Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro. Foto: Medcom.id/Marcheilla Ariesta.
Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro. Foto: Medcom.id/Marcheilla Ariesta.

Pemerintah Siapkan Teknologi untuk Kurangi Ketergantungan Impor Garam Industri

Ekonomi garam impor garam
Nur Azizah • 05 Oktober 2020 17:10
Jakarta: Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro menuturkan penggunaan teknologi akan diintensifkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor garam industri.
 
"Kalau kita melihat kebutuhan impor garam industri kira-kira 2,9 juta ton per tahun, terbesar memang untuk industri chlor alkali plant (CAP) atau pabrik kaca yang butuh sampai 2,3 juta ton. Sedangkan untuk garam aneka pangan, sekitar 540 ribu ton, dan lebih kecil untuk pertambangan atau farmasi," ungkap Bambang, saat konferensi pers virtual, Senin, 5 Oktober 2020.
 
Dia menuturkan, sentuhan teknologi yang akan digunakannya diutamakan bagi industri aneka pangan. Kebutuhan garam untuk industri aneka pangan ini akan bisa meningkatkan serapan terhadap garam rakyat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia menambahkan saat ini teknologi yang akan dikembangkan adalah garam industri terintegrasi. Artinya, pabrik garam yang terintegrasi langsung dengan lahan, sehingga para petani garam nantinya bisa menjual hasil garam rakyat, yang NaCl-nya masih di bawah 90 persen kepada pabrik.
 
Baca: Luhut: Impor Garam Industri Harus Ada Rekomendasi dari Kemenperin
 
Menurut dia pabrik tersebut akan meningkatkan kualitas dari garam rakyat tersebut menjadi garam industri dengan NaCl di atas 97 persen.
 
"Saat ini sudah ada satu pabrik yang selesai dan sudah beroperasi di Gresik dan arahan presiden agar segera ditambah terutama 1-2 pabrik di tahun depan. Dan tentunya akan bertambah lagi. Kami optimistis penggunaan teknologi dengan investasi per pabrik sekitar Rp40 miliar, maka kita nantinya bisa substitusi impor dan mandiri untuk kebutuhan garam aneka pangan atau pertambangan," jelasnya.
 
Sedangkan untuk kebutuhan pabrik kaca atau CAP yang disampaikan Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan, pihaknya akan mencoba. Melalui arahan presiden, dimulai dengan pengolahan garam dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang ada di Banten.
 
"Karena kebutuhan pabrik yang butuh memang ada di Banten. Dan ada beberapa PLTU di Banten yang air buangannya dengan teknologi akan diubah, ada yang menjadi garam dan ada yang menjadi air siap minum," tambahnya.
 
Oleh karena itu, kebutuhan garam ini diharapkan bisa langsung mengurangi impor secara signifikan. Kendati nilai investasinya lebih mahal, tapi substitusi impornya akan cukup besar dan bisa benar-benar mengurangi ketergantungan terhadap impor garam industri.
 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif