Ilustrasi vape/Medcom.id
Ilustrasi vape/Medcom.id

Asosiasi Dorong Regulasi Khusus Rokok Elektrik

M Sholahadhin Azhar • 08 September 2022 23:20
Jakarta: Asosiasi mendorong regulasi khusus bagi rokok elektrik. Sekretaris Jenderal Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI), Garindra Kartasasmita, menyebut rokok elektronik (vape) memiliki perbedaan cara kerja, kandungan, aerosol, dan dampak kesehatan dengan produk konvensional.
 
Ia mencontohkan industri otomotif terkait aturan kendaraan yang menggunakan bahan bakar dengan elektrik. Meskipun berfungsi sama, kata Garindra, hal tersebut memiliki perbedaan dan perlu aturan yang berbeda.
 
"Begitu pun dengan rokok elektronik yang di banyak negara diakui sebagai salah satu produk harm reduction,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis, 8 September 2022.
 

Baca: Hadirkan Regulasi Khusus Produk Tembakau Alternatif, Indonesia Diharap Ikuti Jejak Filipina


Di sisi lain, dia merespons Kementerian Kesehatan yang berencana memasukkan rokok elektronik dalam revisi aturan pengendalian tembakau di Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109 Tahun 2012. Hal ini dinilai berseberangan dengan beberapa pakar serta asosiasi yang menyarankan aturan rokok elektronik yang dibuat tersendiri dan dikaji mendalam.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Garindra, aturan tersebut spesifik mengatur distribusi hingga iklan produk rokok agar tidak terjamah anak di bawah umur. Dalam aturan itu, rokok merupakan salah satu objek yang diatur secara komprehensif. 
 
Direktur Kajian dan Riset Pusat Studi Konstitusi dan Legislasi Nasional (Poskolegnas) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fathudin Kalimas, melihat perlunya kolaborasi berbagai pihak mengatur regulasi vape. Pemerinta, konsumen dan industri mesti terlibat riset.
 
"Sehingga hal tersebut bisa memberikan informasi yang objektif kepada masyarakat," kata dia.
 
Pembaharuan aturan ini kemudian menyasar industri rokok elektronik untuk diatur sama ketatnya seperti produk-produk rokok konvensional. Padahal, vape dan rokok konvensional memiliki karakteristik yang jauh berbeda.
 
Sejak dikenakan cukai pada 2018, kontribusi industri vape terhadap penerimaan negara terus meningkat. Sebab, jumlah pengguna rokok elektronik kian meningkat di Indonesia.
 
APVI menyatakan, terdapat 2,2 juta pengguna vape di Indonesia pada 2020. Berdasarkan data yang ada, ada 80-100 ribu tenaga kerja yang terserap dalam industri rokok elektronik dan itu tak lepas dari besarnya investasi terkait hal tersebut.
 
(ADN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif