Foto: dok MI.
Foto: dok MI.

Krisis Ekonomi dan Wakil Rakyat

Ekonomi Analisis Ekonomi
Media Indonesia • 04 September 2020 06:28
SECARA makro, pertumbuhan atau sebaliknya kontraksi akan menentukan apakah Indonesia akan selamat atau mengalami resesi ekonomi. Data terbaru, seperti diungkapkan Menteri Keuangan dalam rapat dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR-RI pada 1 September 2020, ekonomi Indonesia diprediksi akan bertumbuh sebesar -1,1 persen hingga 0,2 persen. Ini merupakan revisi dari sebelumnya yang mencapai -0,4 persen sampai 2,3 persen (Maret-April 2020).
 
Data lainnya, Asian Development Bank (ADB) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 dari 2,5 persen dan menjadi -1 persen. International Monetary Fund (IMF) mengubah proyeksi dari pertumbuhan sebesar 0,5 persen menjadi -0,3 persen. Bank Dunia merevisi pertumbuhan dari -3,5 persen sampai 2,1 persen pada 2020 menjadi nol persen, sedangkan Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) merevisi dari 4,8 persen menjadi -3,9 persen hingga -28 persen.
 
Apa yang dialami Indonesia ini juga terjadi di hampir 90 persen sampai 95 persen negara di dunia sehingga secara keseluruhan, ekonomi dunia akan mengalami kontraksi -3 persen pada 2020. Penyebab utama dari penurunan proyeksi ini adalah belum pulihnya kondisi perekonomian global, regional, maupun dalam negeri karena wabah covid-19.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di atas kertas, kontraksi ekonomi dinyatakan terjadi karena penurunan tingkat konsumsi rumah tangga yang diandaikan sebagai kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi. Masyarakat tidak bebas untuk beraktivitas di luar rumah karena Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sehingga aktivitas ekonomi melamban atau bahkan berhenti. Masyarakat cenderung membatasi pengeluaran dan fokus pada kesehatan, makanan, dan minuman.
 
Dua sektor utama lainnya yang berkontribusi besar, perdagangan dan manufaktur, juga mengalami perlambatan atau juga banyak yang berhenti sehingga daya serap tenaga kerja berpengaruh terhadap penghasilan dan konsumsi secara signifikan. Demikian pula dengan sektor transportasi dan pergudangan yang berkontraksi, bahkan mencapai 30,84 persen. Salah satu faktor yang bertumpuh positif adalah pertanian yang mencapai 2,19 persen serta sektor informasi dan komunikasi yang mencapai 10,88 persen.
 
Dalam situasi dan kondisi seperti ini bisa dikatakan telah di tingkat waspada atau lampu kuning, segenap pihak--penyelenggara negara, aparat sipil, militer, para pelaku ekonomi, dan masyarakat banyak--harus betul-betul kembali pada hakikat ketahanan ekonomi. Ini adalah saat keutuhan bangsa ini harus benar-benar disadari, bahwa pertumbuhan ekonomi dan kelangsungan hidup seluruh warga negara tetap bisa dijamin secara layak.
 
Aktivitas ekonomi apa pun-- oleh negara maupun swasta-- harus dipastikan ke arah kemandirian ekonomi nasional. Ini adalah saat siapa pun juga yang peduli pada negeri ini mendukung supaya Produk Domestik Bruto (PDB) kembali stabil. Belanja pemerintah, investasi, konsumsi swasta, dan selisih antara ekspor dan impor tak lagi boleh sembarangan atau 'yang penting untung' secara pribadi atau kelompok semata.
 
 
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif