Warya, warga kampung nelayan. Foto: Istimewa
Warya, warga kampung nelayan. Foto: Istimewa

Potret Kampung Nelayan Muara Angke: Dulu Kumuh-Banjir, Kini Layak Huni dan Buka Akses Ekonomi

Annisa ayu artanti • 07 Maret 2026 15:31
Ringkasnya gini..
  • Kampung Nelayan Muara Angke kini lebih layak huni dengan rumah panggung dan rumah apung.
  • Infrastruktur jalan yang lebih baik membuka akses ekonomi bagi nelayan dan pedagang ikan.
Jakarta: Wajah Kampung Nelayan Muara Angke, Jakarta Utara, kini berubah total. Jika dulu warga was-was setiap kali banjir rob, kini lebih tenang. Mereka masih bisa tidur nyenyak karena pemerintah menyediakan rumah panggung dan rumah apung.
 
Dulu akses jalan ke sana hanya beralaskan kulit kerang, sekarang jalannya sudah dibeton. Mobil bisa mudah hilir-mudik untuk mengangkut ikan hasil tangkapan nelayan.
 
Dan dulu, anak-anak kesulitan mencari tempat bermain saking kumuhnya permukiman. Kini, area bermain mereka bahkan luas, ditambah terhampar lapangan futsal di tengah permukiman yang bisa dipakai kapan pun.

“Saya beruntung dengan adanya kampung nelayan ini. Hidup saya berubah jadi lebih baik. Tempat tinggal jadi lebih nyaman,” kata Warya, nelayan pencari kerang hijau, yang tinggal di Kampung Nelayan Muara Angke, dikutip dari kanal Youtube Penjaga Harapan, Sabtu, 7 Maret 2026.
 
Baca juga: KKP Genjot 1.000 Kampung Nelayan Merah Putih pada 2026

Kampung Nelayan Muara Angke merupakan salah satu dari program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) yang digagas Presiden RI Prabowo Subianto. Kementerian Kelautan dan Perikanan menggandeng Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman untuk menata dan menciptakan kampung-kampung nelayan di Indonesia.
 
Di Kampung Nelayan Muara Angke, rumah-rumah nelayan dibuat terapung. Pemerintah juga membangun rumah panggung agar terbebas dari banjir rob.
 
Setiap rumah panggung dan apung di sana juga dilengkapi panel surya. Disediakan pula toren untuk menyimpan air bersih.
 
“Kalau sekarang sudah enak. Rumahnya sudah panggung semua, dibantu Pak Prabowo. Kagak banjir. Dulu mah banjirnya gede, terus rumahnya kebanjiran. Sekarang kan enak udah dibangun tuh, rumahnya tinggi-tinggi,” kata Sunenti, pengupas kulit kerang.
 
Dari sisi penghasilan, Sunenti juga bersyukur karena pendapatannya bertambah saat ini. Dulu harga kerang sangat murah, hanya Rp3.500 per kilogram (kg), saat ini meningkat hingga sepuluh kali lipat.
 
“Kalau kerang enakan yang dulu, tapi duitnya enakan sekarang. Dulu mah masih murah Rp3.500, kalau sekarang 35-30 (antara Rp30 ribu hingga Rp35 ribu,” kata perempuan asal Indramayu, Jawa Barat, yang sudah tinggal puluhan tahun di Kampung Nelayan Muara Angke itu.
 
Peningkatan pendapatan juga dirasakan Feri Setyawan, pedagang ikan. Sebelum area permukiman dibenahi, dia hanya bisa membawa ikan dari para nelayan menggunakan sepeda motor. Paling berat muatan yang bisa dia bawa hanya satu atau dua boks, sekitar 50 kg.
 
“Nah, kalau untuk sekarang itu lebih enak lagi. Bawanya bisa satu ton, pakai mobil,” kata Feri. Perubahan itu terjadi karena akses jalan hingga ke tempat sandar kapal nelayan menjadi lebih mudah.
 
Perubahan juga dirasakan oleh anak-anak. Dimas Rangga Saputra, anak seorang nelayan yang tinggal di sana, mengaku menemukan banyak alternatif untuk bermain.
 
Di Kampung Nelayan Muara Angke saat ini terdapat dua area bermain, yakni di taman bermain dan lapangan futsal.
 
“Sekarang lebih bagus. Dulu mah nggak ada tamannya, nggak ada tempat bermainnya. Sekarang ada,” kata Dimas.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan