Dikutip dari keterbukaan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada sepanjang tahun 2025, PTBA membukukan Pendapatan Usaha sebesar Rp42,65 triliun, sedikit menurun jika dibandingkan dengan capaian tahun 2024 (FY24) yang sebesar Rp42,76 triliun.
Di saat harga acuan seperti Newcastle Index dan ICI-3 melemah cukup dalam, perusahaan tetap mampu menjaga stabilitas pendapatan dan mencatatkan profitabilitas yang positif.
Kenaikan volume penjualan sebesar 6% secara tahunan belum mampu sepenuhnya mengimbangi penurunan harga jual rata-rata yang tergerus oleh pelemahan harga batu bara global.
Dari sisi pasar, penjualan domestik masih menjadi kontributor utama dengan porsi 54%, sementara ekspor menyumbang 46%. Sejumlah negara di kawasan Asia seperti Bangladesh, India, Vietnam, Korea Selatan, dan Filipina menjadi tujuan utama ekspor perseroan.
Meski pendapatan relatif stabil, tantangan utama terlihat pada sisi pengeluaran. Beban Pokok Pendapatan mengalami kenaikan sebesar 5%, dari Rp34,56 triliun menjadi Rp36,39 triliun. Hal ini berdampak langsung pada Laba Kotor perusahaan yang turun 24% menjadi Rp6,25 triliun.
Penurunan lebih dalam terjadi pada pos Laba Usaha yang terkoreksi hingga 43%, menjadi Rp3,20 triliun. Di periode sebelumnya (FY24), perseroan masih mampu mencatatkan laba usaha sebesar Rp5,65 triliun.
Kondisi ini berlanjut hingga ke laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau Laba Bersih. PTBA menutup tahun 2025 dengan laba bersih sebesar Rp2,92 triliun, turun 43% dibandingkan perolehan tahun 2024 yang mencapai Rp5,10 triliun.
Indikator profitabilitas lainnya, yaitu EBITDA, juga menunjukkan tren serupa dengan penurunan 27% ke angka Rp6,08 triliun.
Dampak dari penurunan laba bersih ini secara otomatis menekan nilai Laba per Saham (EPS) perusahaan. Jika pada tahun 2024 nilai EPS berada di angka Rp444 per lembar saham, maka untuk tahun buku 2025 ini nilai EPS turun menjadi Rp254 per lembar saham.
Strategi 2026
Memasuki 2026, PTBA menargetkan produksi sebesar 49,55 juta ton dan penjualan 49,51 juta ton. Volume angkutan ditargetkan mencapai 41 juta ton, dengan stripping ratio yang lebih efisien di level 5,63x.Belanja modal direncanakan sebesar Rp3,64 triliun, lebih rendah dibanding realisasi 2025, mengindikasikan fokus pada optimalisasi aset yang sudah ada.
Manajemen menegaskan bahwa strategi cost leadership akan tetap menjadi pilar utama. Dengan pendekatan efisiensi yang konsisten dan strategi pemasaran yang adaptif, PTBA berharap dapat menangkap peluang dari potensi pemulihan harga batu bara, sekaligus mulai memperluas portofolio ke arah bisnis yang lebih berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News