Ilustrasi. Foto Istimewa.
Ilustrasi. Foto Istimewa.

Petrokimia Gresik Siap Bantu Pemerintah Hadapi Krisis Pangan Dunia

Husen Miftahudin • 17 September 2022 18:37
Jakarta: Petrokimia Gresik siap memberikan dukungan penuh kepada pemerintah untuk menghadapi krisis pangan dunia, melalui sejumlah strategi yang telah disiapkan perusahaan. Hal ini disampaikan Direktur Utama Petrokimia Gresik Dwi Satriyo Annurogo di hadapan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo.
 
Mentan menyampaikan ancaman krisis pangan dunia saat ini disebabkan beberapa hal. Mulai dari covid-19 yang terjadi selama 2,5 tahun dan menjadikan semua sektor berjalan unlinear. Kemudian perubahan iklim, termasuk ketegangan kondisi geopolitik.
 
"Neraca kita saat ini cukup baik, 12 komoditi dasar kita cukup terjaga. Tapi kita tidak boleh terlalu percaya diri. Semua langkah harus dipersiapkan. Ini (ancaman krisis pangan) harus kita waspadai karena tentu saja akan beresonansi pada kita. Jangan lupa Indonesia adalah negara keempat terbesar, ada 273 juta orang yang membutuhkan pangan dan tidak bisa ditunda," ujar Syahrul dalam sebuah acara, dikutip dari keterangan tertulis, Sabtu, 17 September 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mentan menegaskan, untuk menghadapi tantangan pangan tersebut, dibutuhkan kolaborasi dan peranan aktif para stakeholder, termasuk Petrokimia Gresik yang saat ini juga memikul amanah untuk menyalurkan pupuk bersubsidi bagi petani di berbagai daerah di Indonesia. Ia mengungkapkan jika Presiden selalu mengatakan harus ada langkah extraordinary dari semua pihak untuk menghadapi tantangan ini.
 
Sementara itu, Petrokimia Gresik yang memahami perannya dalam menjaga ketahanan pangan nasional dan meningkatkan kesejahteraan petani memiliki beberapa pendekatan agar Indonesia keluar dari ancaman krisis pangan. Pertama, Dwi Satriyo menegaskan, Petrokimia Gresik memastikan produksi dan distribusi pupuk hingga petani berjalan dengan lancar.
 
"Sebagian bahan baku pupuk saat ini masih kita peroleh dari impor. Bahan baku yang sempat mengalami permasalahan adalah KCl untuk produksi pupuk NPK di awal perang kawasan Eropa. Pada kondisi normal, jumlah KCl yang diekspor adalah 41,6 juta ton setahun. Dari total tersebut 47 persen berasal dari Belarusia dan Rusia. Bisa dibayangkan jika supply dari Belarusia dan Rusia ini terganggu?" tandasnya.
 
Untuk itu, tambah Dwi Satriyo demi menjaga ketahanan pangan nasional, Petrokimia Gresik menambah supply untuk pengadaan KCl dari Kanada dengan harga yang reasonable.
 
Kedua, Petrokimia Gresik berupaya meningkatkan produktivitas pertanian melalui program Agro Solution. Program ini berupaya menciptakan ekosistem pertanian secara komprehensif, baik on farm maupun off farm, mulai dari penyediaan dana atau modal usaha yang bersinergi dengan lembaga perbankan, kemudian jaminan asuransi, ketersediaan pupuk, kawalan pengendalian hama, hingga offtaker.
 
"Dalam program ini Petrokimia Gresik mengedukasi penggunaan pupuk nonsubsidi. Dengan pengawalan yang baik, mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani," terangnya.
 
Baca juga: Dapat Tambahan Pasokan Gas, Petrokimia Gresik Genjot Produksi Urea

 
Petrokimia Gresik juga melakukan transformasi digital untuk memastikan perbaikan kinerja agar kebutuhan petani bisa tercukupi dengan baik, serta pengembangan SDM pertanian dengan menggandeng sejumlah penyelenggara pendidikan sektor pertanian. Ini merupakan langkah ketiga dan keempat Petrokimia Gresik berupaya mendukung pemerintah untuk keluar dari ancaman krisis pangan global.
 
"Petrokimia Gresik menciptakan SDM unggul pertanian dengan membuka program magang bagi mahasiswa pertanian, bekerja sama dengan tujuh Politeknik Pertanian di Indonesia untuk mendorong regenerasi di sektor pertanian," papar Dwi Satriyo.
 
Sementara, sejalan dengan program Agro Solution Petrokimia Gresik untuk peningkatan produktivitas pertanian, Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Nasional Yadi Sofyan Noor mendorong anggotanya untuk menggunakan pupuk nonsubsidi.
 
Lebih-lebih dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 10 Tahun 2022, komoditas yang berhak mendapatkan subsidi dibatasi hanya sembilan, dari sebelumnya 70 komoditas. Selain itu, subsidi pupuk juga hanya diberikan pada Urea dan Phonska saja.
 
"KTNA mendukung kebijakan subsidi pupuk. Karena fokus pangan kita ada di komoditas yang sekarang memang di situ (diatur dalam Permentan 10/2022)," urai dia.
 
(HUS)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif