Ilustrasi judi online. Foto: MI
Ilustrasi judi online. Foto: MI

Waspada! Penyebar Judol Manfaatkan Konten Viral untuk Menjebak Pengguna Internet

Annisa ayu artanti • 07 Juli 2026 12:56
Ringkasnya gini..
  • Penyebar judi online kini memanfaatkan platform digital dengan interaksi tinggi untuk menjangkau lebih banyak korban.
  • Kaspersky mengingatkan konten viral juga kerap dipakai menyebarkan phishing, malware, dan situs palsu.
  • Literasi digital serta kewaspadaan pengguna menjadi kunci utama mencegah kejahatan siber dan penyebaran judol.
Jakarta: Di era media sosial yang serba cepat, konten viral ternyata tak selalu aman untuk dikonsumsi. Di balik tren yang ramai diperbincangkan, pelaku kejahatan siber kini semakin gencar memanfaatkan platform digital dengan tingkat interaksi tinggi untuk menyebarkan konten judi online (judol), phishing, hingga malware.
 
Fenomena ini menjadi perhatian karena semakin banyak masyarakat yang menghabiskan waktu di berbagai platform digital. Kondisi tersebut membuat ruang digital menjadi sasaran empuk bagi pelaku kejahatan siber untuk menjangkau lebih banyak korban.

Pelaku judol manfaatkan topik yang sedang viral

Pejabat perusahaan keamanan siber Kaspersky menyampaikan bahwa penyebar konten judi online (judol) memanfaatkan konten dengan topik yang sedang viral untuk menjangkau banyak pengguna internet.
 
"Judi online adalah salah satu dari banyak tema yang dieksploitasi oleh pelaku kejahatan untuk memikat pengguna agar berbagi informasi pribadi, mengunduh file berbahaya, atau melakukan transaksi keuangan," kata Country Manager Kaspersky untuk wilayah Indonesia, Defi Nofitra dilansir Antara, Selasa, 7 Juli 2026.
 
Baca juga: Komdigi Ungkap Lonjakan Promosi Judi Online Lewat Kolom Komentar Media Sosial

Selain pelaku judi daring, dia mengatakan, pelaku kejahatan siber yang lain seperti penipu daring juga memanfaatkan konten dan platform digital populer untuk menyebarkan tautan phishing, situs web palsu, dan aplikasi seluler palsu untuk menjangkau sasaran mereka.​​​​​​​

​​​​​​​Defi mengemukakan bahwa tingginya aktivitas digital masyarakat membuat Indonesia menjadi target yang menarik bagi para pelaku kejahatan siber.
 
Oleh karena itu, menurut dia, dibutuhkan upaya yang lebih luas dari pemblokiran konten guna mengatasi peningkatan ancaman kejahatan di ruang digital.
 
"Masalah ini tidak boleh dilihat semata-mata sebagai tantangan penegakan hukum. Ini sama pentingnya dengan masalah kepercayaan digital dan keamanan siber," katanya.

Literasi digital jadi benteng pertahanan

Defi menyampaikan, lingkungan digital yang lebih aman hanya dapat tercipta melalui kolaborasi yang melibatkan pemerintah, platform digital, perusahaan keamanan siber, pelaku usaha, institusi pendidikan, dan pengguna internet.
 
Ia mengatakan bahwa teknologi memang dapat membantu mendeteksi dan memblokir aktivitas berbahaya di platform digital, tetapi teknologi tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran pengguna yang memiliki literasi digital tinggi.
 
Defi menekankan pentingnya peningkatan literasi digital masyarakat dalam upaya untuk menekan risiko paparan ancaman kejahatan siber.
 
"Penjahat siber akan selalu mengikuti di mana pengguna paling aktif. Seiring terus berkembangnya platform digital, penguatan ketahanan digital, tidak hanya melalui teknologi tetapi juga melalui kesadaran, menjadi semakin penting," katanya.

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan