| Baca juga: Teknologi Pertanian Presisi Lahan Rawa, Terobosan Swasembada Pangan |
“Manggarai Barat memiliki potensi yang sangat besar, baik dari pertanian, perikanan, maupun olahan pangan tradisional. Tantangannya adalah menghubungkan potensi ini dengan kebutuhan pasar dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Oleh karena itu, kami mendorong pendekatan kolaboratif lintas pihak agar pengembangan pangan lokal dapat berjalan lebih terarah, berkelanjutan, dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas,” ujar Edistasius Endi, Bupati Manggarai Barat dikutip dari keteranganya.
Pasar Kreasi Pangan, rangkaian dari program Urban Futures, pun digelar untuk mendiskusikan dan menyajikan inisiatif serta praktik baik sistem pangan lokal di Manggarai Barat. Laily Himayati, Regional Coordinator Urban Futures Indonesia dari Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial, menyampaikan melalui berbagai inisiatif di Urban Futures, mendorong pendekatan yang menghubungkan beragam aktor dan solusi dalam satu ekosistem.
“Pasar Kreasi Pangan menjadi ruang untuk memperlihatkan bagaimana kolaborasi tersebut dapat menghasilkan dampak nyata di tingkat lokal.” tegas dia.
Sebanyak 26 orang muda di Manggarai Barat mengembangkan usaha berbasis pangan lokal dengan proses pendampingan intensif Nurture bersama Prestasi Junior Indonesia menyajikan produk dalam kegiatan ini.
Dalam kurun waktu sembilan bulan, mereka berhasil mencatatkan total omzet hingga Rp3,87 miliar, menunjukkan potensi nyata dari pengembangan pangan lokal sebagai penggerak ekonomi daerah.
Pertumbuhan ini juga diikuti dengan penguatan ekosistem usaha. 73% peserta membangun kemitraan, baik sebagai pemasok, reseller, maupun dalam jejaring pemasaran. Sementara usaha yang dikembangkan turut membuka peluang kerja bagi 42 orang muda lainnya.
Selain itu, 85% peserta mulai memanfaatkan teknologi digital untuk produksi, pemasaran, dan pencatatan keuangan. Hal ini menunjukkan pergeseran dari usaha berbasis tradisional menuju pengelolaan yang lebih adaptif, efisien, dan berkelanjutan.
“Orang muda mampu menciptakan efek berganda ketika diberikan akses pada pengetahuan, pendampingan, dan jejaring yang memadai. Secara agregat, dampak yang dihasilkan tidak hanya pada skala usaha individu, tetapi pada terbentuknya ekosistem baru di mana pemasok, pelaku usaha, dan pasar saling terhubung. Inilah yang menjadi kunci dalam memperkuat sistem pangan lokal secara lebih luas,” kata Natalia Soebagjo, Dewan Nasional Prestasi Junior Indonesia.
Wilfridus Da Costa Mones, pemilik usaha sayuran hidroponik Green Floreska dan salah satu peserta NURTURE melihat tantangan pangan di lapangan cukup nyata, mulai dari keterbatasan produksi hingga distribusi.
“Sebagai orang muda, kami menjawabnya dengan mengelola usaha pangan yang lebih dekat dengan pasar sehingga dapat memperpendek rantai pasok dan memenuhi kebutuhan pangan lokal dengan lebih efisien,” ujar dia.
Selain itu, bersama RISE Foundation, orang muda Manggarai Barat menunjukkan 10 inovasi untuk memperkuat sistem pangan di Manggarai Barat melalui inisiatif SAPA BUMI. Inisiatif ini menjadi ruang bagi orang muda untuk mengembangkan solusi atas isu strategis, mulai dari hak atas pangan dan gizi, inklusivitas, hingga produksi, distribusi pangan lokal, adaptasi iklim, dan kewirausahaan sosial.
“Kami melihat orang muda mengembangkan gagasan sekaligus menjadi problem solver dalam mendorong cara baru dalam memahami dan membicarakan isu pangan di wilayah masing-masing. Kami berharap inisiatif ini terus berkembang menjadi gerakan orang muda yang berkelanjutan, serta membuka peluang kolaborasi komunitas dan pemangku kepentingan yang lebih luas,” kata Artin Wuriyani, Direktur Eksekutif RISE Foundation.
Kegiatan ini juga menyoroti kondisi sisa pangan dan sampah makanan (food waste) di Labuan Bajo. Riset yang dilakukan oleh WRI Indonesia bersama Garda Pangan menunjukkan timbulan sisa pangan dan sampah makanan di Labuan Bajo tahun 2024 diperkirakan mencapai 4,8 juta kilogram. Uniknya, kontribusi food waste terbesar justru berasal dari nonrumah tangga, seperti hotel, restoran, atau kapal wisata, bertolak belakang dengan tren di tingkat nasional maupun global.
Sri Noor Chalidah, Manajer Proyek Urban Futures WRI Indonesia menuturkan pertumbuhan pariwisata di Labuan Bajo menghadirkan potensi ekonomi bagi masyarakat setempat. Namun, ada tantangan yang sekaligus muncul, salah satunya timbulan sisa pangan dan sampah makanan. Saat ini sudah ada praktik baik yang berjalan, misalnya dengan menyalurkannya ke ternak.
“Bahkan, riset kami menunjukkan bahwa 58,9% sisa pangan dan sampah makanan di Labuan Bajo berakhir menjadi pakan ternak. Rumah tangga maupun nonrumah tangga, telah melakukan praktik baik ini terhadap 50% dari total timbulan mereka. Hal serupa perlu terus dilestarikan dan diperkuat dengan kolaborasi lintas sektor, yang melibatkan orang muda dan masyarakat lokal, pelaku usaha, hingga pemerintah demi ekosistem pengelolaan sisa pangan dan sampah makanan yang lebih terpadu dan berkelanjutan di Labuan Bajo,” kata dia.
Pasar Kreasi Pangan menegaskan perubahan yang berkelanjutan tumbuh dari keterhubungan antara pelaku, pengetahuan, dan aksi yang bersama-sama membentuk sistem pangan yang lebih kuat di tingkat lokal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News