Presiden Joko Widodo meninjau lahan yang akan dijadikan food estate
Presiden Joko Widodo meninjau lahan yang akan dijadikan food estate

4 Pakar Beri Saran Agar Program Food Estate Jokowi Berhasil

Ekonomi Food Estate
Medcom • 23 Juli 2020 11:43
Jakarta: Sejumlah pakar memberi saran agar program lumbung pangan nasional atau food estate yang digelontorkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) bisa berhasil. Maklum, sebelumnya, tiga program serupa mandek.
 
Pada 1970-an, pemerintah melalui PT Patra Tani sempat mencoba ide food estate. Disiapkan lahan di Sumatra Selatan. Namun, gagal.
 
Selanjutnya, pada 1995, pemerintah juga menelurkan proyek pengembangan lahan gambut seluas satu juta hektare. Tak terdengar lagi kabarnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sepuluh tahun lalu, 2010, program Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) seluas 1,2 juta hektare (ha) digelorakan. Sama saja.
 
Berkaca pada tiga kejadian itu, empat pakar memberikan saran:

1. Sugeng Budiharsono

Pakar pengembangan wilayah perdesaan, Sugeng Budiharsono, menyarankan pemerintah untuk mengevaluasi terlebih dulu baik dan buruk tiga proyek food estate tersebut.
 
"Setelah itu, baru diterapkan di program yang baru," kata Sugeng melalui keterangan tertulis, Kamis, 23 Juli 2020.
 
Seperti diketahui, pemerintah Jokowi menyiapkan lahan seluas 165 ribu ha di Kalimantan Tengah untuk program food estate. Dari total lahan 165 ribu ha, sebanyak 30 ribu ha di antaranya diprioritaskan untuk tanaman padi.
 
Baca:Bulog Siap Bangun Gudang Dukung Lumbung Pangan di Kalteng
 
Dari program itu, Sugeng menyarankan pemerintah Jokowi menyiapkan empat komponen. Yakni, hardware, orgware, brainware, dan software.
 
"Hardware berkaitan dengan ketersediaan infrastruktur dan teknologi budi daya, pengolahan, sampai rekayasa kesesuaian lahan dan iklim mikro," kata dia.
 
Selanjutnya, orgware berkaitan dengan rekayasa sosial budaya dan kelembagaan masyarakat yang bermitra dengan dunia usaha. "Ini harus mendapat dukungan penuh dari lembaga pemerintah," ujarnya.
 
Software berkaitan dengan lembaga-lembaga penelitian dan pengembangan. Seperti perguruan tinggi, pendidikan dan pelatihan, serta pengetahuan masyarakat.
 
Sedangkan brainware berkaitan dengan sumber daya manusia untuk menghasilkan kreativitas dan inovasi.
 
"Kempat hal ini harus salin terkait agar bisa meningkatkan daya saing dari produk-produk yang dihasilkan dari food estate," kata dia.

2. Mirwanto Manuwiyoto

Pakar yang malang melintang di dunia pengembangan organisasi masyarakat perdesaan, Mirwanto Manuwiyoto, mengingatkan pemerintah untuk konsisten. Terutama dalam mempersiapkan komponenorgware dan brainware.
 
"Perlu ketekunan untuk mempersiapkan orgware dan brainware," katanya.
 
Di sisi lain, masalah kekurangan pangan sudah menghadang di depan mata. Maka, pemerintah harus bisa menemukan solusinya.

3. Oon Kurniaputradan Arsyad Nurdin

Ahli tanah dan transmigrasi daerah terluar terdepan dan tertinggal (3T), Oon Kurniaputra dan Arsyad Nurdin, menyarankan pemerintah untuk memetakan kabupaten atau kota yang masih rentan pangan. Berdasarkan data Badan Ketahanan Pangan Kementerian pertanian, daerah rawan pangan (kategori 1, 2, dan 3) sebagian besar bukan berada di Kalimantan Tengah, namun di Papua dan Papua Barat.
 
"Jarak yang jauh dari kedua daerah tersebut tentu akan berpengaruh terhadap rantai pasoknya. Ini harus dipikirkan pemerintah," kata Oon dan Arsyad.
 
Apalagi, lanjut dia, barang-barang pertanian memiliki sifat mudah rusak. Tentu hal itu akan membawa konsekuensi terhadap tingginya biaya transportasi.
 
Baca:Kemhan:Food EstateBukan Program Cetak Sawah
 
Kementerian Pertahanan (Kemhan) menjelaskan program food estate dibuat untuk mengantisipasi krisis pangan seperti prediksi Badan Pangan Dunia (FAO). Food Estate di Kalimantan Tengah dikembangkan sebagai pusat pertanian pangan sebagai cadangan logistik strategis untuk pertahanan negara.
 
"Food estate bukan program cetak sawah," kata juru bicara Kemhan Dahnil Anzar Simajuntak Selasa, 14 Juli 2020.
 
Food estate akan dikembangkan menjadi pusat pangan nasional. Program ini akan mengembangkan padi, singkong, jagung, serta komoditas lainnya sesuai kondisi lahan dan kebutuhan. Program tersebut akan menjadi salah satu Program Strategis Nasional (PSN) 2020-2024.
 
(UWA)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif