Urgensi tersebut ditegaskan oleh Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti Widya Putri, saat menghadiri Kompetisi Pelaku Usaha Jagoan Pencari Cuan (PUJAAN) Vol. 5 yang diinisiasi Bukalapak di Jakarta pada Selasa, 27 Oktober 2026.
Mengutip laman Kementerian Perdagangan pada Rabu, 28 Oktober 2026, Roro menggarisbawahi tiga pilar kompetensi krusial yang wajib dikuasai para pelaku usaha untuk menjawab tantangan industri modern, mulai dari komitmen untuk terus belajar, manajemen finansial, dan kecerdasan dalam menavigasi ekosistem digital.
“Tiga hal esensial tersebut yaitu terus belajar dan beradaptasi, bijak mengelola keuangan usaha, serta menjadi pelaku usaha digital yang cerdas,” ujar Roro.
1. Terus Belajar dan Beradaptasi
Pelaku UMKM perlu memiliki kemauan untuk terus belajar dan menyesuaikan diri dengan perubahan. Dunia usaha terus berkembang, sehingga pelaku bisnis perlu terbuka terhadap pengetahuan baru dan perubahan kebutuhan pasar.
Kemampuan beradaptasi membantu pelaku UMKM mengevaluasi strategi bisnis serta menemukan peluang untuk mengembangkan usaha. Dengan terus belajar, pelaku usaha dapat meningkatkan kemampuan dan mempersiapkan bisnisnya menghadapi persaingan.
2. Kelola Keuangan dengan Bijak
Pengelolaan keuangan menjadi kunci berikutnya agar UMKM dapat berkembang secara berkelanjutan. Pelaku usaha perlu memahami kondisi keuangan bisnisnya dan menggunakan sumber daya yang dimiliki secara bijak.
Pengelolaan keuangan yang baik membantu pelaku UMKM menentukan prioritas pengeluaran, merencanakan kebutuhan usaha, serta mengambil keputusan bisnis dengan lebih terarah.
3. Manfaatkan Teknologi Digital
Kemampuan digital juga menjadi salah satu faktor penting bagi UMKM untuk naik kelas. Pemanfaatan teknologi dapat membantu pelaku usaha memperluas jangkauan pasar dan memperkenalkan produk kepada lebih banyak calon konsumen.
Melalui platform digital, pelaku UMKM memiliki peluang untuk mengembangkan pemasaran dan menyesuaikan bisnis dengan kebiasaan konsumen yang semakin akrab dengan layanan daring.
Menurut Roro, ketiga kemampuan tersebut dapat menjadi bekal bagi pelaku usaha untuk menjalani transformasi digital, meningkatkan daya saing, dan memanfaatkan peluang pasar global.
“Sinergi dari ketiga hal esensial tersebut diharapkan mampu mendorong UMKM dan para pelaku usaha lainnya untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga naik kelas dan mampu bersaing secara tangguh di kancah global,” kata Roro.
Di sisi lain, penguatan kapasitas UMKM juga perlu memperhatikan peran perempuan. Sekitar 64,5 persen pelaku UMKM di Indonesia merupakan perempuan. Karena itu, dukungan terhadap pengembangan keterampilan, akses permodalan, dan perluasan pasar menjadi bagian penting dalam mendorong pertumbuhan usaha. (Wisa Irena Br Sitepu)