Presiden Joko Widodo. Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
Presiden Joko Widodo. Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden

Jokowi: Tahun Ini Neraca Perdagangan RI-Tiongkok Surplus

Andhika Prasetyo • 07 September 2022 14:04
Jakarta: Presiden Joko Widodo menyatakan, kebijakan penguatan industri hilir terbukti membuat perekonomian nasional berdiri semakin kukuh. Keputusan menghentikan ekspor nikel secara mentah kini sudah membuahkan hasil.
 
Tujuh tahun silam, pada 2015, ekspor nikel yang didominasi bahan mentah hanya memberi nilai USD1,1 miliar. Tahun lalu, ketika penjualan diwajibkan dalam bentuk jadi atau setengah jadi, nilai yang diraup melonjak sampai 19 kali lipat yakni USD20,9 miliar.
 
Perbaikan nilai ekspor tentu berimplikasi pada neraca perdagangan. Pada 2014, neraca dagang Indonesia terhadap Tiongkok menderita defisit sampai USD13 miliar. Tahun lalu, defisit masih terjadi, namun angkanya bisa ditekan sampai hanya menyisakan USD2,4 miliar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tahun ini, saya pastikan sudah surplus dengan Tiongkok. Saya pastikan itu karena kita sudah tidak lagi ekspor mentahan," ujar Jokowi dalam Sarasehan 100 Ekonom dilansir Media Indonesia, Rabu, 7 September 2022.
 
Baca juga: RCEP, Peluang Indonesia Terhubung dengan Regional dan Global Value Chain 

Tidak hanya dengan Negeri Tirai Bambu, neraca perdagangan Tanah Air juga mengalami pertumbuhan terhadap Amerika Serikat.
 
Di 2012, Indonesia menikmati surplus sebesar USD3,3 miliar. Sembilan tahun berselang, ekses tercatat mencapai USD14,4 miliar.
 
"Tapi dengan AS ini jangan sering disampaikan. Bisa-bisa nanti dicabut fasilitas GSP kita Jangan didiskusikan," ucap Jokowi
 
Secara keseluruhan, neraca perdagangan Tanah Air sudah mengalami surplus selama 27 bulan berturut-turut.
 
"Hal ini yang kadang kita tidak lihat detil, kenapa kita surplus," tuturnya.
 
Namun demikian, Jokowi mengungkapkan, hasil baik yang diraih saat ini tentu bukan tanpa hambatan. Pada masa awal penutupan ekspor nikel mentah, Indonesia kerap digugat negara-negara konsumen ke WTO.
 
Pengusaha-pengusaha tambang di Tanah Air, terutama yang berasal dari penanaman modal asing, juga setengah hati membangun pabrik-pabrik pengolahan.
 
"Kelihatan awalnya kita gagal di WTO. Tidak apa-apa. Yang penting industrinya sudah jadi dulu. Kita perbaiki tata kelolanya," jelasnya.
 
(ANN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif