkepanjangan di tempat kerja.
 
Psikolog klinis Kasandra Putranto mengatakan burnout dapat dikenali dari berbagai tanda, mulai dari kondisi fisik, psikologis, hingga perubahan perilaku dalam bekerja.

“Burnout fisik (ditandai) kelelahan menerus, gangguan tidur, mudah sakit. Dari sisi psikologis kehilangan motivasi, merasa tidak dihargai, mudah marah, sedangkan secara perilaku kerja mengalami penurunan produktivitas, sinisme terhadap pekerjaan, sering absen,” kata Kasandra dilansir Antara, Sabtu, 9 Mei 2026.

Tanda burnout yang sering tidak disadari

Kasandra juga menyampaikan terdapat tanda psikologis yang kerap diabaikan oleh pekerja yang sangat produktif, seperti kelelahan emosional yang tidak kunjung hilang meski sudah beristirahat.
 
Kondisi kelelahan emosional itu disertai perasaan datar atau kehilangan minat pada hal-hal yang dulu “dianggap” menyenangkan, kemudian mulai lebih mudah gelisah, sulit fokus, dan mengalami overthinking terutama terkait pekerjaan.
 
Baca juga: Tak Cuma Orang Kantoran, Anak SMA Juga Bisa Kena Burnout Lho

“Dalam banyak kasus, muncul pula dorongan untuk terus bekerja meski tubuh sudah lelah, karena merasa ‘tidak enak berhenti’ atau takut ketinggalan,” imbuh dia.
 
Lebih lanjut, Kasandra mengatakan mengakses layanan kesehatan mental secara tepat dan konsisten dapat membantu seseorang agar pulih dari kondisi burnout.

Pemulihan burnout di dunia kerja

Pemulihan burnout dinilainya tidak selalu instan dan bergantung pada tingkat keparahan, dukungan lingkungan, dan keterlibatan individu dalam proses pemulihan.
 
“Burnout sindrom yang dapat dipulihkan melalui intervensi yang tepat,” tutur dia.
 
Akses, lanjut dia, terhadap layanan kesehatan mental seperti konseling psikologis, terapi perilaku kognitif (CBT), atau dukungan psikiatri dapat memberikan ruang bagi seseorang untuk memahami sumber stres hingga mengembalikan fungsi psikologis dan produktivitas kerja.
 
Sejumlah faktor yang mendukung dalam pemulihan kondisi burnout, kata Kasandra, bisa dilakukan dengan menjaga kesehatan dasar sebagai fondasi, di mana mencakup aktivitas seperti tidur yang cukup dan berkualitas, pola makan seimbang dan hidrasi yang memadai.
 
Kemudian menghindari konsumsi alkohol, kafein, dan zat adiktif lainnya secara berlebihan hingga meluangkan waktu pribadi untuk istirahat, rekreasi, hingga olahraga ringan di sela waktu kerja untuk menjaga sirkulasi dan konsentrasi.
 
Kasandra juga mengingatkan para pekerja agar menyisihkan waktu istirahat yang “bebas” dari pekerjaan, serta pertahankan aktivitas non-produktif yang memberi energi, seperti berinteraksi sosial atau menjalani hobi tanpa target.
 
“Intinya produktivitas tetap penting, tetapi tanpa pemulihan dan keseimbangan, kinerja justru akan menurun dan biaya psikologisnya jauh lebih besar dalam jangka panjang,” ujar dia.

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan