| Baca juga: Zakat Tak Sekadar Wajib Tapi Ada Bentuk Kepedulian di Dalamnya, Sudah Bayar? |
CEO Rumah Zakat, Irvan Nugraha, menjelaskan pada fase awal, program yang dijalankan berfokus pada charity dan perlindungan sosial. Pendekatan ini masih dipertahankan hingga kini, mengingat masih banyak masyarakat yang berada dalam kondisi kemiskinan ekstrem.
“Seiring waktu, pendekatan tersebut kemudian berkembang ke arah pemberdayaan berkelanjutan. Fokusnya tidak lagi sekadar membantu, tetapi mendorong penerima manfaat untuk mampu keluar dari garis kemiskinan. Indikator keberhasilan pun bergeser, dari jumlah bantuan yang disalurkan menjadi perubahan kondisi ekonomi masyarakat,” tegas dia dalam Public Expose Rumah zakat.
Transformasi berlanjut ketika Rumah Zakat mulai mengadopsi pendekatan social enterprise. Berbagai unit layanan seperti Sekolah Juara, klinik, hingga badan usaha milik masyarakat didorong untuk mandiri secara ekonomi, sehingga mampu menciptakan siklus manfaat yang berkelanjutan.
Kini, langkah tersebut diperkuat melalui pendekatan social impact yang lebih luas. Rumah Zakat tidak hanya berfokus pada program internal, tetapi juga mulai menggandeng berbagai pihak, termasuk lembaga keuangan syariah, untuk memperkuat ekosistem yang sudah terbentuk.
Dalam implementasinya, dampak program mulai terlihat secara nyata. Sepanjang 2025, sekitar 1,8 juta penerima manfaat telah merasakan hasil dari berbagai program yang dijalankan. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.800 orang berhasil keluar dari garis kemiskinan, 437 orang berkembang menjadi munfiq, dan 52 orang meningkat menjadi muzaki.
Program pemberdayaan ini saat ini dijalankan di 463 desa berdaya yang masih aktif didampingi. Pendekatan yang digunakan pun cukup komprehensif, mencakup lima sektor utama, yaitu ekonomi, kesehatan, sosial, pendidikan, dan lingkungan. Tidak hanya program bantuan, tetapi juga penguatan kelembagaan hingga advokasi turut menjadi bagian dari strategi yang dijalankan.
Salah satu contoh nyata dari pendekatan social impact terlihat pada pengembangan koperasi berbasis masyarakat. Melalui pembinaan yang berkelanjutan, koperasi tersebut tidak hanya meningkatkan kesejahteraan anggota, tetapi juga mampu mendorong perubahan status penerima manfaat menjadi pihak yang berkontribusi kembali.
Di luar program pemberdayaan, Rumah Zakat juga tetap aktif dalam respons kebencanaan. Sepanjang 2025, relawan Rumah Zakat tercatat melakukan sekitar 144 aksi tanggap bencana di berbagai wilayah Indonesia, termasuk penanganan banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
“Keterlibatan tersebut bahkan meluas ke tingkat global, dengan partisipasi dalam aksi kemanusiaan di sekitar 14 negara,” tegas dia.
Dengan berbagai capaian tersebut, Rumah Zakat kini menargetkan dapat menjangkau hingga 3 juta penerima manfaat pada 2026. Target ini didukung oleh tingkat kepercayaan masyarakat yang tercermin dari total penghimpunan dana sepanjang 2025 yang mencapai Rp168 miliar.
Irvan menegaskan bahwa ke depan, kolaborasi menjadi kunci utama dalam memperluas dampak. Rumah Zakat ingin memposisikan diri sebagai hub of goodness, tempat berbagai inisiatif kebaikan dapat bertemu dan difasilitasi.
Melalui pendekatan tersebut, diharapkan semakin banyak masyarakat yang tidak hanya terbantu, tetapi juga mampu bangkit dan berkontribusi, sehingga dampak sosial yang dihasilkan menjadi lebih luas dan berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News