| Baca juga: Pergudangan Modern dan Logistik Jadi Sektor Properti Terkuat pada 2026 |
Senior Vice President International Federation of Freight Forwarders Associations sekaligus Ketua Dewan Pembina Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Yukki Nugrahawan Hanafi menilai persoalan logistik di Indonesia tidak bisa hanya dilihat dari sisi transportasi semata.
Menurut dia, mahalnya biaya logistik lebih banyak dipengaruhi masalah struktural ekonomi nasional yang belum merata antarwilayah.
“Biaya logistik tinggi sebenarnya merupakan dampak dari ketimpangan pembangunan ekonomi, konektivitas wilayah, regulasi yang belum efisien, hingga masih adanya biaya ekonomi informal. Karena itu, solusi utamanya bukan sekadar menambah infrastruktur, tetapi membangun struktur ekonomi yang lebih seimbang lewat industrialisasi dan hilirisasi,” ujar Yukki dalam keteranganya.
Ia menjelaskan, aktivitas ekonomi Indonesia saat ini masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, sementara banyak sektor unggulan seperti pertambangan, perkebunan, dan perikanan justru berada di luar Jawa. Ketimpangan tersebut menyebabkan arus distribusi barang tidak seimbang.
Akibatnya, banyak truk, kapal, dan kontainer kembali tanpa muatan atau mengalami empty backhaul, yang pada akhirnya meningkatkan ongkos logistik nasional.
Selain itu, Yukki juga menyoroti struktur perdagangan Indonesia yang masih didominasi pola impor CIF (Cost, Insurance and Freight) dan ekspor FOB (Free on Board). Skema tersebut membuat sebagian besar nilai tambah jasa logistik dan pelayaran lebih banyak dinikmati perusahaan luar negeri.
“Indonesia masih banyak berperan sebagai pemasok bahan mentah dan produk manufaktur, sementara rantai nilai logistik global belum sepenuhnya dikuasai,” katanya.
Karena itu, ia menilai percepatan re-industrialisasi dan hilirisasi menjadi langkah strategis untuk menciptakan sistem logistik yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Menurut Yukki, pengembangan industri pengolahan di daerah penghasil komoditas akan menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar Jawa. Hal itu diyakini mampu membentuk arus perdagangan dua arah yang lebih seimbang.
“Ketika daerah penghasil mulai memproduksi barang bernilai tambah, maka utilisasi kapal, truk, hingga kontainer akan meningkat. Efisiensi logistik nantinya terbentuk secara alami karena distribusi barang menjadi lebih merata,” jelasnya.
Ia menambahkan, penguatan hilirisasi pada sektor mineral, energi, pertanian, perikanan, hingga perkebunan akan menjadi fondasi penting dalam membangun rantai pasok nasional yang lebih kuat. Tanpa re-industrialisasi dan hilirisasi, lanjut Yukki, Indonesia akan terus menghadapi persoalan biaya logistik tinggi akibat ketimpangan aktivitas ekonomi dan minimnya industri bernilai tambah di berbagai daerah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News